
Zain nampak berdiri sambil membimbing Alika.
" mamy..aku akan membawa istriku kedalam...sepertinya dia sudah sangat kelelahan " pamitnya pada sang ibu.
" ah iya...bawa dia untuk istirahat Zain " jawab nyonya Almayra.
" istirahatlah sayang..." kata Almayra kemudian dengan lembut kepada Alika sembari mengusap pipi Alika yang nampak kemerahan dan terlihat sangat menggemaskan.
Alika menganggguk tersenyum kemudian nampak menoleh kepada sang kakek dan mertua laki lakinya.
Kedua orang pria itu pun mengangguk mengiyakan.
" permisi semua...maaf saya pamit dulu " pamit Alika sopan dengan tangannya berpegangan pada tangan Zain yang memeganginya.
Gerakan tangan Alika itu sungguh tak luput dari pandangan mata seorang Zubair. Mata pria itu menatap nanar pada Alika terutama pergerakan tangan wanita hamil itu pada sang suami.
Dan tanpa Zubair sadari, setiap tingkahnya dan tatapan matanya kepada Alika tak lepas dari pantauan seorang Zaidan.
" tunggu nona Alika..." suara nyonya Zainab menghentikan langkah Alika dan Zaidan.
" Almayra..boleh q memeluk menantumu sebentar....!? " kata nyonya Zainab meminta izin kepada ibunda Zaidan itu, membuat Alika terperangah.
" silahkan Zainab..." Almayra mempersilahkan dengan wajah ramah sembari tersenyum.
Nyonya Zainab maju mendekati Alika.
" maaf nyonya...saya berkeringat " Alika sungguh merasa sungkan dan tak enak hati.
" tak apa sayang...." jawab Zainab, sejenak matanya melihat kearah Nadira, dan seolah paham maksud sang ibu. Nadira tersenyum mengganguk.
Nadira paham apa yang di rasakan oleh sang ibu pada Alika. Sama seperti yang ia rasakan dulu.
Ia terpesona dan dapat merasakan kebaikan dan ketulusan seorang Malayka Khumaira Rasyid.
" kemarilah..." kata nyonya Zainab lagi, ia lebih maju lagi kemudian memeluk Alika dengan erat.
Zain sedikit minggir kesamping membiarkan mantan ibu mertuanya itu memeluk istrinya.
Pemandangan antara nyonya Zainab yang tengah memeluk Alika serta mengusap punggungnya di artikan berbeda oleh seorang Zubair.
Interaksi antara kedua wanita cantik berbeda generasi itu bagai angin segar yang membuatnya yakin melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Sekaligus memutuskan untuk mengambil keputusan selanjutnya untuk hidup dan masa depannya.
" bersabarlah amma...aku pasti akan membawa wanita yang kau inginkan itu sebagai menantumu " bisik hati Zubair penuh keyakinan.
Seulas senyum tersungging di bibirnya,
" apa yang kau pikirkan.." bisik Abdullah di telinga Zubair dan seketika membuat pria berhidung mancung itu reflek menoleh kearah sang kakak.
" tidak ada.." jawabnya kemudian dengan cepat dan segera membuang pandangannya kearah lain.
Sementara Zainab nampak mengurai pelukannya pada Alika.
" tetaplah sehat dan berbahagia..." katanya kemudian yang sarat dengan doa tulus ia ucapkan untuk wanita hamil itu.
__ADS_1
" terimakasih nyonya...terimakasih " jawab Alika dengan mata berkaca kaca, ia sangat terharu sekaligus lega...ternyata ibu dari Nadira itu tak menyimpan kebencian kepada dirinya.
Zain melanjutkan niatnya membawa Alika segera masuk kedalam menuju kamarnya.
" cklek..." pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok Alika dengan perut besarnya telah memakai gamis rumahannya yang berwarna coklat susu dan sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih,
Handuk putih nampak membungkus rambutnya.
Zain yang tengkurap di atas tempat tidurnya di buat tak berkedip melihatnya.
Selalu seperti itu, ia selalu di buat semakin terpana dan terpesona dengan Alika setiap kali wanita itu habis mandi dan wajahnya polos tanpa make up.
Kecantikan natural seorang Alika yang mampu membuat Zaidan seakan rela meninggalkan dunianya demi wanita itu.
" ada apa...kenapa melihatku seperti itu ?! " tanya Alika pada sang suami yang terus saja menatapnya tak berkedip.
Zain beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah mendekat kepada istrinya itu. Tangannya terulur mengusap lembut pipi Alika.
" kenapa kau bisa sangat secantik ini....kau benar benar membuat gila dan lupa diri Maly..." desis Zain pelan.
" aku tak rela kecantikan ini juga di nikmati selain aku, aku tak suka dia selalu memperhatikanmu..." lanjut Zain sambil menyatukan keningnya dengan kening Alika.
Perlahan Zain mengecup lembut bibir Alika, mengusap bibir tipis dan mungil itu dengan jemarinya.
Pria itu nampak membimbing sang istri duduk di sisi pembaringan. Melepaskan handuk yang membungkus rambut panjang Alika. kemudian ia mengambil pengering rambut dan mengeringkan rambut wanita hamil itu dengan sangat telaten.
Satu hal yang sering ia lakukan sejak mereka bersama dalam ikatan tali pernikahan.
" aku sangat tidak suka Zubair selalu saja memperhatikan mu..." Zain masih berkeras dengan kejengkelannya pada Zubair.
" kenapa bertanya seperti itu, kau bukan hanya menarik perhatianku...tapi kau juga membuatku terikat padamu " jawab Zain serius.
Alika tersenyum
" cup.." ia mengecup sekilas bibir Zain kemudian kedua tangannya melingkar di pinggang pria tampan itu.
" aku tidak menginginkan orang lain memperhatikanku...aku hanya menginginkan perhatianmu padaku, hanya perhatianmu..." kata Alika di sela sela pelukannya pada Zain.
Zain tak mampu lagi menahan hasratnya, ia berjongkok di hadapan Alika, mengusap dan mengecup lembut perut Alika yang masih terbungkus gamis.
" sayangnya papa....papa boleh jenguk ya....cup cup.." berkali kali Zain mengecup perut itu.
Kemudian ia bangkit dan beralih melabuhkan ciumannya pada bibir sang istri.
Me***** dan men*** lembut bibir itu, semakin lama dan semakin dalam. Alika menerima dan tak lupa membalas ****** sang suami.
Keduanya kembali mengarungi kenikmatan dunia bersama dan penuh cinta.
Alika menyerahkan semua hati dan cintanya kepada Zain sepenuhnya.
Tak ada lagi keraguan atau sakit hati di hatinya untuk pria yang sempat ia cap sebagai pria pemaksa itu.
Apalagi setelah Zain melegalkan pernikahan keduanya di mata hukum dan negara, Alika semakin tunduk dan mengabdikan segenap hidupnya untuk sang suami.
💦
__ADS_1
Zain telah nampak rapi dan segar setelah hampir dua jam ia menemani Alika tertidur di siang hari tadi.
Sementara Alika ia biarkan masih tertidur.
Rencananya ia akan kekantor sebentar karena telepn dari Alex tadi.
Pria itu nampak membenarkan selimut sang istri dan mengecup kening wanita itu.
Alika terbangun, ia sedikit mengerutkan keningnya melihat sang suami telah rapi dan siap dengan pakaian kantornya.
" mau kemana...?! " tanya Alika terkejut.
" kenapa tak bangunkan aku ?! " lanjutnya dengan bibir mengerucut.
" tak apa...kamu pasti lelah karena meladeni aku tadi ya kan....tidurlah lagi, aku akan ke kantor sebentar " pamit Zain sambil mengecup gemas bibir yang mengerucut itu.
" Zain...aku..." Alika sedikit merengek.
" iya aku tahu...kau tak terbiasa berada di sini bukan ?! Hanya sebentar...aku segera kembali, kalau aku mengajakmu, pasti kakek dan mamy akan melarang " Zain paham benar yang di khawatirkan sang istri.
Alika beranjak dari tidurnya.
" mau kemana...tidur saja, tidak usah mengantarku sayang.." cegah Zain
" emmm....gak mau, aku mau ngater kamu sampe pintu kamar aja " jawab Alika sembari menggeleng gelengkan kepalanya.
Zain tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Alika kemudian memasangkan kerudungnya.
Sesampainya di pintu kamar Zain kembali mencium kening Alika.
" sudah..lanjutkan tidurmu, aku akan segera kembali " kata Zain sambil mengecup bibir Alika, dan wanita itu nampak tersenyum sambil mengangguk.
" hati hati..cepat kembali, aku menunggumu..." kata Alika melepas kepergian Zain.
Baru saja Alika hendak memutar tubuhnya untuk kembali masuk ke kamar karena Zain yang tak lagi terlihat. Sebuah suara menghentikan langkahnya.
" nona Alika..." panggil suara itu.
Alika menoleh dengan reflek.
" ya tuan Zubair..selamat siang " sapanya kemudian kepada Zubair.
Zubair semakin mendekat kepada wanita itu, ia sungguh semakin terpesona melihat wajah Alika yang seperti orang khas bangun tidur, dan itu semakin menarik perhatiannya.
Alika mengerutkan keningnya ketika melihat Zubair terus melangkah mendekat kepadanya.
" berhenti tuan...jaga batasan anda " Alika menghentikan langkah pria itu.
" ada yang ingin aku katakan padamu nona...kau ingat perbincangan kita waktu itu belum selesai " kata Zubair membuat Alika kembali mengerutkan keningnya.
" perbincangan tentang apa ?! " tanya Alika bingung.
" apa kau yakin kalau anak yang kau kandung itu adalah anak Zain.... ?! Sementara kau pernah bersamaku waktu itu ?! " kata Zubair dengan wajah serius dan percaya diri.
Sontak Alika membulatkan matanya seketika.....
__ADS_1