
Mobil Amreeta yang di kendarai Ohan nampak memasuki parkiran salah satu mall terbesar di kota mereka tinggal itu.
Ketiganya keluar dari mobil dan memasuki mall. Sepanjang langkah menyusuri mall Alika dan Amreeta berjalan dengan saling bergandengan tangan, atau kadang bergantian memeluk bahu atau lengan masing masing.
Sedang Ohan berjalan sejajar di sisi Alika, meski tak begitu dekat apalagi berpegangan tangan namun Ohan seolah menasbihkan bahwa dirinyalah pemilik gadis berhijab di sampingnya itu.
Ohan ingin menunjukkan kepemilikannya atas diri Alika pada berpasang pasang mata yang menatap Alika tak berkedip bahkan tak jarang mereka menatap sampai memutar kepala mereka, dengan perhatian perhatian kecil yang melelehkan hati siapa saja yang melihatnya.
Alika dan Amreeta nampak sangat senang, senyum dan tawa sesekali tersungging di bibir Alika dan Amreeta juga Ohan.
Hingga tubuh ketiga orang itu hilang di telan pintu bioskop. Ya..mereka memutuskan menonton bioskop, ketiga orang itu tak menyadari jika ada sepasang mata dengan tatapan iri dan tak suka sedang mengawasi setiap gerak gerik ketiganya terutama pada Alika.
dua jam telah berlalu, ketiga remaja itu telah nampak di dalam sebuah kafe dan tengah menikmati makanan mereka masing masing.
" Al...sabtu depan datang ya di acara ulang tahunku" ajak Ohan
" gak rame kok yang dateng, paling juga keluarga doang dan temen temen deket doang...mau ya..." ajak Ohan lagi
" Han....aku " Alika merasa berat untuk menolak namun ia juga merasa berat untuk mengiyakan
" ada apa ?! " tanya Ohan.
" aku nggak pernah datang ke acara seperti itu Han ..aku takut bikin kamu malu " elak Alika
" gak ada...gak ada yang bisa buat kamu malu maluin aku, aku pingin mama papa aku ketemu kamu " Ohan
" Han....tapi " Alika semakin berat mengiyakan
" plis Al...ya..." Ohan meminta dengan memohon
" udah udah...Alika pasti dateng, aku yang akan bawa datang di acara ulang tahunmu " Amreeta segera menengahi sambil mengedipkan satu matanya.
" gak usah Ret...aku dateng sendiri aja " Alika merasa tidak enak
" enggak...biar aku sendiri yang jemput kamu, gak ada penolakan " Ohan memutuskan dan Alika tak bisa lagi menolaknya.
Sedang itu di tempat lain, di sebuah tempat yang dijadikan bascame untuk berkumpulnya teman teman Ohan.
" kemana sih Ohan nggak nongol nongol " Fian
__ADS_1
" kencan...udah gak usah ditungguin " Ricko
" sok tahu..."
" beneran ini, eh di bilangin gak percaya....gue liat sendiri dia lagi kencan di mall, gue ketemu dia lagi " Ricko menegaskan sembari matanya melirik kearah Zain yang sedang berada di meja biliiard bersama Ali dan Hans.
" kencan sama siapa Ohan ?! " tanya Fian lagi
" biasa lah.."
" Alika maksud lo ?! " tegas Fian, kata kata Fian berhasil menghentikan aktifitas Zain.
Pemuda itu memang tak menghentikan kesibukannya yang tengah mengarahkan tongkat sticknya pada bola bola kecil di hadapannya, ia pun tak langsung menoleh kearah Fian dan Ricko, tapi Ricko tahu ucapannya dan ucapan Fian mempengaruhinya.
Itu dapat dilihat Ricko dari gerakan Zain yang memelan dan fokusnya yang seakan terbagi.
Senyum miring terlukis di bibir Ricko tanpa di sadari oleh siapapun yang hadir disana.
" nih....gue bawa makanan buat kalian, cobain deh...itu pizza referensi dari cewek gue. Dia suka banget sama rasa ini cobain deh..." Ohan yang baru datang segera membuka dua buah kotek besar pizza diatas meja di mana teman temannya tengah berkumpul.
" cewek lo siap Han....Alika maksud lo ?! " goda Ali dan disuiti yanga lain, teman teman Ohan yang ada di sana rata rata anak para pengusaha atau kalau tidak mereka adalah anak dari pejabat negara.
" yoi man....siapa lagi, cuma Alikalah yang pantes jadi cewek gue " Ohan menepuk dadanya kemudian di sambut tawa yang lain, namun tidak dengan Zain yang sedang minum minuman kemasan kalengan dan tengah berdiri di pinggir almari es yang memang tersedia disana. Pemuda tampan itu hanya menatap tanpa ekspresi.
Zain memang terkenal sangat dingin dan juga sangat menutup diri, namun hampir semua yang ada di sana segan sekaligus takut padanya. Kecuali Ohan yang nota bene adalah sepupunya sendiri.
Mama Ohan adalah adik kandung dari mami nya Zain.
Bukan hanya karena latar belakangnya yang merupakan putra seorang konglomerat yang membuat teman temannya segan padanya, tapi juga karena rekam jejaknya sebagai berandalan dan juga seorang pembalap liar.
" barusan kencan lu sama dia ?! " Tanya Ali ketika keduanya duduk diteras samping tempat itu sambil menggigit pizza di tangnnya. Ohan mengiyakan sambil tersenyum. Selama ini Ohan memang lebih terbuka pada Ali.
Itulah sebabnya Ali tidak suka Ricko menjelek jelekkan gadis yang di cintai sahabatnya itu.
Meski dirinya sendiri tak begitu mengenal Alika. Tapi jika mendengar setiap cerita yang di sampaikan Ohan, ia yakin Alika bukan gadis seperti yang selalu di katakan Ricko.
" berdua aja...tumben dia mau ?! " sambung Ali lagi
" mana ada...bertiga lah, mana mau dia pergi berdua saja sama aku " jawab ohan
__ADS_1
" ha ha ha....berasa kencan di ikuti body guard gitu " celoteh Ali di sela sela tawanya dan mendapat pukulan ringan dari Ohan di bahunya.
" Amreeta sudah seperti saudara untuknya, akupun menganggapnya begitu " Ohan
" ok ok...apa rencana lu kedepan, masih tetap pada rencana kamu semula ?! " tanya Ali
" tidak...aku akan menikahinya selepas kita lulusan nanti " jawab Ohan yakin membuat Ali membelalakkan matanya.
" aku ingin menjadikan dia milikku seutuhnya tanpa menghalangi impiannya " sambung Ohan lagi.
" gila lo han...kalian masih kecil, udah main nikah nikah aja, yakin dia mau ?! "
" yakin lah...gak masalah kalau soal usia, mam sama pap aku dulu juga nikah muda, aku juga gak akan membatasi dia. Kalau dia mau lanjut kuliah aku dukung seratus persen. Kalau dia mau fokus sama rumah tangga aku malah seneng kok "
" dia masih umur berapa ?! "
" dia satu tahun lebih muda dari aku Li..."
" udah kamu omongin kedia ?! " tanya Ali lagi dan di jawab Ohan dengan menggelengkan kepalanya.
" rencananya di pesta ulang tahun ku sabtu depan, aku akan ngenalin dia sama orang tua aku sekaligus ngelamar dia, Li...lu tahu, gue udah gak sabar banget pengen ngasih dia cap stempel kalau dia adalah milik gue " Ohan terdengar sangat bersemangat hingga ia tak menyadari seseorang yang mendengar ucapannya dari balik pintu.
Keluarga Ohan memang terkenal bukan keluarga yang sombong, yang terpenting bagi mereka adalah kebahagiaan dan kenyamanan anak mereka. Jadi Ali yakin jika Alika akan dapat dengan mudah mendapatkan restu orang tua Ohan.
Zain keluar dari tempat itu tanpa sepatah kata, ia segera mengendarai motor sportnya dan melaju dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Pikirannya tiba tiba kacau mendengar semua percakapan Ali dan Ohan barusan.
Ia bingung dengan yang ia rasakan, apa yang sebenarnya tengah ia rasakan kini.
Dirinya tak begitu mengenal Alika, namun kenapa ia seperti tak rela gadis itu menikah dengan sepupunya, Ohan.
Zain menghentikan laju kendaraannya di sebuah pasar malam, matanya tanpa sengaja menangkap siluet gadis yang ia kenal tengah berbincang riang dengan seorang pria.
" dasar murahan.." umpatnya sembari mengepalkan tangannya dengan erat ketika ia yakin gadis yang tengah ia lihat itu adalah Alika. Dia tidak tahu bahwa di tempat itu Alika sedang bersama Amreeta dan keluarga Amreeta. Mereka sedang mengagendakan makam malam dan mampir ke pasar malam itu.
Dan pria yang di lihat Zain bersama Alika adalah kakak Amreeta, sedang Amreeta sendiri ia tengah membeli sesuatu.
Sayangnya Zain tak tahu itu, ia telah termakan rasa cemburu dan juga omongan Ricko. Zain melajukan kendaraannya dengan sangat cepat meninggalkan tempat itu.
__ADS_1