Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 98


__ADS_3

Zain nampak menggandeng tangan Alika menuju keluar rumah sakit, senyum cerah jelas terlukis di wajahnya yang tampan dan dingin tanpa ekspresi itu.


Penjelasan dokter Martha membuat hatinya berbunga bunga.


Kondisi kandungan Alika memang sedikit tidak baik baik saja, itu karena keguguran yang pernah terjadi padanya hingga dua kali.


Namun keadaan kedua sang jabang bayi di dalam kandungan sang ibu amat sangat baik baik saja.


Ya....Zain sangat bahagia, karena anaknya tak hanya satu tapi dua...Alika mengandung bayi kembar.


Dan satu lagi yang membuatnya semakin berbahagia, tak ada larangan ia mengunjungi anak anaknya asalkan tidak terlalu sering dan di lakukan tidak dengan kasar alias harus lembut.


" ngapain sich senyum senyum terus dari tadi..." Alika bertanya sambil mengerutkan keningnya karena ia merasa kepo Zain terus tersenyum dari tadi ketika keduanya telah berada di dalam mobil mewah Zain yang kini di kendarai Alex.


Sementara yang Alika tahu, selama ini Zain jarang sekali menunjukkan perasaannya melalui ekspresi di wajahnya.


Pria itu memang sedingin es....bagi siapa saja orang lain selain sang istri dan keluarganya saja.


Sementara tiga orang kepercayaan tuan besar Zain mengikuti dengan mobil di belakang mereka.


Padahal senyuman adalah hal yang paling langka terlihat di wajah pria itu. Tapi masih saja sudah agak lama sejak keluar dari rumah sakit tadi, Alika masih bisa melihat senyuman di wajah Zain itu.


" ya bahagia aja yank...masa gak boleh..." jawab Zain sekenanya.


" ya boleh aja...tapi kan harus ada alasannya juga kali Zain...jangan gitu ich...aku takut liatnya kalau kamu senyum senyum terus kayak gitu..." Alika berkata sambil bergidik, tangannya terulur menyentuh pipi sang suami.

__ADS_1


" udah dari tadi juga malah senyumnya...Zainnnnn udahah...!!!" gerutu Alika pada sang suami.


Zain menangkap tangan Alika yang terulur kearah wajahnya, menggenggamnya untuk kemudian menciuminya berkali kali.


" jangan khawatir begitu...aku cukup punya alasan untuk bahagia...." jawab Zain, hatinya terasa sangat terharu menerima perhatian dari wanita yang telah tiga tahun ini tanpa terasa telah menjadi istrinya.


" mau tahu nggak.... apa alasan aku bahagia begini...?! " tanya Zain sambil mengerlingkan matanya menggoda Alika.


Seolah paham dengan maksud sang suami, Alika mencebikkan bibirnya.


" jangan bilang kalau alasannya kata kata terakhir dokter Martha tadi ?! " sergah Alika


Zain segera tertawa lebar, semalam ia memang mati matian menahannya hingga ia hampir tak bisa tidur semalaman, dan kata kata terakhir dokter Martha nyatanya memang menjadi penawar segala kegundahannya sejak semalam.


Zain dan Alika nampak tengah melangkah di tengah keramaian sebuah taman kota. Gamis syar'i Alika berkibar tertiup angin, jemarinya berada dalam genggaman erat Zaidan.


Wajah Alika yang tertutup cadar dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung dan penampilan Zain yang juga memakai kaca mata hitam dan tak kalah fashionable sungguh menjadi magnet tersendiri yang mampu menghipnotis siapa saja yang melihat keduanya.


Belum lagi seorang pria tampan berhidung mancung dan sangat kentara jika ia berdarah Timur tengah, juga kehadiran tiga orang wanita cantik yang juga mengenakan kaca mata hitam juga berpenampilan tak jauh beda dengan Alika, memakai gamis syar' i warna hitam. Hanya saja mereka tak bercadar.


Sehingga kecantikan mereka dapat di ketahui oleh banyak orang itu.


berjalan mengikuti langkah Zaidan dan Alika.


Langkah orang orang itu di abadikan banyak orang disana dengan menggunakan kamera hand phone mereka masing masing dan mengunggah ke akun sosial mereka masing masing.

__ADS_1


Zain dan Alex terlambat menyadari semua itu, satu hal yang akan mampu kembali mengguncang posisi Alika.


Zain sibuk memenuhi keinginan sang istri yang ingin membeli jajanan ini dan itu.


Hingga hari menjelang siang, Zain meminta Alika untuk makan terlebih dahulu. Ia sangat khawatir dengan keadaan Alika yang terlihat sangat memforsir tenaganya karena terlalu bersemangat menikmati jalan jalan mereka.


Sementara tadi dokter Martha mengingatkan agar Alika jangan terlalu banyak beraktifitas dulu. Keadaan janin mereka memang sehat dan baik baik saja...tapi fisik Alika tak sebaik keadaan anak anaknya.


Hal itu di karenakan ia yang telah pernah keguguran hingga dua kali sebelumnya, juga kondisi kejiwaannya yang masih mudah terguncang karena traumanya di masa lalu sangat mendalam.


Berkali kali Desy mengingatkan agar Alika lebih baik beristirahat lebih dulu, tapi wanita itu tak kunjung mau menuruti. Ia terlalu bersemangat karena sang suami ada bersamanya saat ini.


Mereka nampak masuk kedalam kedai rumah makan yang cukup sederhana. Jika Alex tak melihatnya sendiri, maka dia tak akan percaya...Zain bersedia makan di tempat seperti itu.


Alika makan dengan sangat lahap sambil menyuapi Zain....ya....makan sambil menyuapi, seperti seorang ibu yang makan dan di ganggu oleh anaknya.


Zain sama sekali tak merespon perhatian orang orang yang tertuju padanya.


Sikapnya yang masa bodoh sangat kentara di waktu seperti ini.


Sesekali ia nampak menyuapi Alika kerupuk, kemudian dirinya sendiri juga.


Ia menyuap yang lain sendiri, tapi bukan makanannya.


Entahlah....apa yang ada di otak tuan muda Al Kahfi itu. Alex hanya menggeleng gelengkan kepalanya sambil terus menyuap makanan yang ternyata cukup cocok di lidahnya meski ia tak pernah makan makanan itu sebelumnya.

__ADS_1


Sementara Alika ia pun seperti tak ambil pusing dengan sikap Zain yang manja padanya. Baginya....ini bukanlah hal yang sulit baginya.


Untuknya....Inilah satu bentuk pengabdian dan cintanya untuk sang tuan muda sekaligus ayah dari bayi yang sedang ia kandung.


__ADS_2