
Tiga hari telah berlalu, Alika telah tersadar secara penuh sejak pagi tadi. Ia juga sudah sedikit tenang meski tak jarang tatapan matanya terlihat kosong.
Zain pun memilih menemui Alika setelah Alika tertidur pulas karena efek obat.
Ia menuruti saran dokter untuk tidak menemuinya dahulu sampai gadis itu tenang setelah hari dimana Alika berteriak histeris hanya karena melihatnya.
" cklek..." pintu terbuka, Zain berdiri di ambang pintu. Matanya melihat Alika yang duduk bersandar pada bantal yang di tumpuk.
Meski tersirat kemarahan di mata Alika, tapi Zain tak lagi melihat wajah kebingungan di sana.
Alika terlihat lebih tenang.
Mata keduanya sejenak bertemu.
Dengan cepat Alika membuang pandangannya ketempat lain.
" aku sudah kenyang bik Sumi...terima kasih " kata Alika menolak suapan dari bik Sumi.
Ini sudah pukul tujuh, Zain pikir Alika sudah tidur seperti biasa. Tapi ternyata ia salah, Alika masihw terjaga. Tapi sudah kepalang tanggung, Alika sudah melihatnya....Zain akhirnya memutuskan untuk masuk, Alika harus menerima keberadaannya. Putusnya.
Ia mendekat kearah bik Sumi dan memberi isyarat kepada wanita paruh baya itu untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
" bik Sum...mau kemana ?! " tanya Alika cepat begitu merasakan pergerakan bik Sumi.
" bik Sum akan bergantian dengan ku menjaga mu " kata Zain menatap kearah Alika yang mulai terlihat ketakutan.
" tidak bik Sum...aku ikut bik sum..." rengek Alika
" biarkan bik Sum pergi...biasakan dirimu denganku, aku suamimu...kau tidak boleh takut padaku. Pergilah sekarang bik sum..." ultimatum Zain kepada dua orang wanita berbeda generasi itu.
Bik Sum segera berlalu dari sana, sebenarnya bik Sumi tidak tega meninggalkan Alika. Tapi apa boleh buat...yang di katakan tuan mudanya memang benar, Alika harus terbiasa pada suaminya kembali.
Sepeninggal bik Sumi, Alika benar benar membuang pandangannya ketempat lain. Lebih tepatnya keluar jendela sana.
" bagaimana keadaanmu...?! " tanya Zain, mencoba mencairkan suasana.
" biasa saja, hampir mati...tapi masih gagal " jawab Alika ketus, Zain terseny kecut mendengar ucapan wanita itu.
" jaga bicaramu.." omel Zain tak suka dengan kata kata Alika.
__ADS_1
" mari kita berpisah...lepaskan aku, biarkan aku mencari kehidupanku sendiri " kata Alika lagi yang sukses membuat darah Zain seperti mendidih. Matanya menatap tajam kearah Alika.
Tak dapat Alika pungkiri, ia bergidik ngeri melihat tatapan Zain itu padanya. Tapi ia nekat memberanikan diri.
" tidak akan..kita akan tetap seperti ini, kau...tetap bersamaku, bahkan jika setelah kematianmu sekalipun...kau akan tetap bersamaku " jawab Zain santai tapi tegas.
" tetap bersamaku apapun yang terjadi, jika kau berani mengulangi perbuatanmu ini lagi...aku pastikan semua saudaramu di panti akan ikut merasakan kemarahanku...jangan main main denganku " sambung Zain, ia terpaksa mengatakan itu, ia khawatir Alika akan melakukan hal yang sama lagi nanti.
Alika menatap nanar kearah Zain.
" belum pernah aku membenci seseorang seperti aku membencimu saat ini. Aku sangat membencimu tuan muda " bentak Alika
" aku tidak peduli.." jawab Zain, sebenarnya hatinya perih mendengar kata kata Alika itu. Tapi apa boleh buat.
" dan satu lagi...mengenai anakku yang kau bunuh, kau harus tetap bertanggung jawab. Kau harus segera memberiku anak sebagai gantinya " kata Zain sambil mengelus perut Alika yang terlihat datar.
Dengan kasar Alika menepis tangan Zain itu.
" bajingan..." umpat Alika, namun Zain hanya menyeringai saja.
Kemudian Zain sedikit menunduk dan mencium kening Alika. Cukup lama tanpa menghiraukan penolakan dari Alika.
" cihhh..." decih Alika kesal.
" tidurlah...aku akan menjagamu di sini " kata Zain sembari melangkah kearah sofa.
Tempat ia selama tiga hari ini melepaskan lelahnya sembari menemani Alika meski tanpa sepengetahuan istrinya itu.
Alika menahan amarah di dalam hatinya tanpa bisa berbuat apa apa.
🌺🌺🌺🌺🌺
Satu minggu telah berlalu sejak kepulangan Zain membawa Alika pulang dari rumah sakit. Ia semakin menambah pengawasan pada istrinya itu.
Ia tidak ingin kecolongan lagi yang akan semakin berdampak buruk pada kejiwaan Alika. Selain bik Sumi dan bik Anti ada dua orang lagi pria yang selalu harus siap menjaga Alika.
Sementara di dalam setiap ruangan di apartemennya itu, ia memasang cctv. Terutama di dalam kamarnya...ia bahkan memasang di setiap sudutnya.
semua cctv itu terhubung langsung dengan smart phonenya.
__ADS_1
Setiap berada jauh dari Alika ia akan selalu memantau istrinya sirinya itu dengan hand phonenya.
" cklek..." pukul tujuh Zain masuk ke dalam kamarnya setelah seharian bekerja.
Alika duduk dengan melipat kedua lututnya di atas sofa kamar itu. Rambutnya yang hitam panjang dan lurus tergerai dan tampak begitu mengkilat terkena pancaran cahaya lampu.
Ia menatap kearah luar seakan tak menyadari kehadiran seseorang.
Alika semakin berubah. Tak ada lagi senyum tersungging di bibirnya seperti dulu.
Tak ada lagi lukisan keceriaan di wajahnya.
Diam dan tanpa ekspresi. itulah Alika sekarang.
Zain bukannya tak menyadari itu semua. ia sadar semua perubahan pada Alika....tapi ia bisa apa, sedang dirinya pun kini juga semakin gila.
Ia semakin dingin dan tak tersentuh. Hanya Alika tempatnya menggantungkan masa depannya. Berharap segera mendapat seorang anak dari istri sirinya sebelum tempo waktu yang di berikan sang kakek kepadanya habis.
" kau sudah makan..." tanya Zain setelah ia duduk di sisi gadis itu dengan posisi yang sangat dekat hingga tak berjarak.
" hmm..." jawab Alika tanpa menoleh kepadanya.
Zain memeluk tubuh ringkih itu, menghirup aroma wangi tubuh wanita yang telah menjadi candunya itu.
" cepatlah hamil....beri aku seorang anak darimu " bisik Zain di telinga Alika.
" maafkan aku...aku tahu kau marah padaku, tapi....jika aku katakan.....aku melakukannya karena aku ingin memilikimu apa kau akan percaya ?! " tambahnya lagi.
Alika hanya terdiam.
" aku ingin kamu..." bisik Zain lagi.
Lagi lagi Alika hanya diam. Zain mencium setiap inci wajah Alika.
" bersihkan dirimu..." satu kata terucap dari bibir Alika yang membuat Zain mendongak menatapnya.
" beri aku satu ciuman...aku akan menuruti perintah darimu " manja Zain. Ia senang bukan main..Ini pertama kalinya Alika bersuara padanya paskah kepulangannya dari rumah sakit.
Alika menolehkan wajahnya kepada pria di sampingnya itu. Matanya terlihat sendu...dan wajahnya jangan di tanya lagi.
__ADS_1
" cup..." Alika melabuhkan sebuah ciuman di pipi Zain.