Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 25


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu sejak Alika tak dapat lagi di temukan oleh Zain atau juga Ohan, bahkan Amreeta pun tak mendapat kabar apapun tentang sahabatnya itu.


Amreeta merasa sangat bersalah, bagaimana ia bisa kehilangan sahabatnya yang sangat ia sayangi itu begitu saja. Alika seolah hilang di telan bumi. Sementara itu Ohan dan Zain pun tak jauh berbeda. Kedua pemuda tampan itu sangatlah merasa patah hati.


Ohan yang telah mencintai Alika sejak tiga tahun yang lalu tiba tiba menjadi pendiam.


Sedangkan Zain...jangan di tanya lagi, dia benar benar sudah seperti orang gila. Sehari setelah menghilangnya Alika ia bahkan telah membanting cctv yang ada di asrama yang rekamannya sebenarnya telah di rusak oleh Pak Sabar dengan meminta bantuan temannya.


Pak Sabar mendapat kemarahan dari Zain, intimidasi bahkan pengancaman dari pewaris Al Kahfi itu.


Tapi pak Sabar ternyata tetap konsisten pada pilihannya untuk menyembunyikan Alika.


Sudah satu minggu ini Zain terus datang ke kamar Alika yang ada di asrama.


Ia akan datang pagi atau tengah hari, kemudian akan meninggalkan kamar itu malam atau menjelang dini hari.


Tidak ada yang berani menegurnya. Ia pun tak pernah menegur siapa siapa meski terkadang asrama terlihat ramai.


Ah...Zain memang sedingin itu.


Hari ini Zain meringkuk di pojokan kamar, tempat di mana Alika dulu menangis sendirian meratapi nasibnya.


Entah kenapa beberapa hari ini Zain merasa tubuhnya terasa sakit dan seperti meriang. Ia sulit untuk sekedar menelan makanan. Ia akan muntah setiap pagi.


Bayang bayang Alika membuatnya gila. Dan hanya dengan berada di dalam kamar Alika inilah ia merasa sedikit tenang dan damai.


Bahkan dengan berada di kamar Alika ia bisa sedikit memakan sesuatu yang ia bawa dari luar.


Ia memeluk bantal dan guling yang menurutnya ada aroma tubuh Alika. Dengan begitu iapun merasa tenang. Terutama rasa sesak di hatinya akan sedikit terobati.


" dimana kamu...aku sangat merindukanmu. Dimana letak salahku, salahkah aku jika aku sangat menginginkanmu? Kenapa kau pergi begitu saja dan menuduhku seperti itu " ratap Zain sendirian.


Tak lama ia tertidur dengan posisi menelungkup.


Sementara itu di sebuah rumah sederhana yang masih satu kabupaten namun berbeda kecamatan dengan tempat Alika menimba ilmu.


Alika yang tadi terjatuh di kamar mandi dan pingsan, beruntung bu Ani datang dan segera meminta bantuan tetangga untuk menolong Alika memgangkatnya ke kamar.


Darah merembes di kaki Alika, gadis itu terkejut bukan main. Ia tidak haid. Tapi kalau pun ia haid ia tidak pernah haid selancar ini.

__ADS_1


Bu Ani tergopoh gopoh membawa seorang bidan.


Bu bidan segera memeriksa Alika


" maaf mbak...kamu keguguran, kamu terlalu stres dan sangat kelelahan. Seharusnya kamu harus lebih bisa menjaganya " kata bu bidan menjelaskan dan sontak membuat Alika dan bu Ani terkejut bukan main.


" di mana suamimu...ia harus tahu kondisimu, kau terlalu muda untuk hamil. Jadi jaga diri baik baik dahulu dan persiapkan kehamilan sematang mungkin agar hal seperti ini tidak terulang kembali ya mbak.." kata bidan itu lagi, Alika hanya terdiam membisu.


" oh ya..bisa ibu panggilkan suaminya, sepertinya ini pernikahan dini ya " tanya bidan itu lagi, bu Ani sempat kebingungan, namun ia segera menjawab.


..." maaf bu bidan...nona ini adalah istri majikan saya di kota, sedangkan suaminya sedang berada diluar negri kemudian ia mempercayakan istrinya kepada saya untuk sekedar beristirahat disini...bisakah informasinya di bagik kepada saya saja ?! " jawab Bu Ani berbohong....


Bidan itu terdengar mengehela nafas.


" baiklah bu...saya resepkan obat dan tolong di tebus di apotik ya, dan jika suaminya pulang tolong jangan minta di layani dulu kalau dia ingin istrinya cepat sehat. Dan mengenai kehamilan...tolong di tunda dulu sampai rahimnya benar benar siap " terang bidan itu.


Bu Ani pun mengiyakannya.


Bu Ani mendekati Alika yang masih terdiam membisu, tak ada wajah sedih atau wajah sebaliknya.


Gadis itu hanya diam dan diam.


" mbak Alika...nyebut mbak..dunia ini hanya penuh ujian " Bu Ani menghibur Alika sembari memeluk ringkih gadis itu.


" menangislah mbak...menangislah agar kamu lebih merasa lega " hibur bu Ani.


Alika menangis sejadi jadinya di pekukan ibu Ani hingga setengah jam lamanya.


" apa yang sebenarnya terjadi...jika kamu percaya kepada saya, bagilah penderitaanmu dengan ibu. Siapa tahu ibu bisa membantu " kata bu Ani ketika Alika telah tenang.


" apakah..itu anak mas Zain ?! " Bu Ani langsung bisa menebak, sebenarnya wanita paruh baya itu sudah mengira jika ada sesuatu diantara gadis ini dan tuan muda Al kahfi itu.


Alika mengangguk sembari sesenggukan.


" dia memaksakan dirinya padaku bu...dia menghancurkan hidupku begitu saja. Laki laki bajingan itu...aku sangat membencinya " jawab Alika penuh kemarahan. Bu Ani menutup mulutnya.


Ia paham yang di katakan Alika, namun ia tak menyangka Zain akan nekat melakukan itu.


Ada dua hal berbeda yang ia lihat dari dua remaja itu. Cinta yang begitu besar sangat terlihat di mata Zain untuk Alika, namun kebencian justru terlihat di mata Alika. Ya...itulah yang di tangkap bu Ani.

__ADS_1


" apa dia mengira kau mencintai mas Ohan ?! " tanya Bu Ani. Alika terdiam sesaat..namun kemudian ia menggeleng. Bu Ani menghela nafas


" beristirahatlah..aku buatkan makanan untukmu " kata bu Ani dan di angguki oleh Alika.


sepeninggal bu Ani, kembali Alika merasakan kesedihan yang mendalam. Ia merasa sangat hancur.


ia benar benat tak memiliki apapun, Alika sangat terpuruk. dengan menahan sakit ia berusaha berdiri dan melangkah perlahan. Alika benar benar putus asa. Ia mengambil sesuatu yang tergeletak di meja dan memotong nadi sendiri.


gadis itu membisu menahan sakit, darah mulai mengalir. Perlahan tapi pasti pandangannya menggelap dan di saat saat terakhir ia mendengar suara seperti suara Zain memanggil namanya.


Ia ingin melihatnya, namun ia sudah tak mampu lagi membuka matanya. Alika tak sadarkan.


Sementara Zain yang tertidur tiba tiba menjerit memanggil Alika


" Malayka....." teriaknya sembari terbangun dari tidurnya. Secepat kilat ia keluar dari kamar itu, mengendarai motornya dengan kecepatan kilat hingga saat ia hendak keluar dari gerbang asrama sebuah truk bermuatan material bangunan menghantam motornya tubuhnya terlempar jauh kesamping dan mengantam pembantas jalan.


Ali berteriak sekencang kencangnya, ia memang selalu mengikuti Zain karena perintah dari tuan Osmand. Tapi ia berada di pos bersama pak Sabar karena Zain yang tidak ingin kamar Alika di masuki orang lain selain dirinya.


Tubuh Zain berlumur darah, dan tak berapa lama mobil ambulance yang membawa tubuh Zain memasuki area rumah sakit.


Tubuhnya berada diatas brangkar dan di dorong masuk kedalam rumah sakit, dan bertepatan dengan itu sebuah brangkar yang berisi tubuh seorang wanita yang terbaring tak sadarkan diri juga di dorong di belakangnya.


ya Alika dan Zain berada dalam rumah sakit yang sama. Namun keduanya tak akan pernah tahu dan tak akan pernah menyadarinya.


Luka yang di derita Zain sangat parah, ia tak sadarkan diri ampir satu bulan lamanya. Dan kini ia telah di bawa ke Mesir.


Dirinya kini berada dalam pengawasan sang kakek. Tuan besar Zain Almeer Al Kahfi.


Sementara Alika, satu minggu paskah dirinya di rawat di rumah sakit. Kesehatannya telah membaik begitupun dengan kestabilan kejiwaannya.


Dokter bilang Alika terkena sindrom baby blues paskah keguguran anaknya juga karena kesedihan yang mendalan.


Gadis itu telah keluar dari rumah sakit, ia memutuskan pergi jauh dari kota ini. Ia berpamitan kepada bu Ani juga pak Sabar. Ia ingin mengubur dalam dalam masa lalunya dan mencoba kembali membangun dan merangkai kembalai masa depannya.


Semua telah ia persiapkan, rencananya ia akan melanjutkan kuliahnya, tapi entah dimana.


Jika di tanya akan kuliah di mana dan mau kemana, ia akan menjawab entahlah.


Era baru kehidupan Alika dan Zain di mulai. Alika yang kini hidup dengan traumanya terhadap laki laki namun terus berusaha menyongsong masa depannya dan Zain yang terus hidup dengan cinta masa lalunya yang tak mampu ia genggam.

__ADS_1


Waktu dan tempat telah memisahkan keduanya.


Mampukah Zain meraih kembali cintanya yang telah gugur sebelum berkembang.


__ADS_2