
Tengah malam Zain terbangun....ia mencari cari Alika, segara ia melompat dari tempat tidur karea tak menemukan Alika disisinya.
Padahal ia adalah tipe orang yang tidurnya perasa, ia akan terbangun jika ada sedikit saja pergerakan atau suara suara. Tapi ini....kenapa ia bisa senyenyak itu.
Ini adalah kali kedua ia tertidur tanpa menyadari adanya pergerakan di sekitarnya.
Pertama saat tertidur dan tak menyadari Alika yang tiba tiba telah meninggalkannya setelah kehormatan gadis itu ia renggut paksa.
Zain melongok kearah kamar mandi, tidak ada siapa siapa. Ia segera melangkah kearah pintu dan keluar.
Ia bernafas lega karena melihat ruang tamu yang menyala lampunya.
Segera ia mendekat. Dan benar saja Alika terlihat duduk di kursi yang posisinya membelakanginya.
Zain merengkuh bahu wanita itu meski terhalang sandaran kursi sembari mencium pucuk kepala Alika.
" sedang apa disini hmmm ?! " tanya Zain lembut, Alika mendongak sejenak kearah Zain yang posisinya kini di atasnya.
Zain meraup sejenak bibir yang tersaji di hadapannya itu. Alika berdecak sesaat.
Ada gelas berisi air putih ditangan Alika.
" sedang apa disisni ?! " tanya Zain mengulang pertanyaannya lagi. Alika menggeleng.
" tidak apa apa..." jawabnya kemudian.
" lalu...kenapa bangun?! " tanya Zain masih terus memeluk bahu Alika dari belakang sembari menggosok gosok kedua bahu itu seakan mengusir dingin yang menerpa wanitanya itu.
" hanya tidak bisa tidur saja..." jawab Alika kemudian. Ia tak dapat mengerti akan apa yang tengah ia rasakan kini. Entah kenapa ia tiba tiba merasa takut, khawatir sedih dan.....sakit yang teramat sakit di hatinya.
Seakan akan, akan ada sesuatu yang akan sangat menyakitkan yang akan ia alami.
" apa aku membuatmu tak bisa tidur ?! " tanya Zain lagi, menarik tangan Alika yang memegang gelas kearah mulutnya dan kemudian meminum air dari gelas itu.
Alika meliriknya jengah.
" ck...kau ini...." decak Alika kesal.
" kenapa ?! " tanya Zain sok polos.
" kau bisa mengambilnya di sana, ini bekasku...." omel Alika
" memang kenapa....kau istriku, kau lupa itu ?! " jawab Zain membuat Alika terdiam.
__ADS_1
Zain menarik dagu Alika agar melihatnya, sejenak keduanya saling pandang. Zain menunduk dan terus menunduk.
Bibirnya telah menguasai bibir Alika, tak ada balasan dari Alika. Zain tak mempermasalahkan itu. Tapi ia mendengar Alika mendesah tertahan.
" jangan di tahan...aku senang mendengarnya " ucap Zain setelah melepas ciumannya dan mengusap bibir Alika yang basah karena ulahnya. Alika tertunduk malu.
" kau sakit ?! " tanya Zain, kini ia telah duduk di sisi Alika dan menarik tubuh ramping itu kedalam dekapannya. Alika menggeleng.
" lalu kenapa tubuhmu bisa gemetar dan sedingin tadi ?? " tanya Zain lagi, lagi lagi Alika menggeleng kan kepalanya sebagai jawaban.
" atau kau trauma padaku ?! " lanjut Zain bertanya sembari mengerutkan keningnya.
Kali ini Alika mendongak
" mungkin..." jawab Alika pelan.
" ck.....kau ini apa apaan, sudah ku bilang kau milikku, kau tidak boleh takut padaku..." jawab Zain berdecak kesal. Kembali mencium Alika.
Kali ini ciuman Zain berbeda. Ia mencium Alika lebih dalam dan sangat lembut. Tatapan mata Zain terlihat sayu tanda ia benar benar menahan hasratnya.
Sekali lagi di tatapnya wajah cantik yang nampak pasrah saja di hadapannya itu.
" aku mau kamu, boleh ya..." kata Zain penuh hasrat. Alika menatap tak percaya pria di hadapannya itu.
Benarkah ia meminta izin padanya, tidak salah dengarkah dirinya pikir Alika.
" apa kau memberi pilihan padaku ?! " cibir Alika yang membuat Zain tertawa lebar.
Tak dapat lagi ia lukiskan rasa bahagia yang melingkupi perasaanya kini.
Zain mengangkat tubuh Alika dengan terus menciuminya.
" turunkan aku, aku bisa jalan sendiri " pinta Alika, entah kenapa ia merasa tak enak hati.
" aku tahu...tapi aku ingin melakukannya, agar kita cepat sampai di kamar..." jawab Zain.
" aku sudah tidak sanggup menahannya lagi " kali ini ia berbisik di telinga Alika sembari meniupnya hangat. Alika mengedik geli.
" lihatlah dirimu....akhirnya kau menunjukkan juga jati dirimu " omel Alika, Zain kembali tertawa.
" aku laki laki normal Maly...." jawab Zain dengan kembali meraup bibir Alika dengan dalam, lembut dan sangat menuntut. Tak ia hiraukan lagi tatapan Alika yang penuh tanda tanya akan sebutan yang Zain sebutkan barusan,
Siapa yang ia sebut tadi....aku kah ? pikir Alika penuh tanya dalam hati.
__ADS_1
Zain meletakkan tubuh wanita cantik dengan mata bulatnya itu dengan sangat hati hati ke atas tempat tidur, seakan Alika adalah barang yang sangat berharga yang mudah pecah.
Ia kembali me*****bibir tipis nan mungil Alika, berpindah kearea leher setelah ia cukup lama dan puas di bibir wanitanya itu.
Alika tak mampu lagi menahan ******* dari bibirnya, suara suara yang sangat di tahan dan sangat di benci Alika itu akhirnya lolos juga dari bibirnya.
Zain sungguh menyentuh setiap inci tubuhnya dengan sangat lembut dan sayang. Seakan Zain ingin menunjukkan bahwa ia sangat memuja tubuh itu.
Sejak pertama kali Zain menyentuhnya, Alika memang tak pernah merasakan sentuhan kasar dari pria yang kini tengah mengungkungnya itu.
Meski Zain tengah di bakar rasa cemburu dan amarah yang membara sekalipun, tetap saja sentuhannya selalu lembut di rasa Alika.
Zain bagai bayi yang kehausan, ia terus saja menye*** dan tak jarang me*****bukit kembar Alika yang sintal dan lumayan besar.
Lenguhan dan ******* Alika semakin membuat Zain bersemangat,
" aku masuk ya..." bisiknya pelan dan sangat pelan hampir tak terdengar.
" kau sangat pintar merawat diri Maly....ah....Maly, aku bisa gila kalau terus begini " racau Zain di atas Alika ketika ia telah hampir sampai pada puncaknya.
Ia mencium bibir Alika semakin dalam dan lama untuk sekedar meredam hasratnya di bawah sana, ia takut jika ia terus melanjutkannya Alika akan sangat kesakitan
Entah Bagaimana Alika merawat dirinya hingga Zain seakan merasa seperti saat pertama kali dirinya menggagahi istrinya tersebut.
Alika semakin mengerutkan keningnya, di samping menahan sakit..ia juga penasaran dengan nama yang di sebut Zain dalam racauannya.
Entah yang keberapa kali sudah Zain mencapai hasratnya dan menabur benihnya di rahim Alika berharap istrinya itu segera hamil.
Kehamilan yang sangat di harapkana Zain untuk bisa menjadi perekat antara dirinya dan Alika.
Hingga waktu telah menunjukkan angka dini hari Zain baru selesai menyelesaikan ritualnya bersama Alika.
Di hapusnya keringat yang membasahi dahi Alika di kecupnya kembali bibir dan kening itu perlahan.
" terimakasih ..." bisik Zain di telinga Alika, kemudian ia berniat menarik tubuh polos itu dalan dekapannya tapi Alika seakan menolak, wajahnya terlihat sangat muram dan masam, ia terus melihat ke lain arah dari wajah Zain.
" ada apa..?! " tanya Zain bingung dengan perubahan Alika.
Alika diam saja dengan tetap bermuka masam dan membuang pandangannya ketempat lain.
" kau marah aku memintanya berkali kali....ayolah...aku sudah tidak pernah melakukannya lagi sejak kau pergi sepuluh tahun yang lalu. Lalu sekarang...wajarlah kalau aku tak dapat lagi menahannya " jelas Zain panjang lebar berharap Alika tak lagi marah dengannya.
" lagi pula...milikmu itu benar benar...ah, aku bisa gila kalau mengingatnya " lanjut Zain sembari mengendus leher Alika dan menciumi pundak yang masih terbuka itu.
__ADS_1
Kalau sudah seperti itu...kesan dingin di wajah Zain sungguh hilang entah kemana.
Ia seperti anak ayam yang sedang memanjakan diri kepada induknya.