Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 36


__ADS_3

 Alika dan Zaidan telah sampai di apartemen Zaidan ketika hari telah menjelang sore.


" cklek..." Zain membuka pintu dan menggiring bahu Alika untuk masuk dengan lembut ke dalam apartemen berlantai dua miliknya itu.


Alika menatap sekeliling apartemen itu, semua masih sama dan tidak berubah. Ia teringat saat Zain membawanya untuk pertamakalinya ke apartemen ini.


Alika menatap sofa di mana dulu Zain mendudukkannya kemudian pria itu malah tidur dengan tanpa izin dan seenaknya di pangkuannya.


Kemudian pandangannya beralih ke arah lantai, Alika memejamkan matanya sembari membuang pandangannya ketempat lain manakala gambaran tentang Zain yang membanting hand phonenya hingga berhambur kemana kemana terekam jelas di ingatannya.


Kenapa rasanya masih saja sakit. Ringisnya....


" kau kenapa..ayo kita ke kamar, besok akan ada orang yang datang untuk menemanimu di sini jika aku tidak ada " kata Zain halus sembari menarik tangan Alika menuju lantai atas.


Alika mengerutkan keningnya. Ia sedikit bingung...akan pergi kah pria ini meninggalkannya.


Alika ingin sekali bertanya, tapi ia tak punya cukup nyali untuk itu.


Menurut Alika mood Zain berubah ubah. Terkadang ia sangat lembut..namun tak jarang Zain menjadi sosok pria lain di hadapannya ketika berbicara dengan seseorang di seberang telephon.


Meskipun kesan kasar tak Zain tujukan padanya, tetap saja ada rasa takut di hatinya pada pria itu.


Apalagi kemarahan Zain yang menurut Alika sangat mengerikan.


Alika menyiapkan air hangat di bathup untuk Zain mandi setelah dirinya sendiri selesai membersihkan diri, Zain sekarang nampak sedang bicara di telephon dengan seseorang di balkon kamar.


" aku sudah siapkan air hangat untukmu...segeralah mandi jika kamu sudah selesai " kata Alika yang membuat Zain diam dari bicaranya di telphon dan fokus memandangnya.


Zain seakan tak percaya Alika memulai pembicaraan dengannya sendiri. Biasanya gadis itu baru bicara bila ia yang memulai.


" aku masak di bawah..." kata Alika lagi kemudian berlalu dari sana setelah sebelumnya menutup pintu balkon dan kamar terlebih dahulu.


Zain mengerjap ngerjapkan matanya, ia seakan baru saja tersadar dari keterkejutannya karena Alika.


" lakukan saja perintah ku...besok aku akan datang, persiapkan semuanya " kata Zain memberi perintah dan mengakhiri pembicaraannya di telephon dengan seseorang di seberang sana.

__ADS_1


Kemudia ia nampak masuk ke kamar mandi dengan bibir yang menyunggingkan senyum.


Alika sedang menata hasil masakannya ke meja makan ketika dua lengan kekar melingkar di perut ratanya.


Dan Alika tahu persis siapa pelakunya. Siapa lagi jika bukan Zaidan Almeer Al Kahfi.


Diperlakukan seperti ini oleh selain Zain sudah pasti ia akan pingsan.


Ya....Alika hanya bisa berdekatan dan bersentuhan dengan Zaidan.


." masak apa ?! " tanya Zain sembari mencium pipi sang istri


" mi saja...tidak ada bahan makanan lain di kulkasmu " jawab Alika tanpa membalas menyentuh atau apa kepada Zain.


" emmm....iya aku lupa, maaf....aku memang baru sekarang datang kesini. Tempat ini hanya di bersihkan saja tanpa aku tempati " kata Zain masih memeluk Alika.


Zain hampir sepuluh tahun belakangan memang berada di Mesir. Ia koma selama satu tahun paskah kecelakaan yang ia alami di depan asrama Alika.


Dua tahun ia terapi untuk penyembuhan dirinya, dan terapi itupun masih di lakukan di Mesir. Ia sangat berusaha dengan keras untuk segera pulih semata mata hanya karena ingin segera kembali ke Indonesia untuk mencari Malayka Khumaira Rasyid.


Gadis cantik bernama Nadira Ibrahim Khan, yang merupakan cucu dari sahabat tuan besar Zain Almeer Al Kahfi.


Sebuah perjodohan bisnis yang di atur tuan besar Zain Almeer Al Kahfi sebagai yang di tuakan dalam keluarga Kahfi sekaligus pengambil keputusan terakhir dalam keluarga tanpa bisa di ganggu gugat meski oleh seorang Osmand Almeer Al Kahfi yang nota bene ayah dari Zaidan sendiri.


Hingga satu tahun yang lalu ia mampu kembali ke Indonesia dan tentunya setelah ia melakukan salah satu syarat dari beberapa syarat yang di ajukan sang kakek.


Tiga bulan yang lalu ia baru mampu mengendus keberadaan Alika melalui rumah panti asuhan tempat Alika dulu tinggal dan ternyata masih berhubungan dengan gadis itu.


Dengan menawarkan diri sebagai donatur dan pemberi bantuan kepada panti asuhan itu yang bertepatan saat itu panti asuhan itu tengah dalam masalah, Zain berhasil mengorek dengan pasti dimana keberadaan wanita yang telah menahan hatinya hampir sebelas tahun belakangan ini.


" teruslah seperti ini padaku...apapun yang terjadi tetaplah bersamaku " bisik Zain terdengar pelan di telinga Alika, tapi Alika masih dengan jelas bisa mendengarnya.


" ada apa ?! " tanya Alika, entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang tersirat dari kata kata Zain.


" tak ada...aku hanya takut kau pergi lagi dariku seperti dulu. Berjanjilah kau tidak akan melakukannya lagi " terang Zain dengan mengajak Alika duduk sembari memegang kedua tangan Alika

__ADS_1


Alika menghembuskan nafasnya dengan berat.


" tergantung..." jawab Alika


" tergantung apa...?! " tanya Zain mengerutkan keningnya


" jika aku tidak bisa mencintaimu dan aku hanya tersiksa bersamamu...masihkah kau akan menahanku ? " tanya Alika, ia merasa ini adalah kesempatan baginya membuka hati Zain.


" kau ingin pergi dariku...tidakkah kau merasa cukup hanya dengan cintaku ?! " wajah Zain mulai muram


" tidakkah kau merasa kau hanya terobsesi padaku ?! " tanya balik Alika yang mendapat tatapan tajam dari Zain.


Zain sangat tak suka dengan kata kata Alika tadi.


Ia jelas bisa membedakan mana cinta dan mana obsesi. Sedangkan perasaannya pada Alika, ia tahu persis itu adalah cinta.


Tak ada jawaban dari Zain tentang pertanyaan Alika, Alika sedikit merasa tercubit di buatnya. Apa dan siapa dirinya bagi pria di hadapannya itu sebenarnya...tanya Alika dalam hati.


Ada rasa takut terselip di hati Alika.


Benarkah pria ini hanya menjadikan dirinya sebagai budak nafsunya saja seperti yang di katakan Ricko dulu padanya.


Sementara dengan Zain, pria matang berusia tiga puluh tahun itu menghela nafas berat.


Di tatapnya dua mangkuk mi di atas meja makan.


Ingatannya melayang kepada saat saat dimana ia membuatkan Alika mi seperti ini di kamar asrama gadis itu setelah ia memaksanya lagi.


Senyum tipis tersungging di bibir Zain.


Bagaimanapun Alika menolaknya, sejauh apapun gadis itu berlari darinya. Tapi nyatanya...dirinyalah pemenang sebenarnya gadis itu.


Ia tahu Ohan telah menemukan Alika lebih dulu dan telah bersama hampir lima tahun belakangan ini, tapi tetap saja Alika tak bisa Ohan miliki.


" kau hanya milikku...baik dulu, sekarang atau nanti. Tak perduli siapa yang kau cintai....tapi satu yang pasti...kau hanya harus mencintai aku " kata Zain dengan menatap Alika lekat lekat.

__ADS_1


" ck...aku seperti orang yang DI PAKSA MENCINTAI " decak Alika yang di sambut dengan sambaran bibirnya oleh Zain.


__ADS_2