
Zain di minta menyampaikan kata kata sambutan setelah dirinya dinyatakan resmi sebagai pengusaha muda paling berpengaruh dan juga pebisnis muda yang handal.
Dengan di dampingi Nadira menyampaikan kata demi kata, tak luput ia ucapkan terimakasih sebesar besarnya pada seseorang yang tak bisa ia sebutkan.
Hati Alika sungguh miris menyaksikan sendiri bagaimana mata Zain terus terpaku pada dirinya seolah memastikan bahwa Alika tetap berada di dalam jangkauannya.
Kata demi kata selesai Zain ucapkan, kini ia mempersilahkan para tamu menikmati makanan dan pestanya.
Tanpa menghiraukan Nadira yang berada di sisinya, Zain segera turun kebawah podium berharap langsung bisa menemui Alika.
Namun sayang itu tak bisa terlaksana, ramah tamah dan juga berbagai rentetan acara hanya bisa membuatnya melihat Alika dari jauh.
Sementara Alika, melihag Zain sedang beramah tamah dengan para rekan rekan bisnisnya, ia memilih melipir kearah makanan.
Alika mengambil segelas air dingin yang di campur buah ketika tiba tiba Nadira telah berada di sampingnya.
Nadira mengambi sesuatu yang sama dengan Alika.
" nona..." sapa Alika, Nadira tersenyum kecut kepadanya.
" tidakkah semua yang kau lihat tadi membuatmu sadar diri....dia yang ingin kau gapai memiliki seseorang yang jauh lebih berharga darimu...?? " begitu menusuk kalimat yang terucap dari bibir Nadira kepada Alika
Alika terdiam membisu.
" tidakkah kau merasa bagai pungguk yang merindukan bulan...sadarlah nona Alika, saat ini Zain hanya sedang tergoda olehmu, tapi yakinlah....sejauh jauh burung terbang, dia akan tetap pulang kesarangnya. Aku adalah sarang Zain yang sebenarnya....ini hanya perkara waktu..." sambung Nadira
" nona...kita mempunyai tanggung jawab dan pengabdian terhadap orang yang sama, aku rasa anda tidak sepantasnya berkata seperti itu.." Alika berusaha berkata dengan lembut.
" sepertinya kau belum paham juga nona Alika...jika aku menjadi dirimu, tak akan aku sia siakan diriku hanya untuk suami orang. Entah jika kau memang terbiasa dengan mengambil milik orang lain..." jawab Nadira masih dengan ketusnya.
Alika menghela nafas berat.
" dia juga suamiki nona..." Alika mengucapkan kata kata itu juga pada akhirnya.
__ADS_1
" bukan aku yang meminta dia untuk bersamaku, aku sudah pernah mengatakan padamu...jika kau mampu membuatku pergi tanpa dia bisa menemukannku kembali, maka aku akan ikuti kemauanmu....tapi kau sendiri yang tak merealisasikan ucapanmu...." kata kata Alika terdengar tegas hingga membuat Nadira menoleh kearahnya juga Alex dan beberapa orang yang sedari tadi tanpa sepengetahuan Alika terus membersamainya.
" aku sudah merelakan untuk diriku hanya menjadi yang kedua...aku bahkan sudah ikhlas dengan kehidupanku di masa depan jika suatu hari nanti dia lebih memilih dirimu di banding aku...jadi sekarang terserah bagaimana kau memandang diriku atau siapa aku bagimu...itu tidak penting lagi bagiku...." Alika semakin menekan kata katanya.
" yang terpenting bagiku kini adalah kelangsungan hidup suamiku, jika kehadiranku di butuhkan untuk kelangsungan hidupnya...aku rela terus berada disisinya meski dunia tak mengakui keberadaanku sekalipun..."
" kau mengajarkan aku tentang pengorbanan ?! " Nadira balik bertanya.
" terserah bagaimana anda mengartikan kata kata saya....itu urusan anda " jawab Alika dengan tegas, ia merasa jengah dengan sikap Nadira yang terus saja memojokkan dirinya.
Nadira menatap lekat lekat wajah bercadar di hadapannya itu.
Sesaat kemudian, senyum lebar tersungging di bibir Nadira. Senyum yang penuh dengan kesan cibiran dan merendahkan.
Namun..sebenarnya, percayalah.... jauh di lubuk hati Nadira ia sangat iri dengan sosok Alika, ia menyadari betapa wanita di hadapannya itu sangat pantas untuk menerima sebuah cinta yang besar.
Alika sosok yang sangat sopan, lembut dan juga tegas. Ia konsisten dengan apa yang telah menjadi prinsip dan pilihannya.
Wanita yang setia dengan segala kesempurnaan yang dimilikinya.
Sebuah kalimat yang tanpa sengaja ia ucapkan untuk sekedar menghibur hatinya.
Sumpah demi apapun, Alex yang turut mendengar kata kata itu di buat geram bukan main.
Sementara Alika, ia tersenyum penuh arti. Dari pancaran matanya terlihat tetap tenang, tak ada sedikitpun riak riak amarah di sana.
" jangan menyia nyiakan waktu berharga anda hanya dengan bicara kepada yatim piatu miskin ini nona....." kata Alika dengan tenang.
Nadira kembali menatap Alika, sejenak keduanya saling pandang. Jujur Nadira tercubit dengan kata kata Alika.
Sebenarnya ia bukanlah tipe orang yang suka mendiskriminasi seseorang menurut golongan sosialnya. Tapi entahlah...cemburu seakan telah mengalahkan akal sehatnya.
" perhatikan kata kata ku nona Alika....jika kau menerima dirimu meski hanya menjadi yang kedua, tapi berbeda denganku...aku tak ingin berbagi Zain dengan siapapun..." tekan Nadira sebelum menutuskan melangkah pergi meninggalkan Alika yang masih terdiam di tempatnya.
__ADS_1
" kenapa ia harus terjebak dalam hubungan serumit ini " desis Alika tertahan.
Ia melangkahkan kakinya menuju area yang sedikit sepi...ia menatap jauh ke atas sana. Menatap hamparan langit yang berhias bintang.
Bukan kata kata Nadira yang membuat hatinya gundah...tapi kata kata Ricko.
apakah ia sudah salah mengambil keputusan....
Benarkah kehadirannya hanya akan merintangi langkah Zain...
Mampukah ia dan Zain meredam skandal yang mungkin saja akan tersebar, dan mampukah Zain menyelamatkan mereka mereka yang akan menjadi korban dari skandal itu.
Seorang pewaris perusahaan besar, memiliki istri simpanan....Alika menggeleng perlahan.
" apakah kau sudah paham dengan posisimu sekarang nona.... ?! " sebuah sura beriton tiba tiba mengejutkan Alika. Seketika Alika menoleh kearah sumber suara.
Seorang pria berpakaian serba hitam, dan bermantel hitam berdiri di sisinya. Wajahnya sangat tampan, jika di lihat dari garis wajahnya...pria itu memiliki darah campuran timur tengah dan India.
Rambut rambut halus di wajahnya semakin melukiskan garis garis ketampanannya. Tangannya pun memakai sarung tangan warna senada dengan pakaiannya.
Perlahan pria itu mendekat kearah Alika.
" siapa anda....apa mau anda, jangan mendekat...!! " Alika mulai gemetar, jarak keduanya yang mulai dekat membuat tubuh Alika cepat bereaksi...
Ia mulai merasakan sakit yang teramat perih, tubuhnya seakan diiris dengan menggunakan silet yang teramat tajam.
Ngilu...perih, dan tak mampu lagi ia lukiskan rasa sakitnya dengan kata kata.
Pria itu menatap tajam kearah Alika, ia sedikit mengerutkan keningnya melihat gemetar tak biasa dari tubuh Alika.
Bersamaan dengan itu hembusan angin besar menerpa wajah Alika dan menyibak cadar Alika hingga terlepas.
Pria itu terdiam sejenak di tempatnya, ia takjub luar biasa akan penampakan kuasa Illahi di hadapannya kini.
__ADS_1
Wajah cantik luar biasa seakan menghilangkan kewarasannya.
" aku menginginkan mu..." desis pria itu kemudian