Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 90


__ADS_3

Alika nampak kebingungan menjawab pertanyaan tuan besar itu.


" maksud tuan besar...dengan keadaanmu ini, apa kamu masih bisa makan dengan benar ?! Apa kau tidak ingin muntah...atau mual mungkin " umi Khasanah berusaha menjabarkan pertanyaan tuan besar Zain.


" ya ya...itu maksudku..." sela tuan besar sambil mengangguk angguk.


Alika semakin kebingungan, kenapa bertanya seperti itu. Pertanyaan seperti itu kan harusnya di tanyakan kepada orang hamil. Aneh aneh saja....monolog Alika dalam hati.


Ya..hanya dalam hati. Alika hanya bisa berkata dalam hati.


" saya baik baik saja tuan besar...." jawab Alika kemudian,


" kalau begitu ayo kita kerumah sakit, ah tidak....kita pergi makan soto saja, kau sudah janjikan pada ku waktu itu ?! " kata tuan besar membuat Alika mengerutkan keningnga.


" ah tidak tidak...kita pergi ke rumah sakit dulu kemudian kita makan soto...ya....begitu baru benar " tuan besar meralat kata katanya sendiri membuat Alika semakin kebingungan.


" saya baik baik saja tun besar...tidak perlu ke rumah sakit " tolak Alika, pasalnya ia merasa baik baik saja lalu kenapa harus ke rumah sakit. Pikirny"


" ah sudahlah...kau jangan mengajakku berdebat kagi, bersiap siaplah...aku tunggu di depan, aku sendiri yang akan mengantarmu kerumah sakit. Cepatlah...." perintah tuan besar Zain membuat Alika menganga.


" kau juga ikut...." tunjuk tuan besar Zain kepada Umi Khasanah sebelum ia meninggalkan kamar Alika itu.


Ia menatap kearah umi Khasanah.


" sudah turuti saja...kau kuatkan berjalan ?! " tanya umi Khasana


" iya umi..." jawab Alika pada Akhirnya.


Alika baru saja sampai di ruang tamu ketika tuan besar mendekati umi Khasanah dan menyerahkan sehelai cadar kepadanya.


" pakai ini...aku tidak mau wajahmu di lihat banyak orang " katanya kemudian membuat umi Khasanah dan Alika saling pandang.


" saya tuan besar ?! " tanya umi Khasanah bingung.


Tuan besar Zain melotot kepada umi Khasanah.


" dia...kenapa kamu, kamu bukan urusanku..." jawab tuan besar sewot sambil menuding Alika dengan dagunya. Kemudian ia berlalu begitu saja.


" bawa dia bersamaku Desy..." kata tuan besar Zain lagi kepada Desy tanpa menoleh sedikitpun kepada umi Khasanah yang tak enak hati.


" baik tuan besar..." jawab Desy kemudian mempersilahkan Alika naik kedalam mobil tuan besar di ikuti umi Khasanah.

__ADS_1


Sekali lagi...Alika tiba tiba merasa sangat bahagia. Hingga ia pun sebenarnya merasa bingung sendiri denga yang ia rasakan.


Butuh waktu sedikit lama untuk tuan besar membawa Alika ke rumah sakit. Bukan karena jarak atau tempat Alika yang jauh dari rumah sakit...


tapi karena tuan besar Zain menginginkn rumah sakit terbesar yang menurutnya akan memiliki peralatan yang lebih lengkap dan jauh lebih baik dan canggih pastinya.


Hingga satu jam perjalanan mereka baru sampai di pelataran parkir rumah sakit terbesar di kota itu.


" sudah kau urus semuanya Mayc....?! " tanya tuan besar kepada asistannya begitu mereka turun dari mobil yang mereka tumpangi masing masing.


" sudah tuan besar...dokter Sherly sudah konfirmasi kepada saya.." jawab Maycle dengan pasti.


Tuan besar mengangguk kemudian mengkode agar Alika mengikuti langkahnya.


" mari nona..." Maycle mempersilahkan Alika


" kau jaga jarakmu dengannya...jangan dekat dekat dengannya " tuan besar sedikit berteriak memperingati Maycle membuat Alika tersenyum tipis merasa tidak enak pada pria itu.


Maycle segera melipir agak kesamping guna memberi jalan kepada Alika dan sedikit menjauh dari wanita bercadar itu.


Tuan besar melangkah terlebih dahulu, di belakangnya ada Alika bersisihan dengan umi Khasanah. Sementara di belakang mereka masih mengikuti yang lain.


" selamat sore tuan Kahfi...." sapa dokter Marta, sebelumnya ia telah di konfirmasi terlebih dahulu oleh dokter Sherly tentang kedatangan tuan besar Zain.


" hmm....segera periksa menantuku, pastikan dengan benar keadaannya " kata tuan besar mengultimatum.


Alika yang mendengar kata katanya barusan menoleh dan menatap kearah pria itu dengan tatapan penuh tanda tanya.


Menantu...apa aku tidak salah dengar, bisik hati Alika


" ada apa ?! Kenapa melihat ku seperti itu ?! " tanya tuan besar Zain kepada Alika, Di tanya seperti itu...jelas Alika kelagapan.


" tidak ada tuan besar...." jawab Alika dengan gelagapan. Ia segera memindahkan pandangannya kearah lain.


" aku tunggu di luar...kau temani dia " perintah tuan besar kepada umi khasanah dan di angguki oleh wanita itu.


" periksa yang benar ..jangan ada kesalahan " peringatnya lagi kepada dokter Martha sebelum ia benar benar keluar dari ruangan itu.


" baik tuan besar..." jawab dokter Martha, kemudian ia mempersilahkan Alika untuk berbaring.


Alika sedikit kebingungan dengan tindakan dokter Martha padanya. umi Khasanah mengelus bahunya.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, pemeriksaan selesai..dokter Martha mempersilahkan tuan besar masuk kembali.


" bagaimana...keadaannya ?! " tak sabar tuan besar memastikan keadaan Alika.


" selamat tuan besar...nona muda hamil, usia kandungannnya dua minggu tuan besar " jelas dokter Martha.


Alika di buat berkaca kaca. Ia menutup bibirnya dengan kedua tangannya.


Hamil...dirinya hamil kembali, ya Tuhan....


" kau dengar itu...kau hamil, kau benar hamil..." tuan besar nampak sangat bersemangat sekali, ia bericara menghadap Alika.


" iya tuan besar..." jawab Alika dengan wajah aneh, bahagia karena dia hamil kembali, tapi...dia juga bingung melihat sikap kakek tua di hadapannya itu.


Seakan pria itu sangat bahagia karena kehamilannya.


" lalu apa ada obat yang baik untuknya...lihatlah tubuhnya sudah seperti lidi kering begini " kata tuan besar kepada dokter Martha tapi tangannya menunjuk kepada Alika.


Sekali lagi Alika di buat bingung, wanita itu meringis mendengar ucapan pria tua itu.


Tadi di katakan kayu kering, sekarang di katakan seperti lidi...apa dia tidak tahu bobot ideal wanita. Monolog Alika yang merasa bobot tubuhnya baik baik saja.


" saya akan resepkan obat dan vitamin terbaik tuan besar...jika nanti nona mengalami gangguan di trimester pertama kehamilannga ini " jawab dokter Martha sambil tersenyum lembut.


" juga agar kesehatannya tetap terjaga " lanjut dokter Martha kembali.


Tuan besar mengangguk angguk mengerti.


" Resepkan obat yang menjamin kesehatan mereka berdua " kembali tuan besar memberi perintah.


Dokter Martha sedikit terdiam, namun kemudian ia segera tersenyum....


" ya tuan besar...akan saya usahakan "


Sementara Alika hanya diam dan masih sangat terkejut dengan berita kehamilannya, tuan besar Zain bahkan telah heboh menanyakan tentang banyak hal yang berhubungan dengan wanita hamil.


Apa yang boleh di makan atau tidak, apa yang boleh di kerjakan atau tidak....sungguh dokter Martha di buat sibuk dan kebingungan dengan pertanyaan pertanyaan yang terus di sampaikan pria tua berkuasa itu.


" ayo...kita pergi makan soto..." katanya kemudian sambil berdiri mengajak Alika.


Alika sontak terkejut dengan ajakan itu.

__ADS_1


__ADS_2