Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 110


__ADS_3

Hari telah malam ketika Zain masuk kedalam kamarnya, ia sedikit terkejut karena tadi ketika ia datang nyonya Almayra sang ibu mengatakan Alika tak keluar kamar sejak tadi.


Dan sekarang....keadaan di dalam kamarnya nampak gelap, lampu tak di hidupkan oleh Alika.


" sayang.....!! " panggil Zain sambil kemudian meraba raba dinding dan akhirnya ia menekan saklar lampu dan kamar terlihat terang.


Zain terbelalak ketika melihat Alika duduk di lantai dengan kepala terbaring di atas ranjang.


" tutup pintunya Zain...!! " pinta Alika dengan suara pelan.


Zain menurut, ia kembali melangkah kearah pintu dan menutup pintu itu.


Setelahnya ia kembali mendekat kearah Alika, ia mengangkat tubuh itu dan menidurkannya dengan pelan dan hati hati keatas pembaringan.


Zain mengerutkan keningnya....ia sedikit bingung, kenapa Alika terlihat kacau dan aneh. Apakah ini termasuk bawaan lahir ?! Tanya Zain dalam hati.


" ada apa sayang...kenapa duduk di lantai seperti tadi, ada yang sakit ?? " tanya Zain lembut sambil memeluk tubuh sang istri dan mengecup lembut kening wanita hamil itu.


Alika terdiam tak menjawab.


" kenapa tak keluar kamar sama sekali, kata mamy.....kakek mencarimu sejak tadi, tapi ia takut hendak memanggilmu ?! " tanya Zain


" aku menunggumu..." jawab Alika masih dengan suara pelan. Matanya menatap Zain tak lepas.


" sekarang kita keluar....?! " tawar Zain, tapi Alika menggeleng.


" bisakah kita segera kembali kerumah ?! " tanya Alika kemudian dengan suara sedikit bergetar.


" ada apa....katakan padaku, ada apa ?!! " tanya Zain dengan penuh curiga dan khawatir.


" aku hanya ingin pulang... " pinta Alika kemudian sambil memeluk Zain kuat kuat. Tiba tiba ia menangis yang membuat Zain semakin bingung.


" ada apa....kenapa kau menangis begini, apa aku sudah salah bicara ?! " tanya Zain lagi.


" jika aku....jika....." Alika berkata tak jelas karena menangis.

__ADS_1


Zain semakin mengerutkan keningnya


" ada apa Maly...apa terjadi sesuatu ?! " tanya Zain penuh kekhawatiran.


Alika menggeleng perlahan. Ada ketakutan yang tiba tiba mencengkeram batinnya.


Bagaimana jika Zubair memang mengatakan kebenaran. Sekali lagi Alika menggeleng cepat.


Tok tok tok.....pintu kamar tiba tiba terketuk.


" biar aku saja..." kata Zain ketika melihat pergerakan Alika.


Zain melangkah kearah pintu dan membukanya.


" kakek ?! " Zain sedikit terpekik begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintu.


Tuan besar Zain nampak berdiri sambil membawa nampan berisi makanan.


Tanpa meminta izin pria tua itu langsung masuk kedalam kamar, Alika yang terkejut segera bangun dari berbaringnya.


Zain langsung melangkah mendekat membantu Alika.


" kakek.." seru Alika dengan wajah kagetnya melihat sang kakek dari suaminya itu masuk dengan membawa nampan berisi makanan.


Tuan Zain meletakkan nampan di atas meja di samping pembaringan Alika.


" kakek..kenapa repot repot, saya bisa..." Kata kata Alika terpotong


 " kau tak turun untuk makan siang, kau juga tak terlihat makan malam tadi....ada apa ?! Apa cicitku itu menyulitkanmu ?! " tanya kakek Zain dengan wajah tegas sekaligus nampak khawatir.


" suapi istrimu Zain...dia terlihat sangat pucat " perintah kakek lagi dan Zainpun menurut.


Pria tampan itu membantu Alika duduk bersandar pada sandaran tempat tidur. Kemudian ia mulai menyuapi Alika.


" ada apa...kenapa tak turun ?! Kau tak nyaman denganku ?! " tanya tuan besar Zain pada Alika, kini ia duduk di sofa agak jauh dari tempat tidur.

__ADS_1


Tadinya ia ingin menyuapi istri dari cucunya itu, tapi kemudian ia ingat...Alika tak mungkin bisa dekat dengannya.


Dan tak ingin memaksakan diri karena takut akan berakibat buruk kepada janin yang di kandung istri dari cucunya itu, pria tua itu akhirnya memutuskan duduk di sofa.


" tidak kakek...saya hanya sedikit terasa lelah..." jawab Alika dengan sopan.


" ya...aku tahu, kau tidak sedang membawa satu anak saja, tapi sekaligus dua. Wajar jika kau cepat lelah " kata tuan besar Zain penuh pengertian.


" sebenarnya aku ingin membawamu ke Arkana bersamaku, aku ingin kau melahirkan disana sekaligus mengobati traumamu itu..." lanjut tuan besar Zain.


" kakek....kita sudah membicarakannya bukan ?! " Zaidan menyela ucapan sang kakek, sementara Alika terdiam.


Perhatian keluarga Zain kepadanya saat ini, tiba tiba seakan terasa bagai pisau yang siap memutuskan urat lehernya jika ia teringat akan kata kata Zubair tadi siang.


Tuan besar Zain kembali terdengar menghela nafas.


" ya...aku tahu, kau juga ingin mendidik kedua anakmu sendiri tanpa aku bukan....?? " kata tuan besar dengan ketus.


" kakek...cobalah untuk mengerti !! " Zaidan berucap lagi.


" ya ya ya..aku mengerti, tapi...tetaplah tinggal disini seminggu ini..temani aku menantu " kali ini pria itu berkata sambil menapat Alika.


Alika segera mengangkat kepalanya


" ya kakek...?! " tanya Alika kemudian.


" temani aku seminggu ini di sini, minggu depan aku kembali ke Arkana...." pinta tuan besar Zain.


" juga...doakan semoga urusanku cepat selesai di sana agar saat kau melahirkan nanti aku bisa melihatnya...." lanjutnya lagi.


Alika tersenyum lembut, meski hatinya terasa teriris.


" iya kakek...saya akan menemani kakek di sini " jawabnya kemudian yang di angguki oleh pria tua itu dengan wajah sumringah.


" ok...jadi, bagaimana..apa jenis kelaminnya, kalian belum memberitahuku bukan ?! " tanya Kakek Zain lagi.

__ADS_1


__ADS_2