
Satu minggu telah berlalu sejak peristiwa Zubair mengklaim bayi dalam kandungan Alika adalah anaknya.
Pria itu telah pergi meninggalkan mansion tuan besar Zain itu tanpa pamit.
Ancaman dan kemarahan kedua orang tuanya nyatanya cukup ampuh menghentikan kenekatannya yang gila.
Tuan besar sendiri telah kembali ke Mesir berikut Sang menantu nyonya Almayra ibunda Zaidan dan tuan Osmand.
Pria tua itu bertekad menyelesaikan segala urusannya agar bisa menunggui proses kelahiran sang cicit yang di predikisi akan lahir akhir bulan ini, karena kehamilan Alika memang telah memasuki bulan kesembilan.
Dan itu benar benar ia lakukan. Hari harinya kini ia habiskan dengan sibuk menyelesaikan pekerjaannya agar lebih cepat selesai.
Zain sendiri telah membawa kembali sang istri pulang kerumah mereka.
Tentunya dengan melakukan pengawasan yang sangat ketat.
Desy, Atika juga Novi bahkan di minta hampir dua puluh empat jam mengawasi istri dari sang tuan muda Al Kahfi itu.
Sungguh perilaku Zubair membuat Zain semakin extra menjaga sang istri.
Pagi itu, pukul 10:00 Zain nampak dengan gagahnya memasuki sebuah gedung perkantoran bertingkat dengan di ikuti dua orang pria yang tak lain adalah Alex dan Faritz.
Pria tampan itu dengan tenangnya memasuki lift, keluar dan langsung menuju ruang direktur
" kami dari MAMBA.... " Faritz segera mendekat kepada seorang wanita dengan memberitahukan tentang identitas mereka juga tentang keberadaannya.
__ADS_1
" ah iya tuan...silahkan.." sambut wanita cantik itu sembari berdiri dan mempersilahkan ketiga orang itu untuk memasuki ruagan.
" tok tok tok...." wanita itu nampak mengetuk pintu yang tertutup, belum sempat berkata kata seseorang yang berada di dalam mempersilahkan ia masuk.
" masuklah...." kata Seorang pria yang nampak berdiri menatap keluar jendela membelakangi pintu.
Zain memberi kode agar Alex dan Faritz menunggu di luar saja.
Zain menutup pintu dan melangkah masuk kedalam.
" ada apa Anya....?! Apa lagi sekarang ?! " tanya pria itu tanpa menoleh kebelakang.
" bagaimana kabarmu...Zubair " kata Zain kemudian membuat pria itu segera memalingkan pandangannya kearah sumber suara.
Ya....Zain mendatangi kantor Zubair.
Mencoba menyelesaikan masalah yang telah tercipta diantara keduanya dengan baik baik.
Flass on
Tengah malam setelah yakin Alika tidur dengan pulas, Zain keluar kamar dengan hati hati menemui sang papa dan kakeknya di ruang kerja.
" cklekkk..." Zain membuka pintu, nampak sang papy duduk di sofa sementara sang kakek duduk di kursi kebesarannya.
" ada apa py...?! " tanya Zain sembari melangkah medekat kearah sofa.
__ADS_1
" kemarilah boy...duduklah " tuan Osmand meminta Zain duduk di hadapannya, dan pria tampan itu pun menurut.
" apa yang akan kau lakukan sekarang ?! " tanya tuan Osmand kemudia.
" entahlah py..." jawab Zain menggelengkan kepalanya.
" Zain..temui dia, bicaralah dari hati ke hati dengannya, bagaimanapun kalian pernah tumbuh bersama dan memiliki hubungan lumayang dekat..." tuan Osmand memulai perkataannya.
Zain dan Zubair memang sering bersama dahulu ketika mereka remaja, sama seperti Nadira....keduanya juga cukup berteman baik meski Zubair lebih tua beberapa tahun.
Namun nyatanya Zain mampu mengimbangi Zubair.
Bahkan boleh di bilang kemampuan Zain jauh lebih di atas Zubair.
" anggap apa yang sudah dia lakukan adalah karma atas apa yang pernah kau perbuat kepada Ohan.
Tidak ada yang gratis di dunia ini Zain....semua perbuatan kita ada karmanya.
Beruntung kau segera menyadari kenekatan Zubair. Sehingga kau tak berakhir seperti Ohan " lanjut tuan Osmand membuat Zain berdecak.
" Tuhan hanya sedang mengingatkanmu untuk menebus semua kesalahanmu di masa lalu dengan mendatangkan Zubair di antara kalian berdua.."
Zain masih terdiam mendengar ucapan sang ayah, sementara tuan besar Zain Maher Al Kahfi hanya terdiam melihat interaksi kedua ayah dan anak itu.
Flass of
__ADS_1
Sejenak mata Zain dan Zubair saling bertemu. keduanya saling tatap.
Ada tatapan yang tidak bisa di artikan dari keduanya.