
sekali lagi untuk kesekian kalinya, kesungguhan dan kesetiaan Alika terhadap Zain di uji.
Hati dan perasaan Alika benar benar di permainkan.
Kursi kehormatan yang tersedia hanya di peruntukkan bagi para keluarga inti tamu kehormatan.
Yang artinya tak ada kursi bagi Alika. Zain hendak berdiri ketika menyadari Alika tak mendapatkan haknya.
Namun Alika menggelengkan kepalanya kepada Zain sembari mengangkat satu tangannya sebagai pertanda dia baik baik saja.
Alika sedikit melangkah mundur kebelakang dan mengambil posisi berdiri tak jauh dari Zain duduk, ia turut berdiri di antara para tamu undangan lain yang tak mendapat kursi kehormatan seperti dirinya meski tak begitu kentara berbaur karena ia terkendala dengan traumanya.
Alex segera mengambil posisi dekat dengan Alika meski tak begitu dekat. Ia juga melihat pergerakan dua orang wanita yang seakan mengawal Alika.
Mengertilah Alex kini, ada orang lain yang turut menjaga keselamatan Alika.
Asisten pribadi Zain itupun bernafas lega
Sekali lagi tuan besar Zain menyunggingkan senyum tipis.
sementara Nadira melirik kearah Alika, ada sedikit rasa tercubit di hatinya melihat keberadaan Alika yang seakan benar benar di rendahkan oleh kakek Zain tersebut.
Nadira merasakan hatinya berkecamuk, ia senang karena kini dirinyalah yang duduk di samping Zain sebagai tamu kehormatan pendamping Zain dan hanya dirinyalah yang di akui sebagai istri Zain. Namun hatinya juga sakit melihat perhatian Zain hanya tertuju pada Alika.
Belum lagi ada rasa tak tega melihat Alika di perlakukan seperti itu.
Bersamaan dengan itu, ia melihat beberapa orang yang ia kenal sebagi pengawal pribadi keluarganya ada di antara para tamu lain yang hadir.
Nadira mengernyitkan keningnya
" Ramos..." desis Nadira sangat pelan.
Mungkin papinya yang sengaja mengirim orang orang itu untuk menjaga keselamatannya. Pikir Nadira.
Acara pun di mulai, nama besar keluarga Zain dan Nadira sangat kentara di akui keberadaanya. Berkali kali nama keluarga itu di sebut sebut sabagai pengusaha besar dan paling berpengaruh.
Keduanya di elu elukan sebagai pasangan paling cocok dan fenomanal. Sama sama dari keluarga terpandang dan pebisnis handal.
keduanya di gadang gadang akan menjadi the best couple businessman selanjutnya. Melanjutkan keberhasilan dan semakin mengibarkan bendera keluarga mereka dalam dunia bisnis.
Zain sangat tak nyaman berkali kali ia melihat kearah Alika berdiri, dan berkali kali pula Alika menganggukkan kepalanya menenangkan Zain dari jauh.
Hinga acara puncak pun di mulai, nama Zaidan Almeer Al Kahfi di sebut sebaga pengusaha muda paling berpengaruh dan keberhasilannya membangun kembali bisnis keluarganya yang sempat colabs hanya dalam kurun waktu satu tahun saja sangat di akui dan semakin melambungkan namanya.
Zaidan di minta naik ke atas podium menyusul sang kakek yang telah lebih dulu berada di sana.
__ADS_1
Di iringi Nadira yang melangkah di sisinya sembari berpegangan pada lengan Zain membuat tepuk tangan bergemuruh memenuhi perhelatan akbar itu.
Suara mengelu elukan begitu jelas terdengar untuk kedua orang itu.
Alika menatap tak berkedip Zain yang berdiri bersisihan di atas panggung kehormatan di sana.
Tak dapat ia pungkiri...meski ia berusaha ikhlas menerima, namun tetap ia adalah wanita biasa.
Hatinya sakit bagai teriris sembilu. Melihat pria yang ia cintai berdiri bersanding dengan wanita lain.
" berada di sisinya hanya akan menabur duri dalam kehidupanmu Alika..." seseorang tiba tiba bersuara di samping Alika.
Alika menoleh dan spontan sedikit menjaga jarak dengan pemilik suara itu.
" Ricko...!! " kata Alika pelan.
Ricko menoleh dan menatap sendu kearah wanita pujaannya itu. Selaksa sesal sungguh terpancar di matanya.
" maafkan aku...sungguh, ku mohon maafkan aku..aku telah buta karena perasaanku sendiri terhadapmu..." lanjut Ricko penuh penyesalan, sungguh ia ingin sekali membawa gadis itu dalam dekapannya.
Tapi sungguh...ia mati matian menahan perasaannya itu. Ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama.
" andai kau tahu...sejak hari dimana aku menyatakan perasaanku kepadamu waktu itu..aku tak pernah lagi merasakan perasaan seperti yang kurasakan padamu kepada wanita lain. Aku tak mampu menghapus namamu dalam hatiku..." terasa perih hati Ricko mengungkapkan perasaannya pada wanita di smpingnya yang masih menjaga jarak dengannya itu.
Alika tak menjawab sama sekali.
" aku mohon Alika...pergilah bersamaku, bersamanya sungguh hanya akan membuat luka di hatimu.."
" ada tanggung jawab besar di pundaknya...ribuan nyawa bergantung padanya. Sadarlah kehadiranmu disisinya hanya akan menimbulkan skandal yang berimbas pada bisnis keluarganya..." lanjut Ricko
" Aku bersumpah seluruh hidupku hanya akan aku serahkan kepadamu " Ricko benar benar meminta dengan setulus hati, tak ia hiraukan kemungkinan ada orang lain yang mendengarkan semua kata katanya.
Dan benar saja, ada beberapa orang yang mendengar semua ucapannya. Terutama Alex.
Asisten pribadi Zain itu bahkan sampai mengepalkan erat tangannya. Andai ini bukan sedang berada di acara formal seperti ini, sudah dia hajar habis habisan Ricko saat ini.
Berani sekali pria itu menyatakan perasaannya pada istri orang terlebih orang itu adalah Zaidan Almeer Al Kahfi.
Apalagi membujuk istri orang lain untuk pergi bersamanya.
Alex bergidik ngeri membayangkan keadaan Zain tanpa Alika. Entah akan segila apa laki laki itu.
Alika terdengar mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan.
" terimakasih atas perasaanmu kepadaku, sungguh aku berterimakasih. Aku tahu kau bukan orang biasa, kau pun punya kedudukan seperti halnya dia... bukan hal yang mudah bagimu mengatakan semua ini padaku..." Alika bersuara pelan.
__ADS_1
" Alika ...aku mohon pikirkanlah lagi. ada beribu ribu nyawa menggantung pada bahunya. Ia tak mungkin melepaskan semuanya dan memilih dirimu " Ricko masih ingin menyampaikan keinginannya.
" aku sangat paham itu Ricko...dan aku juga sangat berterimakasih karena kau sudah bersedia mengingatkanku...tapi tolong, biarkan aku dengan pilihanku..." jawab Alika. Sebenarnya ia membenarkan ucapan Ricko tentang tanggung jawab Zain yang besar di pundaknya.
Namun memilih meninggalkan Zain, itu samaa artinya ia harus siap melihat pria itu tiada. Dan ia benar benar tak siap untuk itu.
Sudah beberapa kali ia buktikan kenekatan Zain.
" aku tak bisa membiarkan kau menyia nyiakan hidupmu sendiri Alika...aku sangat mencintaimu...sungguh, kumohon ikutlah bersamaku. Berdua kita membuka lembaran baru hidup kita " Ricko terus berusaha merebut hati Alika.
Alika yang mulai merasakan sakit di tubuhnya karena jarak Ricko yang lumayan dekat kepadanya sedikit bergeser.
" aku mohon Ricko...jaga batasanmu " akhirnya kata kata itu terucap dari bibir Alika. Seorang wanita cantik nampak melangkah dan berdiri di antara keduanya.
Ricko hendak mendekat kembali kepada Alika, namun lagi...seorang lagi wanita turut mendekat dan semakin membuat Ricko dan Alika berjarak.
Dan di saat bersamaan Ricko menangkap pergerakan beberapa orang yang nampak terus memperhatikan Alika sejak tadi.
Pria tampan itu berpikir...Pasti Zain meminta orang untuk memperhatikan Alika.
Ricko akhirnya mengalah ...ia tak ingin membuat Alika kembali membencinya juga bermasalah terlalu dalam dengan Zain bahkan sebelum ia mampu menggapai hati Alika.
Untuk saat ini biarlah hanya sampai di sini saja.
Tapi ia tidak akan menyerah...ia akan tetap mengejar cinta wanita itu. Tak perduli siapa yang berada di belakang wanita itu kini....ia akan sabar menanti hingga waktunya tiba nanti.
Ricko menghela nafas perlahan.
" baiklah Alika...maafkan aku, tapi kumohon pertimbangkan kata kataku. Aku tulus mencintaimu...aku berharap suatu hari nanti kau akan mempertimbangkan cintaku padamu " kata Ricko kemudian yang masih bisa di dengar oleh Alika.
Alika sendiri nampak menangkup kedua tangannya di depan dada sembari menganggukkan kepala sesaat.
Kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya kepada Zain yang masih berdiri di atas podium. Dan matanya bertemu dengan tatapan mata Zain yang tentu saja Zain menatap tanpa putus kepadanya sejak tadi.
Dan sungguh interaksi itu membuat Nadira mati matian menahan rasa cemburu dan kemarahan.
Mata wanita itu pun tak luput memperhatikan Alika, meski senyum tersungging di bibirnya...tapi sungguh ia menyimpan bara api di dadanya.
Tatapan mata yang bagi sebagian orang mengartikannya sebagi tatapan kebahagiaan dan ketulusan. Namun yang sebenarnya adalah....
Tatapan Nadira bagai anak panah beracun yang siap menancap di jantung Alika. Nadira kini benar benar menabuh genderang perang kepada Alika.
Ia berjanji tidak akan melepaskan Zaidan. Baginya kini...Zain adalah miliknya dan bukan kebiasaannya melepaskan begitu saja apa yang telah menjadi miliknya.
Setidaknya itulah moto yang diajarkan keluarganya.
__ADS_1
" pertahankan apa yang telah menjadi milik mu...karena itu adalah kewajiban " ajaran yang selaly di ingat oleh Alika dari ayahnya.