
" kau tidak mempersilahkan tamumu untuk duduk tuan muda Zubair ?! " cibir Zain ketika ia telah menghempaskan pantatnya di sofa ruangan itu tanpa izin dari Zubair.
Sementara Zubair hanya mencebikkan bibirnya.
Zain dan Zubair kini tampak duduk saling berhadapan di sofa ruang kerja Zubair.
Mata keduanya nampak saling menatap tajam.
" apa maksud kedatanganmu menemuiku tuan muda Kahfi...?! " tanya Zubair dengan wajah aneh.
Zain hanya meringis menjawab pertanyaan pria itu.
" tidak ada...hanya ingin memastikan kau masih hidup atau sudah mati saja " jawab Zain Santai sembari melebarkan kedua tangannya ke sandaran sofa yang ia duduki.
Kemudian ia menaikkan satu kakinya keatas kaki satunya.
" aku sedikit merasa ingin tahu....mungkin saja kau sudah mati karena sakit hati menahan cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan...tapi tak ada yang bisa menemukan mayatmu " lanjut Zain mengejek Zubair tanpa memperhatikan cara bicaranya sedikit saja.
Sepertinya pria itu tak takut sama sekali jika kata katanya akan membuat lawan bicaranya tersinggung atau bahkan sakit hati.
Sungguh terkesan sangat arrogant memang.
Tapi itulah memang sosok seorang Zaidan Almeer Al Kahfi yang sebenarnya.
Ia akan berubah lembut dan sopan saat berada di antara keluarganya saja, terutama di hadapan seorang wanita yang kini tengah mengandung anak anaknya.
Di hadapan Alika ia berubah menjadi sosok lembut yang manja.
Di hadapan Alika ia seakan kehilangan kesan menyeramkan pada dirinya.
Sombong, angkuh dan....sedingin es.
__ADS_1
Gambaran dan kesan seorang Zaidan.
Dan hal itu bukan hal yang baru bagi Zubair. Pria itu cukup tahu dan hafal akan tabiat buruk mantan adik iparnya itu.
Sejak kecil Zain yang selalu di kelilingi kemewahan dan kekuasaan memang sudah terbentuk sebagai sosok yang arrogant dan dingin. Yang setiap keinginan dan perintahnya tak ada yang berani membantah.
" bagaimana...kau mengakui kekalahanmu padaku, untuk kesekian kalinya kau kalah lagi dariku Zubair..." cibir Zain.
" cihhh.....itu hanya kebetulan, andai aku lebih dulu bertemu dengannya. Aku pastikan kau berada di posisiku saat ini..." jawab Zubair tak kalah percaya dirinya membuat Zain tertawa terpingkal pingkal.
" ha ha ha...kau sedang belajar melucu Zubair, atau....patah hati membuatmu ingin beralih profesi sebagai komedian saja hah....ha ha ha...." tawa Zain membuat Zubair semakin meradang.
" atau mungkin otakmu sudah geser karena aku yang menghajarmu kemaren.....ha ha ha...." Zain masih tertawa terpingkal.
Zubair melempar bantal sofa ke arah wajah Zain dan di tangkis dengan mudah oleh pria tampan berhidung mancung.
" tak ada dalam sejarah di antara kita, aku tidak bisa mendapatkan yang aku inginkan Zubair....kurasa kau benar benar mulai ngelantur "
" tutup mulutmu brengsek..." umpat Zubair.
" kau terlalu tinggi berkhayal Zubair...." kata Zain tanpa sedikitpun rasa takut, kemudian sambil mengehela nafas Ia menyeka air di sudut matanya karena tertawa tadi.
" hentikan kegilaanmu....lupakan istriku Zubair, aku hargai perasaanmu pada Malayka " kata Zain kemudian dengan wajah serius dan dingin.
Zain kembali ke wajah mode awal....
Menyeramkan...
Zubair menghela nafas, ia memyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
" bagaimana keadaannya kini ?! " tanyanya kemudian. Tersirat kekhawatiran dari nada suara pria itu.
__ADS_1
" hampir tidak baik baik saja karena ulahmu, jika saja bukan karena ibuku, aku sudah akan membunuhmu....kau tidak tahu bagaimana aku sangat berhati hati menjaganya selama ini...kau seenaknya saja mengguncang perasaannya..." kata Zain.
" bayi kami memang sehat dan baik baik saja dalam kandungannya, tapi keadaan istriku tidak baik baik saja Zubair. Trauma yang ia rasakan karena perbuatanku kepadanya di masa lalu sungguh berakibat sangat fatal pada kejiwaan dan kesehatannya.
Istriku sedang berjuang hingga saat ini ...kumohon mengertilah " Zain sekali lagi berucap dengan sangat serius.
Zubair menatap lekat lekat wajah pria di hadapannya itu.
Ia dapat melihat penyesalan yang begitu dalam di mata itu.
lama keduanya berada dalam keheningan, kedua pria itu nampak sedang berada dalam pemikiran masing masing.
" bagaimana caraku melupakannya..aku sangat kesulitan melakukannya.
Tak pernah aku berada dalam perasaan seperti ini...perasaan ini sungguh menyiksaku " rintih hati Zubair dalam diam.
Ia sadari, tak mungkin baginya mendapatkan yang ia inginkan meski ia memaksa.
Alika telah terikat begitu dalam pada pria di hadapannya itu.
Hingga tak ada satupun pria yang bisa membuat tubuhnya terbiasa dan menerima selain Zaidan.
" pikirkanlah masa depanmu...jangan mengulangi kesalahan yang sama seperti yang pernah aku lakukan....karena penyesalan selalu datang belakangan Zubair " kata Zain terdengar bijak.
Ia benar benar bicara dari hati yang terdalam.
Ia sungguh menyesali perbuatanny di masa lalu yang nekat memaksakan diri pada Alika hingga berujung trauma wanita itu hingga kini.
Akibatnya....kesehatannya semakin terganggu, apalagi sejak kehamilannya kini.
Alika terlihat semakin ringkih...hingga membuat hati Zain bagai di parut setiap mengingat hari persalinan semakin dekat.
__ADS_1