Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 17


__ADS_3

Zain terus menatap Alika yang kini terlihat sibuk melayani para pengunjung rumah makan, tak jarang juga pengunjung laki laki yang menatap Alika penuh pesona dan tentu saja hal itu tak luput dari pandangan mata Zain.


Pemuda tampan berdarah arab itu mati matian menahan rasa cemburu dihatinya. Wajahnya nampak merah padam, rasanya ingin sekali ia menghajar para laki laki yang baginya telah kuranga ajar karena telah berani menatap gadis yang ia cintai.


Di samping itu, ia sebenarnya juga sangat ingin menyeret dan membawa Alika pergi dari tempat itu dan hanya dirinyalah yang akan menikmati wajah cantik gadis itu.


Sementara Alika...gadis cantik itu mati matian menenangkan dirinya yang entah kenapa tiba tiba merasakan ketakutan dan entah apalagi yang kini berkecamuk dihatinya hanya karena ada Zain di sana.


Hari telah malam ketika Zain masih duduk di depan setir mobilnya sembari menatap kearah rumah makan di seberang jalan sana.


Jam di tangannya menunjukkan angka sembilan, tadi setelah mengantar Ali pulang, Zain segera memutuskan untuk kembali kerumah makan itu untuk memunggu Alika.


Dan jadilah ia hampir dua jam berada di dalam mobilnya menunggu gadis itu selesai kerja. Sebuah motor sport yang sangat di kenal Zain terlihat melipir ke arah parkiran rumah makan itu.


Jantung Zain berdetak kencang memikirkan jika kedatangan Ohan itu adalah untuk menjemput Alika. Jadi...keduanya selalu bersama tiga hari ini ?! Pikir Zain dan semakin membuatnya meradang.


Dan benar dugaannya, Beberapa menit kemudian Zain melihat Alika keluar dari rumah makan itu dan telah berganti pakaian kemudian terlihat mendekat kepada Ohan.


Tiba tiba hatinya berdesir iri, kapan giliran dirinya yang akan di temui gadis itu.


Kapan dirinya akan menjadi prioritas utama Alika.


Ohan nampak membersihkan sesuatu di pundak gadis itu kemudian memakaikan helm pada Alika.


Sungguh terlihat sangat rimantis.


Sejurus kemudian Ohan dan Alika di boncengannya nampak meninggalkan rumah makan itu.


Zain terus mengikuti di belakang motor Ohan dengan mobilnya dan masih dengan amarah yang membuncah dan telah sampai di ubun ubunnya.

__ADS_1


Ia hampir tak mampu mengendalikan diri melihat pemandangan itu. Hampir ia turun dan mengatakan yang sebenarnya kepada Ohan tentang yang telah terjadi di antara dirinya dan Alika.


Namun ternyata kewarasannya masih ada, ia sadar jika hubungannya dengan Alika terungkap sekarang bukan tidak mungkin akan banyak omongan negatif tentang gadis itu yang akan mempengaruhi penilaian keluarganya akan Alika.


Dan ia tidak mau itu, ia ingin mempersiapakan Alika sebaik mungkin di hadapan keluarganya hingga tak ada sela bagi mamy dan dadynya untuk tidak menerima Alika sebagai gadis pilihannya. Terutama sang tuan besar yang tidak lain adalah sang kakek.


Tuan besar Zain Maher Almeer Al kahfi ayah dari dadynya.


Yang sebenarnya tanpa Zain ketahui , pria tua yang masih memimpin keluarga besarnya itu telah menyiapkan jodoh untuk sang cucu laki laki satu satunya sejak kecil.


Alika memang tak terlihat melingkarkan tangannya di pinggang Ohan. Tapi tetap saja pemandangan itu membuat darah Zain mendidih.


Ohan dan Alika nampak duduk di bangku taman dan seakan terlibat pembicaraan yang sangat serius.


Terlihat Ohan menggenggam jemari Alika dan berbicara dengan begitu lembutnya kepada Malayka.


" setelah kelulusan kita nanti, aku akan membawamu kepada orang tuaku Al... " terdengar Ohan berkata pada Alika.


Alika menarik tangannya dari genggaman Ohan. Entah mengapa ada setitik rasa tak nyaman ketika Ohan menggenggam jemari itu, semacam rasa bersalah. Seperti itulah yang Alika rasakan.


"semua tidak semudah yang kau bayangkan Han...aku sama sekali tidak pantas untukmu " jawab Alika sembari menatap di kejauhan sana.


Hatinya sangat sakit sesakit sakitnya.


" bagiku tidak ada orang lain yang pantas aku nikahi selain dirimu Al....ku mohon mengertilah aku " Ohan terus meyakinkan gadis itu.


" usia kita belum pantas membicarakan hal seperti Han...." Alika berkata sembari berusaha menenangkan hatinya yang entah kenapa tiba tiba saja merasa sangat ketakutan. Seakan ia sedang berhadapan dengan Zain.


" aku hanya seorang yatim piatu Han...aku bahkan tak memiliki apapun yang akan membuatmu bangga memilikiku " Alika melanjutkan kata katanya.

__ADS_1


" omong kosong...aku akan tetap memilih dirimu apapun adanya dirimu " ucap Ohan.


" kita bahkan bukan pasangan pertama yang menikah di usia muda " lanjut Ohan lagi


" meski aku tak mampu memberimu kehormatanku sebagai seorang wanita ?" air mata mulai berderai di wajah cantik Alika.


" aku mencintai dirimu apa adanya dirimu Alika....bukan apa yang kau miliki dan apa ada padamu " Ohan seakan paham dengan yang diucapkan gadis itu.


Ohan menarik bahu Alika kedalam pelukannya. Tanpa ia ketahui tindakannya itu sungguh melukai hati seseorang begitu dalam dan menyulut kemarahan yang teramat besar yang nantinya akan berpengaruh sangat buruk pada Alika.


" aku mencintaimu Alika, dulu, sekarang dan nanti....bagiku tidak ada orang lain yang aku inginkan selain dirimu. Meski apapun yang telah terjadi padamu. Bagiku hanya kamu " kata Ohan pelan namun masih bisa di dengar oleh Zain yang duduk di belakangnya.


Ya Tuhan ini sangat sakit. Zain berbisik dalam hati.


Hatinya bagai diiris sembilu sampai sedemikian rupa.


Ia seakan tak mampu menahan bobot tubuhnya demi mendengar kata demi kata yang keluar dari kedua mulut manusia di belakangnya itu. Ia sungguh takut Alika benar benar lebih memilih bersama Ohan ketimbang takut dengan ancaman yang ia berikan.


Yang artinya...Alika akan benar benar pergi dari sisinya. Lalu mampukah ia menerimnya ? Monolog Zain dalam hati.


Hati Zain menjerit tapi tak bersuara mendengar kata kata yang keluar dari mulut Alika yang seakan tak mau mengakui keberadaannya sama sekali.


Zain terus mengikuti Alika dan Ohan. Hingga motor yang di kendarai Ohan sampai di depan asrama. Alika turun dan segera masuk kedalam gerbang setelah berpamitan dan mengucapkan terimakasih kepada Ohan.


Segera setelah Ohan terlihat meninggalkan tempat itu, Zain turun dari mobilnya dan menerobos masuk kedalam asrama.


Alika baru saja membuka pintu dan hendak masuk kedalam kamarnya ketika dengan tiba tiba Zain mendorong tubuhnya untuk masuk kedalam kamar kemudian mengunci pintu itu dan memasukkan kunci kamar itu kedalam saku celananya.


Alika terkejut dengan apa yang di lihatnya. Pemuda yang mati matian ia hindari hampir satu minggu lebih itu kini telah berada tepat di hadapannya dengan tatapan nyalang dan penuh kemarahan kearahnya.

__ADS_1


" mau apa kau....keluar dari kamarku, atau kalau tidak aku akan teriak " ancam Alika penuh kemarahan berampur rasa takut.


" berteriaklah....aku juga ingin tahu sejauh mana mereka akan percaya diriku atau dirimu " jawab Zain dengan tatapan menghunus kepada gadis di hadapannya itu.


__ADS_2