Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 40


__ADS_3

Hari telah malam ketika Zain nampak memarkir mobilnya di basemant apartemen dengan sembarangan, dengan berlari ia masuk kearea apartemen.


Tanpa menekan bel Zain langsung masuk kedalam apartemennya, karena ia memang pemiliknya tentu ia bisa melakukannya dengan mudah.


" tuan muda....syukurlah.....anda sudah pulang ?! " bik Sumi nampak terkejut sekaligus senang melihat Zain datang.


" apa tadi dia keluar bik ?! " tanya Zain.


" iya tuan muda...tapi sejak pulang tadi nona tidak keluar sama sekali dari kamarnya, dia juga tidak menjawab panggilan saya...kamarnya di kunci dari dalam tuan muda, saya sangat khawatir sekali " kata bik Sumi panjang lebar.


" bawakan aku kunci lainnya bik " perintah Zain dengan wajah tak kalah khawatir dengan berlari menaiki tangga.


Berkali kali ia memanggil nama Malayka, tapi tak kunjung ada sahutan.


" cepat bik Sumi...." pinta Zain begitu melihat bik Sumi datang membawa kunci cadangan.


" cklek..." pintu terbuka dan Zain sedikit bernafas lega, namun ia kembali khawatir karena kamar sangat gelap. Alika tak menghidupkan lampu kamar sama sekali.


" klik..." lampu dinyalakan, tapi Zain tak kunjung melihat Alika.


Zain tiba tiba tremor, tubuhnya bergetar, bayangan Alika meninggalkannya sepuluh tahun lalu tercetak nyata di ingatannya.


" tidak tidal lagi Malayka....kau tidak boleh melakukan itu lagi padaku..." ocehnya dengan tubuh yang bergetar.


" tuan muda..." panggil bik Sumi mencoba menenangkan majikannya itu.


" tenanglah tuan muda...nona tidak mungkin pergi, sedari tadi saya menunggunya di bawah tangga, dia tidak keluar kamar sama sekali " kata Bik Sumi.


Zain sedikit tenang dan mulai berfikir jernih.


" sayang....kamu di mana ?! " panggil Zain halus, matanya menangkap gorden balkon yang bergerak gerak tertiup angin yang tandanya pintu balkon tak tertutup.

__ADS_1


Zain bernafas lega, ia melangkah kearah balkon...dan benar saja, di sana, di pojokan balkon di bawah lampu yang remang remang Alika nampak terduduk dengan kedua tangannya berada di belakang punggungnya.


Sungguh terlihat sangat miris, jika saja lampu balkon itu terang. Maka siapapun akan bisa melihat keadaan gadis itu yang sangat menyedihkan.


Ia bagai seonggok daging yang tak bertulang.


Persis seperti orang yang terikat dan tak mampu berbuat apa apa.


" Malayka...." panggil Zain dengan suara bergetar dan sudah akan melangkah mendekat.


Hatinya bagai teriris melihat kondisi wanita yang sangat ia cintai itu.


" jangan mendekat tuan muda.." cegah Alika dengan suara yang tak kalah bergetarnya. Zain terperangah mendengar panggilan Alika kepadanya.


Ia lebih senang mendengar Alika yang bicara padanya tanpa menyebut namanya, dari pada harus di panggil seperti barusan.


" aku tidak pernah menduga serendah apa kau menganggap diriku..." Alika berkata dengan pelan namun dapat di dengar dengan jelas oleh Zain dan juga bik Sumi yang berada di dalam kamar di samping pintu balkon.


" dengan tanpa seizinku kau jadikan aku wanita simpananmu...kau jadikan aku wanita keduamu.ha ha ha.....sungguh takdirku sangat tragis dan menyedihkan...aku tak ubahnya seperti wanita murahan " Alika tiba tiba tertawa terbahak bahak.


" tidakkah kau masih ingin menjadikan aku lebih murahan lagi...pelacur mungkin ?! " ejek Alika lagi pada Zain.


" Malayka aku...aku...." Zain tergugu mendengarnya.


" apa salahku padamu...hingga kau menghancurkan hidupku hingga tak bersisa. Apakah karena yang hanya seorang yatim piatu ini bersekolah di yayasanmu internasionalmu itu tuan muda ?! Andai kau mengatakan keberatanmu akan diriku sejak dulu...sudah pasti aku akan melepaskan beasiswa itu. Andai ku tahu aku harus membayar mahal beasiswa itu dengan masa depanku..aku pasti akan menolaknya..." jerit Alika kini


Zain sangat terkejut dengan perubahan tiba tiba Alika ini.


" Malayka...kau " suara Zain seakan tercekat di tenggorokan.


" kenapa kau tidak membunuh ku saja, kenapa....seharusnya aku mati bersama anak mu saja dulu sehingga aku tidak akan merasakan siksaanmu lagi..."

__ADS_1


Sekali lagi Zain terkejut dengan kata kata Alika barusan. Anak ?!


" kau menginginkan anak dariku bukan ?! ...ya...seharusnya kau sudah mendapatkannya sepuluh tahun lalu


 tapi sory..aku sudah membunuhnya, kau dengar ...aku sudah membunuhnya ha ha ha...." kembali Alika tertawa terbahak bahak.


Zain sudah merah padam mendengar kata kata Alika.


" kau sadar dengan yang kau ucapkan ?! " suara Zain terdengar semakin bergetar.


Bik Sumi yang mendengar semuanya meneteskan airmata sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia menyadari...Alika sedang tidak baik baik saja. Jelas gadis itu sedang depresi. Jiwanya benar benar terguncang.


" sekarang apa kau tidak ingin membalaskan dendam anakmu dengan membunuhku ?! " ejek Alika pada Zain.


" ah....aku lupa, kau seorang tuan muda ya...jelas sampah seperti ku tak pantas untuk mati di tanganmu...itu terlalu terhormat untukku, mati di tanganmu.....mimpi ha ha ha " kata Alika sembari menepuk dahinya dengan tangan kananya dan tak berhenti tertawa.


Andai lampu balkon terang, Zain akan lihat ada noda yang tertinggal di dahi Alika karena tepukan tangannya tadi.


" jangan khawatir tuan muda..aku akan memudahkan urusanmu, tidak perlu mengotori...tangan...mu dengan membunuhku atau menyiksaku ..." kata demi kata yang keluar dari mulut Alika terdengar semakin pelan dan terbata bata, ia mulai tersengal.


" apa maksudmu Maly..." tanya Zain, otaknya terus berputar di antara kata kata Alika tentang seorang anak tadi, akan tetapi ia juga merasa ada yang aneh dari gadis itu.


Kenapa tiba tiba ia tersengal sengal dan suaranya seperti timbul tenggelam.


" aku ....akan mem..bunuh diriku sendiri, agar..kau tak perlu repot...membunuhku " kata terakhir yang keluar dengan susah payah dari mulut Alika..setelahnya, gadis itu nampak terkulai. Kepalanya bersandar pada pagar balkon.


Zain berlari sembari merosotkan tubuhnya meraih tubuh Alika yang kian limbung.


Zain meraup tubuh itu, seketika itu ia merasa basah pada bagian punggung bawah Alika. Dia juga mencium bau anyir darah.


" apa ini ??!" desis Zain kemudian menyapu lantai di bawah Alika duduk dengan tangannya, betapa terkejutnya ia ketika melihat telapak tangannya telah penuh dengan darah.

__ADS_1


" Malayka..." teriaknya histeris


__ADS_2