Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 52


__ADS_3

Pintu ruang perawatan Alika terbuka, seorang dokter wanita dan perawat wanita nampak masuk. Bersamaan dengan itu, Zain juga ikut masuk...ia baru saja datang dan melihat dokter jaga masuk ruang perawatan istrinya.


" permisi nona ..waktunya pemeriksaan rutin " izin sang dokter dengan tersenyum ramah.


Alika membalas dengan senyuman, sejenak senyumnya sedikit menipis berganti dengan kening yang mengerut karena melihat seorang pria di belakang sana sedang bersedekap dada memperhatikan proses pemeriksaan terhadap Alika dengan seksama.


Entah mengapa Alika melihat Zain sedikit kurus dan pucat.


Ia menggeleng pelan...mungkin efek lama tidak bertemu, pikirnya.


" alhamdulillah nona...semua sudah kembali normal, insyaAllah besok sudah boleh pulang. jangan terlalu banyak pikiran yan nona....kasian suaminya, nanti tambah lama puasanya " goda sang dokter menggosa Alika sembari mengerlingkan matanya.


Alika tersenyum malu...


Selesai melakukan pemeriksaan dokter dan perawatnya pun keluar ruangan. Zain melangkah mendekat kearah Alika setelah sebelumnya menjawab pamitan sopan dokter tadi dan perawatnya.


Bik Sumi dan bik Anti pun mohon pamit juga, Alika tak melarang dan mengiyakan saja. Ia tak ingin berdebat.


Sepeninggal bik Sumi dan bik Anti Zain duduk di sisi brankar Alika, sementara Alika mengalihkan pandangannya keluar ruangan.


" bagaimana keadaanmu...?! " tanya Zain lembut kepada Alika sembari terus memperhatikan wajah Alika, meski wanita itu tak melihat kearahnya. Ia sangat merindukan wajah itu. Hampir dua bulan mereka tak bertemu.


" seperti yang kau dengar sendiri tadi, aku sudah baik baik saja..." jawab Alika dengan tetap melihat kearah luar jendela.


Zain melihat piring di atas nakas kemudian mengambilnya dan hendak menyuapi Alika


" sini...biar aku makan sendiri " pinta Alika sembari berusaha untuk duduk.


Zain membantu menata bantal untuk di jadika Alika sandaran kemudian tanpa berdebat ia memberikan piring kepada Alika.


Alika mulai menyuap makanannya dengan terus di perhatikan oleh Zain di hadapannya


" apa rasanya sangat enak...kau seperti sangat menikmatinya.." tanya Zain sembari sesekali membersihkan ujung bibir Alika yang sedikit belepotan dengan jemarinya.


" makanan rumah sakit mana ada yang enak, aku hanya sedang berusaha mensyukuri rezeki ku " jawab Alika lagi, tak ada lagi suara naik satu oktaf atau tatapan kebencian dan kemarahan.


Zain tersenyum dan memajukan wajahnya kepada Alika dan


" cup..." Zain mencium sekilas bibir mungil nan tipis itu.

__ADS_1


" mau aku belikan di luar..?! " tawar Zain lembut dengan terus mengelus pipi Alika.


Alika menggeleng


wanita cantik berusia 29 tahun itu tetap melanjutkan aktifitas makannya, wajahnya hanya datar saja.


Alika tak lagi berwajah jutek dan bersuara sedikit keras pada Zain.


Entah mengapa perlakuan kedua orang tua Zain padanya beberapa waktu yang lalu membuat ia segan untuk bersikap buruk pada Zain.


Selesai menunggui Alika makan dan memberi Alika obat, Zain kembali membantu Alika membenarkan letak bantalnya untuk tidur.


Menyelimutinya hingga dada kemudian ia ikut berbaring di sisi wanita itu.


Perlahan menarik tubuh Alika yang membelakanginya agar lebih menempel padanya.


" belum boleh ya... ?! " bisiknya di telinga Alika dan di jawab dengan gelengan oleh wanita itu.


Zain membalik tubuh Alika untuk menghadap kepadanya, setelahnya ia mengecup perlahan wajah Alika dan sedikit lama di bibirnya.


Puas dengan area wajah Zain melorotkan tubuhnya sendiri hingga kini wajahnya berada tepat di depan dada Alika.


" aku tahu ...." jawab Zain sembari membuka kancing piyama tidur Alika kemudian membenamkan wajahnya di sana.


Betapa ia merasa nyaman dan rilex hanya dengan mencium aroma tubuh Alika.


Cukup lama Zain berada di posisi seperti itu hingga membuat Alika mati matian menahan suara yang hendak keluar dari bibirnya.


Zain yang terus mengulum bahkan tak jarang menghisap membuat hati dan perasaan Alika jungkir balik.


Hingga dengkuran halus Zain terdengar, Alika dapat bernafas Lega.


Alika menatap cukup lama kepala Zain yang menempel di dadanya.


Bayang bayang Zain di masa lalu terlintas jelas di matanya, Zain yang tak pernah ramah dan selalu memasang wajah dingin di sekolah.


Zain yang setiap langkahnya mampu menghipnotis semua kaum hawa yang melihatnya.


Nyatanya kini...pria idaman banyak wanita dengan sejuta pesona serta sikap dinginnya itu meringkuk di dalam pelukannya.

__ADS_1


Tak berapa lama Alika pun turut tertidur. Hingga pagi menjelang.


Pagi menjelang siang...sebuah mobil mewah melaju pelan di jalanan ibu kota.


Alika telah di perbolehkan pulang, bik Sumi di jemput pak Boris dengan membawa semua keperluan Alika saat di rawat hampir satu minggu lebih di rumah sakit.


Saat ini kedua suami istri yang masih menikah siri itu tengah berada di dalam mobil mewah itu, menembus kepadatan jalan raya dan teriknya sinar matahari.


Alika mentap lurus kedepan, meski ia tak lagi berkata jutek kepada Zain, tapi ia juga tak berkata lembut kepada pria pemaksa itu.


" mau kemana ?? " tanya Alika setelah menyadari jalan yang mereka lalui bukan jalan menuju apartemen mereka.


" pulang ..." jawab Zain santai sembari sedikit melempar senyum kepada Alika meski tak mendapat sambutan dari wanita itu.


Alika hanya mengehela nafas, ia tak ingin lagi banyak bicara apalagi berdebat


jelas jelas ini bukan jalan ke apartemen Zain. Pikirnya.



Tak berapa lama mobil itu memasuki pagar tinggi setelah seorang satpam membukakan pintu.


Sebuah rumah mewah berlantai dua berdesaian rumah kaca minimalis yang menampakkan segala perabotan di dalamnya terpampang jelas di hadapan Alika.


wanita itu sedikit ternganga, keduanya kini masih berada di dalam mobil.


" rumah siapa ini ?! " tanyanya kemudian pada Zain setelah mampu mengusai kesadarannya.


" rumah kita..." jawab Zain, membuat Alika menoleh menatap kepadanya denga kening yang mengerut penuh tanya.


" rumahmu...ini rumahmu " Zain meralat kata katanya karena mendapat tatapan Alika.


Tapi sungguh bukan jawaban seperti itu yang di harapkan Alika, Alika segera membuang pandangannya ke tempat lain


" aku tidak punya cukup uang untuk membeli rumah mewah seperti ini...." jawab Alika.


" bukankah rumah seperti ini.... berdesain kaca minimalis dan memperlihatkan isi perabot di dalamnya adalah impianmu ?! " jawab Zain


" kau ingin rumahmu terlihat wellcame untuk siapa saja tamu yang ingin bertamu kerumahmu bukan ?!!" tambah Zain,

__ADS_1


seketika jawaban Zain membuat Alika menoleh kearah Zain dan menatap cukup lama wajah pria yang hampir setengah dari waktunya itu selalu memaksanya.


__ADS_2