Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 27


__ADS_3

Ohan memutuskan menerima keputusan Alika untuk hanya bersahabat dengannya. Dia akan sedikit mengalah dan bersabar.


Sama seperti Abbas...Ohan akan perlahan mendekat kepada gadis itu dan membiasakan dirinya pada Alika.


Kini hubungan mereka telah membaik dan hampir seperti dahulu. Ohan lega dan senang. Alika pun kini sudah bisa bersikap biasa pada Ohan meski mereka tak pernah lagi sedekat dulu.


Bisa bersama dengan Alika sudah cukup bagi Ohan. Ohan memang sering ke luar negri dan setiap pekerjaanya selesai ia akan segera mendatangai Alika.


Alika kini semakin bersemangat menjalani kehidupan barunya. Ia akui kehadiran Ohan di antara dia dan sahabat sahabatnya kini semakin menambah semangat hidupnya. Meski tak dapat ia pungkiri, dalam kesendiriannya...bayang bayang Zain masih sering mencengkeram ingatannya.


Seperti saat ini.


Alika duduk di sisi pembaringannya.


gadis cantik yang telah berubah menjadi sosok wanita dewasa yang sangat cantik itu, dengan pembawaanya yang tenang. Sorot matanya yang tajam namun hangat dan ramah.


Ia menarik laci di bawah meja riasnya, sebuah smart phone ia keluarkan dari sana. Di pandanginya cukup lama smart phone itu. Smart phone mahal dan sangat mewah, yang ia sendiri tak akan sanggup membelinya.


Pemuda itu memberikan begitu saja barang mewah dan mahal itu padanya.


Ia semakin menarik ke dalam laci itu dan mengambil sesuatu yang sangat kecil. Sim card...ia memasukkan kembali ke dalam hand phone itu dan menghidupkannya.


Matanya nanar menatap benda itu.


Ingatannya kembali kepada peristiwa hampir empat tahun yang lalu,


Pesan di terima


* kado sebagai tanda kau milikku *


* kangen....*


* kangen....*


* kangen....*


* kangen....*


Pesan di terima


* di mana....*


* di mana....*


* di mana....*


* jangan membuatku sulit *


...Alika menghela nafas, sejenak ia menutup matanya. Ingatannya kembali kepada kata kata terakhir Ricko padanya.Wajah Alika berubah memucat dan penuh kemarahan. Ingin ia membanting benda di tangannya itu. Namun urung ia lakukan....


Ia mengeluarkan kembali sim card di smart phone itu kemudian memasukkannya kembali kedalam laci mejanya.


Ia melangkah keluar kamarnya dan menuju ke dapur. Ia memutuskan memasak sesutu.


Alika baru saja selesai menata makanan yang baru saja selesai ia masak ketika suara pintu di ketuk. Ia mengerutkan keningnya.


Siapa...kenapa tak menyebut namanya. Pikirnya

__ADS_1


Tapi Alika melangkah juga kearah pintu, entah kenapa tanpa mengintip terlebih dahulu ia sudah membukanya.


Alika tertegun meliha siapa yang berdiri di depan pintu kontrakannya.


Matanya seketika berkaca kaca, seseorang itu telah menghambur memeluknya. Tangis tak dapat lagi keduanya bendung.


" apa kau marah padaku ? apa aku sudah menyinggungmu ? kenapa pergi begitu saja tanpa mengabariku ...?! " tanya orang itu di sela sela tangis dan pelukan keduanya. Alika tak menjawab, tapi ia menggeleng.


" sudah sejauh ini dan selama ini kau pergi dariku Al..."


" maaf..." hanya itu yang keluar dari mulut Alika.


Keduanya nampak duduk bersisihan di kursi panjang rumah kontrakan itu.


" bagaimana kabarmu...kau baik baik saja ? Aku dan keluargaku sangat mengkhawatirkan mu terutama kak Eris " gadis itu terus melontarkan kata kata pada Alika, sedang Alika ia lebih sering menunduk.


" kau tau kakakku suka padamu, diapun kelimpungan mencariku. Tapi sepertinya kau hidup dengan baik disini meski tanpa aku "


" tapi tak apa...aku akan minta ayahku memindahkan aku di rumah sakit sekitar sini saja. Agar kita bisa bersama lagi "


" aku tidak menjadi dokter Amreeta " kata Alika kemudian. Ya tamu Alika adalah sahabatnya Amreeta. Ohan mengabarkan keberadaan Alika pada Amreeta.


Amreeta menatap tak percaya sahabatnya itu.


Seulas senyum tersungging di bibir Alika.


" jangan menatapku seperti itu...aku mengambil jurusan keuangan. Sekarang aku bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pemberian nasehat keuangan " jawab Alika


" wow...hebat dong Al, kau seorang penasehat keuangan ?! " Amreeta berjingkrak kegirangan.


sekali lagi Alika tersenyum.


" tentu saja tidak..." jawab Alika, kembali keduanya kembali berpelukan.


Suasana sejenak menjadi hening.


" Al...." panggil Amreeta kemudia.


" hmmm...." jawab Alika.


" apa yang sebenarnya terjadi.....?! " tanya Amreeta dengan pelan. Alika terdiam


" hari itu..untuk pertama kalinya Zain bertanya padaku, dia mencarimu dengan sangat panik. Dia juga menghajar Ohan hingga masuk rumah sakit dan tidak sadarkan diri selama satu hari. Cctv di asramamu di hancurkan olehnya, Zain juga mengintimidasi pak Sabar satpam asrammu, dia benar benar sudah seperti orang gila " kata Amreeta menatap sendu Alika yang kini menunduk semakin dalam.


Sungguh ada sesuatu yang berdesir di hati Alika mendengar Amreeta menyebut nama Zain.


Ia meremat kedua jemarinya.


Ia masih takut pada Zain.....?! Entahlah, ia tak mampu mengartikan perasaannya sendiri.


" Al...." panggil Amreeta, Alika mengeleng gelengkan kepalanya.


" ada hubungankah di antara kalian berdua ?! " tanya Amreeta lagi.


" tidak ada..." jawab Alika cepat, wajahnya telah berubah muram.


" tapi kenapa dia seperti orang gila mencarimu ?! "

__ADS_1


" tidak tahu.." jawab Alika lagi singkat. Amreeta menangkap sesuatu yang berbeda pada sahabatnya itu.


Trauma...ya sahabatnya ini tengah mengalami trauma psikologi.


" lupakan....ayo kita bersenang senang ok. oh Tuhan Alika..lihatlah dirimu, kenapa kau menjadi semakin cantik seperti ini...oh....aku iri padamu. Coba aku lihat rambutmu " kata Amreeta menarik kerudung yang menutup kepala Alika dan menarik ikat rambut yang mengikat rambut panjang dan lurus Alika.


Mencoba mencairkan suasana


" aaaaa.....Alika cantiknya kamu, seandainya aku laki laki aku pasti sudah jatuh cinta padamu " jerit Amreeta


" ngawur...." jawab Alika sembari menyahut kerudung di tangan Amreeta.


" pantesan Kak Eris dan Ohan cinta mati sama kamu. Apalagi sekarang...kalau kak Eris melihatmu seperti ini dia pasti pingsan karena kecantikanmu " oceh Amreeta lagi.


Eris adalah kakak laki laki Amreeta.


Alika nyengir saja.


" Alika.....ini aku, Santika....aku buka ya " sebuah teriakan mengentikan guaraun Amreeta dan Alika. Keduanya beralih menatap kearah pintu.


Seorang gadis manis berkulit eksotis nampak masuk sembari membawa sekantong kresek warna putih yang sepertinya berisi makanan.


gadis itu menghentikan langkahnya sejenak, mata Santika dan Amreeta bertemu.


" kemarilah Santika...aku kenalkan kamu pada sahabatku...." Alika tak dapat meneruskan kata katanya karena Santika sudah menyahut.


" tidak perlu Alika..aku sepertinya sudah tahu siapa dia. Hai...kamu pasti Amreeta kan ? Kenalkan aku Santika " sapa Santika pada Amreeta sembari mengulurkan tangannya.


Amreeta tersenyum dan menyambut uluran tangan Santika.


" kau benar aku Amreeta...senang berkenalan dengam mu Santika "


" ngomong ngomong bagaimana kau bisa tahu aku ?! " tanya Amreeta penasaran.


" jangan kaget, Alika sering menceritakanmu dan aku sering melihat fotomu bersama Alika di meja kamar Alika " jawab Santika menjelaskan.


" oh...Alika ....sosweetnya kamu padaku...!!!" kata Amreeta sembari merangkul pundak Alika.


" aish...." jawab Alika jengah, selalu saja Amreeta memperlakukannya seperti itu. Semua tak berubah meski telah empat tahun berlalu.


Santika turut memeluk keduanya, jadilah mereka bertiga berpelukan.


Ketiga gadis seumuran itu cepat sekali menjadi akrab dan dekat. Ketiganya nampak makan bersama di meja makan Alika.


Setelahnya mereka nampak nimbrung di ruang tengah rumah itu.


Tahulah kini Amreeta bahwa Alika kini juga mempunyai sebuah toko kue yang di kelola bersama dengan Santika selain berkerja sebagai penasehat keuangan.


Amreeta semakin bangga kepada sahabatnya itu.


Sementara itu di sebuah rumah besar bak istana, di belahan bumi yang pasti sangat jauh dari tempat Alika tengah menikmati hidupnya, seorang pria tampan dengan gelang rambut warna hitam di pergelangan tangannya terus memutar mutar dengan pelan gelang tersebut seakan akan ia tengah mengelus gelang itu.


Gelang itu tak pernah terlepas dari pergelangan tangannya, meski apapun yang sedang ia lakukan.


Tiga hari yang lalu untuk kesekian kalinya ia gagal lagi keluar dari negara ini karena kuasa yang tinggi dari sang kakek.


" menikahlah dengan Nadira....setelah itu aku akan izinkan kau kembali ke Indonesia. Meski kau akan menikah lagi aku tidak akan menghalangimu. Yang penting bagiku Nadira sudah menjadi menantuku yang sah..." ultimatum sang tuang besar Zain Almeer Al kahfi kepada cucu laki laki kesayangannya. Zaidan Almeer Al Kahfi.

__ADS_1


Tuan besar Zain sangat menginginkan cucunya itu menikah dengan Nadira yang merupakan keturunan pengusaha ternama dan tersohor di negaranya.


__ADS_2