
" kau sangat cantik Alika...sungguh aku tidak bisa menerima kebersamaan dirimu bersama pria bajingan itu.." kata Ricko dan pemuda itu mulai merangsek hendak memeluk Alika, namun karena pernah mengalami perlakuan seperti itu sebelumnya, Alika lebih waspada dan ia mampu melepaskan diri dari Ricko.
Ia menginjak kaki Ricko dengan kuat sembari mendorong tubuh Ricko kebelakang.
Ricko tersenyum miring kepada Alika, menahan geram karena penolakan Alika padanya.
" aku tidak menyangka Alika...ternyata kau juga sangat pandai bersandiwara. Kau pikir aku tidak tahu tentang hubunganmu dengan Zain di belakang Ohan " Ricko mulai mengoceh omong kosong. Omong kosong yang akan benar benar menghancurkan cinta yang baru akan bersemi di hati Alika.
Omong kosong yang mampu membangun dinding pemisah diantara dua hati hingga bertahun tahun.
Alika menatap tajam kearah Ricko.
" tahu apa kau..." dengan tatapan mata nyalang Alika mulai terpancing dengan ucapan Ricko.
" ayolah Alika, jangan menjadi munafik...kau tahu bagaimana dekatnya hubunganku dengan Zain, jadi menurutmu apa yang tidak akan Zain ceritakan padaku tentangmu.." jawab Ricko sambil terus tersenyum mengejek.
" dan jika sekarang ku katakan bahwa dia mengizinkan aku melakukan sesuatu yang pernah Zain lakukan padamu apa kau akan percaya ? " ucap Ricko lagi, ia sangat bahagia melihat raut wajah shok seorang Malayka Khumaira Rasyid.
Alika menggeleng tak percaya, hati kecilnya seakan tak mau percaya dengan ucapan Ricko. Akan tetapi ia memang sering melihat kebersamaan kedua orang itu.
" Zain itu seorang cassanova Alika...andai kau tahu itu, apa kau pikir dia hanya butuh satu orang wanita dalam hidupnya sedangkan ia memiliki segalanya. Kau terlalu naif " ucap Ricko yang telah berhasil semakin mendekat kearah Alika dan kini pemuda itu berusaha mencium gadis cantik itu.
Ricko tak memiliki cukup kemampuan seperti Zain. Alika yang telah merasa sangat hancur karena kata kata Ricko itu melawan dengan membabi buta.
__ADS_1
Ia menjambak dengan kuat rambut Ricko yang sedikit gondrong, sembari menggigit tangan pemuda itu hingga bersarah dan membuat Ricko menjerit kesakitan, kemudian ia mendorong dan menendang dengan sangat kuat tubuh Ricko hingga terjengkang kebelakang.
Dan seakan belum puas karena ia melihat Ricko yang masih bisa berdiri dan masih berniat hendak memaksanya, Alika mendekat lebih dulu kemudian ia menendang berkali kali pusat Ricko hingga tubuh pemuda itu melengkung menahan sakit. Wajahnya memucat seketika. Ricko meringkuk di sudut ruang itu. Ia tak mampu berdiri rasanya
" sialan kau Alika...aku bersumpah akan mendapatkanmu apapun caranya " umpat Ricko dengan masih meringkuk di sudut ruangan itu sambil memegangi pusar kehidupannya.
Alika meraih kerudungnya sembarangan kemudian mengenakan dengan asal untuk menutup rambutnya yang tergerai, ia berlari dengan cepat keluar kamar mandi itu.
Ia tak mampu lagi menahan sakit di hatinya. Kenapa rasanya sangat sakit...sakit sekali, inikah kenyataannya...pemuda itu hanya menjadikan dirinya sebagai permainan.
Kenapa ia merasa jauh lebih sakit dan jauh lebih hancur mendengar kenyataan itu, ketimbang malam di mana Zain merebut miliknya yang berharga.
Alika terus berlari dan berlari hingga keluar gedung sekolah, tak ia hiraukan lagi pelanggaran peraturan sekolah yang telah ia lakukan.
Alika seakan tak mengetahui arah, hingga ia berada di depan sebuah masjid Alika masuk kedalam masjid itu dan menjatuhkan tubuhnya sedemikian rupa dan menangis sejadi jadinya di sana.
Sesuatu yang mulai terasa ia rasakan di hatinya untuk seorang pria pemaksa itu, yang ia juga tak tahu apa itu. Seakan layu sebelum berasil untuk sekedar bertunas.
Sementara diarena pertandingan basket, Zain berkali kali melihat kearah tribun penonton, entah kenapa tak melihat Alika berada di sana ada kecemasan dan ketakutan yang ia rasakan.
Konsentrasinya seketik pecah, shoot yang ia tembakkan beberapa kali gagal.
Ohan mendekat kearah Zain dan menepuk pundak belakang sepupunya itu.
__ADS_1
" konsentrasi Zain...tinggal sedikit lagi, kau pasti bisa " kata Ohan menyemangati saudara sepupunya itu.
Zain menoleh kearah Ohan,
" kau ambil alih...aku pergi " kata Zain dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Ohan, namun belum sempat Ohan menanyakan lebih jelas Zain telah berlari keluar arena dan menuju kearah Amreeta duduk. Ohan mengerutkan keningnya penuh tanya kearah Zain yang kini nampak berbicara pada Amreeta.
" sejak kapan mereka kenal ?! " pikirnya
" apa aku ketunggalan sesuatu...Amreeta kah yang telah menarik perhatian Zain ?! " monolog Ohan lagi.
Namun Zain segera memimpin pertandingan menggantikan Zain. Tak ada konfirmasi dari Ohan maupun Zain kepada wasit atau pun pihak penyelenggara.
Ohan hanya memberi kode rolling dengan memutar mutar kedua tangannya kedepan dan kebelakang
" di mana dia...?! " tanya Zain kepada Amreeta, sedangkan Amreeta yang langsung di todong pertanyaan seperti itu oleh Zain kebingungan. Apalagi tidak ada sejarahnya sama sekali ia berinteraksi dengan pria bermode kulkas empat pintu itu.
" apa...siapa maksudmu ?! " tanya Amreeta balik, Zain sendiri tampak sedikit bingung. Ia memang tak pernah menyebut nama Alika dengan bibirnya.
" Alika..." jawab Zain kemudian yang segera mendapat respon terkejut juga Amreeta.
" eh.....iya, ini sudah lama kok dia belum balik ya.." kata Amreeta
" kemana dia...!!! " Zain sedikit berteriak karena gusar tak segera mendapat jawaban dari Amreeta mengenai Alika, padahal hatinya sudah kalang kabut tak karuan. Rasa khawatir, cemas dan ketakutan bercampur begitu saja menyergap hatinya.
__ADS_1
Zain terlihat sangat panik. Ia pun tak mengerti kenapa ia tiba tiba merasa seperti ini
Seakan Alika akan meninggalkannya.