Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 55


__ADS_3

Zain menatap wajah Alika penuh harap, berharap ia tak hanya salah dengar...


Sejak keduanya saling kenal, atau tepatnya Zain yang memaksa perkenalan dan kedekatan di antara keduanya, hanya beberapa kali Alika menyebut namanya.


" sebut namaku sekali lagi..." pinta Zain kepada Alika, Alika melipat bibirnya rapat rapat.


Di palingkan wajahnya ketempat lain, ada yang berdegup kian kencang jauh di dasar hatinya yang paling dalam. Sungguh Alika tak paham dengan yang ia rasakan pada pria yang kini tengah memeluknya erat itu.


" Malayka...ayo...panggil namaku lagi, aku ingin dengar " Zain merengek seperti anak kecil, sungguh ia menjadi sosok yang berbeda bila bersama dengan Alika.


" Malay...." belum selesai Zain melanjutkan kata katanya


" Zaidan..." panggil Alika kemudian sedikit pelan


" aku tidak dengar..." jawab Zain sembari memasang wajah serius.


" Zaidan.." panggil Alika lagi agak keras sedikit.


" iya apa....aku tidak dengar, suaramu kecil sekali " jawab Zain lagi


" aku ngantuk.." jawab Alika kemudian hendak memutar tubuhnya tapi segera di tarik kembali oleh Zaidan untuk menghadapnya.


" emptmm..." Zain telah meraup bibir Alika begitu saja.


Zain mencium lembut bibir itu, namun semakin lama dan dalam. Zain semakin terbawa perasaan bahagianya karena bibir itu menyebut namanya beberapa kali.


Sadar Alika tak bisa bernafas karea ulahnya, ia memindahkan serangan bibirnya pada leher jenjang wanita itu


Hatinya semakin bersorak ketika ia melirik Alika dan wanita itu memejamkan matanya.


Zain semakin bersemangat menguasai tubuh Alika, mencari sesuatu yang sangat ia sukai..dan berhasil.


Di sana ia membenamkan dalam dalam wajahnya, menghirup aroma wangi yang menenangkan jiwanya. Dan sama seperti malam kemaren, ia terlelap setelah puas dengan sesuatu yang ia favoritkan.


Andai Alika tidak habis keguguran, entah apa saja yang akan Zain lakukan pada wanita cantik itu.


      " tok tok tok.. " suara pintu di ketuk, Zain masih melingkarkan erat tangannya pada perut rata Alika, sementara Alika berusaha pelan pelan melepas pelukan pria itu.


" Ya Allah..sudah sesiang ini..." Alika bergumam sendiri ketika menyadari cahaya matahari telah sedikit naik.


Kemudian ia melangkah kearah pintu..


" ya bik..." sapa Alika setelah membuka pintu


" ada tamu buat nona..." jawab bik Sumi, bik Sumi sungguh terkesima melihat kecantikan Alika yang sangat natural.


Rambutnya yang panjang lurus tergerai semakin menambah nilai plus untuk kecantikan wanita itu, wajahnya yang polos tanpa make up namun semakin memperlihatkan kecantikannya yang hakiki.


" saya...?! " Alika seakan tak percaya sembari telapak tangannya berada di dada sebagai tanda ia menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


" iya non..."


" kalau begitu minta tunggu sebentar ya bik..saya akan..." kata kata Alika terputus karena ada sahutan dari dalam.


" tidak usah repot menutup rambutmu...temuilah mereka setelah mandi " jawab Zain dengan wajah bantalnya dan hanya dengan memakai boxer saja.


Bik Sumi yang tak sengaja melihat kelakuan tuan mudanya itu langsung undur diri dan menggeleng gelengkan kepalanya.


Alika yang melihat tampilan Zain itu seketika melototkan matanya dan memasang wajah garang.


" apa ?! " tanya Zain tak paham.


" kau mau pamer barang milikmu itu ?! " sentak Alika geram, selalu saja Zain seperti itu..pikirnya.


Berlalu lalang hanya dengan memakai boxer saja setiap kali bangun tidur. Dan entah kapan pria itu melepas pakaiannya...setahu Alika kemaren malam Zain tidur memeluknya dengan pakaian lengkap.


" Tak tahu malu..." omelnya lagi dengan masuk ke kamar mandi. Setelah sebelumnya ia mengarahkan matanya yang mendelik kearah Zain.


" ha ha ha...." Zain tertawa lepas melihat kemarahan Alika padanya.


        Alika selesai membersihkan diri dan langsung keluar kamar, sementara Zain berkutat dengan laptopnya.


" ya Tuhan Alika..." teriak Amreeta dan Sartika hampir bersamaan.


Ya...tamu yang di maksud bik Sumi untuk Alika adalah dua sahabatnya Amreeta dan Sartika.


Ia ingin agar Alika sedikit terhibur dan melupakan sejenak kesedihannya paskah kegugurannya yang kedua. Pesan dokter....Alika harus sebisa mungkin rilex dan tenang.


Biarkan ia melalui semua masalahnya dengan caranya sendiri. pesan itu terpatri jelas di otak Zaidan.


" Amreeta...Sartika.....a..." Alika tak kalah histeris melihat kedua sahabatnya berada di hadapannya.


" benarkah ini kalian....ya Tuhan, rasanya benar benar seperti mimpi " kata Alika sembari ketiganya berangkulan


" kau semakin cantik saja Al..ya kan Sar...?? " oceh Amreeta yang perutnya mulai terlihat membuncit


" hmm.....dia persis seperti nyonya besar " celetuk Sartika membuat Alika mencebikkan bibirnya.


" ya Tuhan Alika...lihatlah rumahmu, tak kusangka betapa Tuhan sangat menyayangimu....Dia kabulkan keinginanmu tentang rumah impianmu..." oceh Amreeta setelah mereka bertiga duduk di gazebo belakang rumah.


Karena Alika yang tak menutup kepalanya dan membiarkan rambutnya tergerai, Zain tadi meminta Alika berada di ruang tengah atau taman belakang saja lewat pesan singkat yang ia kirim ke hand phone Alika.


Se posesif itu seorang Zaidan.


 Dan betapa Amreeta tahu bagaimana rumah impian Alika. Ia sangat gembira dan senang melihat kehidupan sahabatnya itu.


Ia mengira kehidupan Alika sanagatlah bahagia.


Alika tersenyum simpul.

__ADS_1


" tak kusangka sedikitpun...kalau suamimu adalah orang di kuar list kita. Bahkan jauh dari jangkauan pemikiran kita " beo Amreeta yang di pelototi oleh Sartika karena wanita itu yang melihat Zain berdiri di belakang mereka.


" ekhemmm" dehem Zain membuat ketiga wanitu menoleh kearahnya.


Amreeta melipat bibirnya rapat rapat dan meringis tertahan.


" kalau udah kulkas..tetep aja kulkas..." omel Amreeta dalam hati.


" nyapa kek...ato gimana kek, heran ada manusia modelan begituan " seloroh Amreeta yang mendapat pelototan Sartika lagi.


Zain yang sebenarnya sadar tengah di sindir Amreeta tak bereaksi sama sekali.


Dengan isyaratnya ia meminta Alika mendekat kepadanya. Setelah melihat Alika berdiri segera ia melangkah meninggalkan tempat itu.


" aku pergi.." kata Zain setelah keduanya berada di dalam kamar.


Alika menatapnya sejenak.


" apakah akan lama...?? " tanya Alika, entah kenapa tiba tiba ia ingin bertanya itu.


" mungkin...kenapa ?! Apa kau akan merindukan aku ?! " tanya Zain


Alika mengedikkan bahunya acuh.


" jangan membuat list calon suami yang tidak ada namaku.." decak Zain kesal membuat Alika mengerucutkan bibirnya.


Dengan cepat Zain segera meraup bibir itu


Dalam dan semakin dalam. Tetap tak ada balasan dari Alika.


Zain mengusap bibir Alika dengan ibu jarinya.


" jangam khawatir ...semua satpam di sini perempuan kecuali dua orang yang di depan sana " kata Zain.


" tak perlu mengantarku....lanjutkan menemui teman temanmu itu " kata Zain kemudia mencium kening Alika dan hendak melangkah pergi.


" Zain...!! " panggil Alika yang membuat Zain seketika menghentikan langkahnya dan menoleh dengan cepat kepadanya.


" terimakasih karena sudah mengundang mereka untukku..." kata Alika.


Zain tersenyum mesum.


" jangan senang dulu...itu tidaklah gratis, tungguh sampai kau benar benar bersih..." jawab Zain dengan senyuman tampannya kemudian melanjutkan langkahnya lagi.


" hati hati..." kata Alika melepas kepergian Zain dengan tatapan yang sulit di artikan,


dan tak mungkin bisa di dengar Zain karena itu hanya terucap di dalam hatinya saja.


Alika benar benar tak mengerti dengan apa yang ia rasakan kini. Entah kenapa rasanya sangat sulit dan berat melihat kepergian Zain kali ini

__ADS_1


__ADS_2