
Bik Sumi tersenyum miris, selalu seperti itu memang...setiap kali kesehatannya terganggu. Zain akan mengisolasi dirinya sendiri.
Menutupi sakitnya dari siapapun.
Berjuang sendirian, seakan ia melarang tubuhnya untuk sakit hanya karena tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada bisnis keluarganya.
Ia sadar...di bahunya, kakeknya meletakkan tanggung jawab yang begitu besar. Ada puluhan ribu jiwa bahkan ratusan ribu jiwa mungkin menggantungkan hidup pada bisnis keluarganya.
Sementara diluar sana juga para rival bisnisnya pun tak segan menggunakan berbagai cara untuk melibas habis dirinya.
Alika berdiri dan melangkah kearah dapur.
" dia ingin makan makanan rumah bik ?! " tanya Alika sebelum melangkah kearah dapur.
" ya nona..." jawab bik Sumi kemudian.
💦
" cklek...!! "pintu ruang perawatan Zain terbuka, Alika melangkah masuk, netranya menatap miris seseorang yang terbaring sendirian di atas brankar rumah sakit.
Jika tak melihat sendiri, siapapun tak akan percaya, seorang tuan muda dari keluarga kaya raya terbaring sakit sendirian tanpa sesiapapun di sisinya menemani.
" dimana Nadira...tidakkah ia tahu suaminya sedang sakit ?! " tanya Alika dalam hati.
Tubuh itu terlihat kurus, Alika tak dapat melihat wajahnya karena dia yang menutup seperuh wajahnya dengan lengannya.
" letakkan di atas nakas saja bik...nanti akan aku makan " kata Zain pelan tanpa membuka mata.
" makanlah sekarang nanti keburu dingin " jawab Alika perlahan. Suara wanita itu seketika menyapa gendang telinga seorang Zaidan Almeer Al Kahfi.
__ADS_1
Zain segera mengangkat lengannya dan membuka mata, tapi sejenak kemudian ia kembali ke posisi semula sembari berdecak.
" ckk..." decaknya kesal, ia berpikir hanya berhalusinasi karena melihat Alika di sampingnya. Namun ketika aroma makanan yang sangat ia kenal menyapa indera penciumannya membuat ia kembali membuka matanya.
" kamu ....?! " Zain sedikit terpekik sangking terkejutnya. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa ini bukan mimpi.
Wajah yang selalu mewarnai mimpi mimpinya, suara yang sangat ia rindukan...benarkah kini berada si hadapannya.
Seorang wanita yang seakan telah menawan separuh dari jiwanya.
Malayka Khumaira Rasyid. Sang pemilik hatinya.
" kenapa...kau kecewa aku yang datang ?! Kau berharap orang lain yang datang ?! " tanya Alika tanpa melihat kearah Zain. Sementara Zain masih tak mampu menguasai keterkejutannya.
Alika duduk di kursi sebelah brankar Zain, memegang kotak berisi nasi goreng buatannya.
Ia ingat Zain sangat suka nasi goreng buatannya, karenanya ia berinisiatif membuat nasi goreng dan membawanya sendiri kepada pria itu dengan di antar pak Boris.
Kali ini bukan hanya nasi goreng yang hanya sekedar nasi goreng yang dulu pernah ia buatkan untuk Zain. Kali ini ia membuatnya sedikit berbeda karena ia membuatnya dengan rela.
Zain terus saja menatap Alika tak percaya.
Seulas senyum tipis terukir di bibir tebalnya yang seksi. Matanya tak lepas menatap lekat lekat Alika, membuat yang di tatap mati matian menenangkan hatinya.
Baru Alika sadari, dirinya yang selalu salah tingkah dan kikuk setiap kali Zain menatapnya.
Bahkan pernah ia sampai bersembunyi di tubuh Amreeta untuk menghindari tatapan mata dari seorang Zaidan.
" buka mulutmu...ayo makan, jangan melihatku seperti itu " kata Alika sembari menyodorkan sendok berisi nasi goreng kemulut Zain. Berusaha mengalihkan perhatian Zain darinya.
__ADS_1
Zain menurut, ia menerima suapan demi suapan nasi goreng dari tangan Alika hingga nasi goreng itu tandas tak bersisa.
Alika dengan sabar dan telaten menyuapi dan memberi minum pria ini.
Hatinya sungguh ingin menjerit. Zain terlihat lebih kurus, wajahnya terlihat tirus dan pucat.
" kenapa melihatku seperti itu...tidak suka aku datang kesini ?! Jangan khawatir, aku akan segera.." kata kata Alika terpotong
" tidak...aku suka, aku hanya tak percaya...ini...seperti mimpi " kata Zain sembari tangannya menarik lengan Alika, mencoba menahan gadis itu yang telah berdiri.
Takut kalau kalau Alika akan segera pergi karena salah paham dengan sikapnya.
" di sini saja...mau kemana " tahan Zain ketika Alika tetap beranjak dari tempatnya.
" aku mau cuci kotak kotor ini sebentar " jawab Alik sembari melangkah kearah wastafel.
Zain mengikuti pergerakan Alika dengan matanya. Sungguh Zain tak ingin mengalihkan pandangannya sedikitpun dari sosok wanita cantik berhijab syar'i itu.
Zain sangat bahagia, Alika peduli padanya...tapi wajahnya berubah sendu mengingat satu bulan lagi pernikahannya dengan wanita itu genap satu tahun. Dan itu artinya...
Zain...menghela nafas.
" istirahatlah..." pinta Alika sembari duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Ia sedang mengutak atik smart phonenya sedang berkirim kabar pada bik Sumi.
Alika minta tolong di bawakan pakaian karena ia ingin menemani Zaidan.
Ya...Alika memutuskan menemani Zaidan. entahlah...hatinya sangat sakit melihat pria arogant itu terbaring lemah sendirian di ranjang rumah sakit.
Sementara Zain...ia masih dibuat speecles karena melihat kehadiran Alika di sekitarnya.
__ADS_1