
Alika melangkahkan kakinya keluar dari ruangan vvip itu, ia sedikit tercengang dengan perilaku para pelayan di sana.
Tadi ketika ia berada di sana hampir setengah jam, tak satupun dari mereka yang meninggalkannya. Mereka menunduk seakan menunggu perintah darinya.
" apa anda semua ingin segera membereskan tempat ini ?! " tanya Alika dengan sopan.
" tidak nona...silahkan menikmati " jawab salah seorang yang tampak seperti memiliki posisi lebih tinggi dari yang lain.
Alika mengangguk angguk saja, akhirnya ia pun memutuskan keluar ruangan itu setelah hampir setengah jam berada di sana tanpa melakukan apapun.
Diam dan diam, akan tetapi ia semakin terkejut ketika keluar ruangan ada tiga orang wanita berseragam yang tadi membawanya menemui tuan besar Zain masih berdiri di sana.
Begitu melihat Alika keluar, tiga orang itu segera menundukkan kepala mereka kepadanya.
Alika sedikit mengerutkan keningnya tak paham.
" ada apa....apa tuan besar masih ingin menemuiku ?! " tanya Alika kemudian
" tidak nona...." jawab mereka dengan serempak, hingga ponselnya berdenting tanda ada pesan masuk untuknya.
Alika sangat terkejut ketika menerima sebuah pesan dari kontak bernamakan " KAKEK "
Kapan ia menyimpan kontak bernamakan kakek, pikirnya.
Hingga tanpa sadar Alika mengerutkan keningnya sambil mengangkat kepalanya terlalu cepat, hingga membuat tubuhnya sampai termundur kebelakang.
" nona..." tiga orang wanita berseragam itu segera memegang bahunya.
" maaf....aku hanya sedikit terkejut " jawab Alika tersenyum simpul enggan membuat tiga orang itu khawatir.
** bawa mereka bersamamu...aku tidak mau terjadi sesuatu padamu lagi seperti dramammu waktu itu, sehingga perhatian Zain kepada Nadira akan kembali terbagi, kau mengerti maksudku bukan..**
Usai membuka dan membaca pesan itu, Alika memijat kepalanya yang tiba tiba terasa pening.
Ia sedikit merasa mual.
Apa lagi ini....desisnya, ia melirik tiga orang di sampingnya itu. Ia sedikit meringis
" sepertinya anda benar benar ingin memastikan kepergian saya tuan besar " kata Alika di dalam hati.
Alika melangkah meninggalkan tempat itu dengan tiga orang wanita berseragam itu yang nampak setia mengekor di belakangnya.
Sejenak ia menghentikan langkahnya ketika matanya menangkap siluet seseorang tengah duduk sendirian di bangku yang tersedia di depan counter mall sedikit jauh darinya berdiri.
Wanita itu tampak menunduk sambil mengutak atik ponsel miliknya.
Alika menghela nafas, ia memejamkan matanya sejenak.
__ADS_1
" maaf kan aku kakak....Nadira " desisnya pelan, kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju eskalator untuk menuju lantai bawah.
Sementara, sepeninggal Alika yang turun dengan menggunakan eskalator, Nadira menatapnya sendu.
Ia memang sudah tahu akan keberadaan Alika sejak tadi.
Tapi dia memang sengaja diam.
" maafkan aku Alika..." ia pun berbisik dalam hati. Tak lama berlalu, Nadira menerima pesan masuk di smart phonenya.
** kakak...maafkan aku, aku harus pergi. Jaga dan rawat Zain... Maaf, sekali lagi maaf sudah hadir di antara kalian **
Satu pesan sukses membuat Nadira meneteskan air mata.
Ia memang telah memutuskan akan tetap bersama Zain. Akan tetapi tanpa adanya Alika,
Sekarang semua keinginannya akan segera terwujud, tapi .....kenapa ini terasa berat.
Wanita itu seakan ikhlas dan merelakan begitu saja kebahagiannya kepada orang lain.
Sekali lagi Nadira menghembuskan nafas berat, ia sedikit menyeka air mata di pipinya sampai seseorang menyodorkar tisu di hadapannya.
Nadira mendongakkan kepalanya....seulas senyum tersungging di bibir seorang pria tampan yang mempunyai garis wajah campuran asing itu.
" sepertinya anda sangat membutuhkan ini nona..." katanya kemudian pada Nadira.
Wanita cantik yang kini menutup setengah wajahnya dengan cadar itu, nampak melempar pandangannya ketempat lain.
Ia mengerjap ngerjapkan matanya untuk mengusir sesuatu yang menghalangi pandangan matanya. Sejenak ia berpikir...
Mungkinkah pria ini mengira dirinya adalah Alika.
Dengan cepat Nadira memutar tubuhnya mengahap pria di sampingnya itu. Untuk sesaat keduanya saling berhadapan.
" apa anda salah mengenali orang tuan...?! " tanyanya tanpa basa basi.
Pria itu tersenyum senyum saja tanpa merasa sakit hati atau bahkan tersinggung akan sikap Nadira kepadanya itu.
Dengan tanpa izin pria itu yang tak lain adalah Ricko Aroon Barnard. Pria berdarah campuran Indonesia - Inggris yang merupakan rekan bisnis Nadira saat ini.
Keduanya kini sama menangani proyek pembangunan rumah singgah. Telah sejak tadi duduk di sampingnya.
Nadira dan Ricko memang tengah bekerjasama dalam bidang build and property, Nadira dalam rangka mewakili perusahaan keluarganya. Sementara Ricko....ia tengah mengepakkan sayap bisnisnya sendiri. Mencoba lepas dari bayang bayang nama besar keluarganya.
" memangnya menurut anda, saya mengira anda siapa nona ....Nadira ?! " jawab Ricko sambil menekankan kata katanya dalam penyebutan nama NADIRA.
Agar wanita di hadapannya itu yakin, bahwa ia memang tak salah orang.
__ADS_1
Nadira kembali terhenyak sambil melototkan bola matanya.
Melihat ekspresi Nadira, Ricko tak mampu lagi menahan tawa.
Ricko tiba tiba tertawa lebar...
" meski anda menutup hampir semua wajah anda dan hanya memperlihatkan mata anda saja, saya masih bisa mengenali anda nona..." kata Ricko sambil terus tertawa.
Pria tampan berdarah campuran Inggris itu tak kunjung menghentikan tawanya meski kini ia mendapat tatapan tak bersahabat wanita di sisinya itu.
" menyebalkan..." umpat Nadira sembari memutar tubuhnya kembali kearah lain.
Ricko masih saja tertawa di sisinya.
Dengan jengkel, Nadira berdiri dan melangkah pergi meninggalkan Ricko yang masih saja tertawa tanpa sepatah kata.
Ricko turut berdiri dan mengikuti langkah Nadira di belakangnya, ia sedikit menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya karena terlalu lama tertawa tadi.
Nadira menghentikan langkahnya, kemudian ia menoleh kebelakang di mana kini Ricko tengah berdiri di belakangnya.
" anda mengikuti saya tuan Ricko...?! " tanya Nadira dengan ketus.
Ricko tak menjawab, ia hanya mengedikkan bahunya sambil melipat bibirnya rapat rapat. Matanya menatap kesana kemari seakan memperhatikan sekitar karena sedang mencari sesuatu.
Nadira menatap jengah kearah Ricko, tapi kemudian ia kembali memutar tubuhnya lagi dan melanjutkan langkahnya kembali.
Sampai beberapa menit, Nadira masih merasa Ricko terus saja mengikutinya.
Ia kembali menghentikan langkahnya, sambil menghentak kakinya ke lantai tempat kakinya berpijak, ia memutar kembali tubuhnya menghadap Ricko.
Ia menyilangkan kedua tangannya di dadanya, ia tak lupa menatap garang Ricko Aroon Barnard.
" berhenti mengikuti aku tuan Ricko Aroon Barnard " ucap Nadira dengan sangat geram.
" empst...anda sepertinya sangat hapal dengan namaku nona Nadira Ibrahim Khan " jawab Ricko menahan tawa setengah mati demi melihat Nadira penuh dengan tatapan jengkel kepadanya.
Entah mengapa, sejak ia melihat Nadira bersama Alika di rumah sakit waktu itu. Ia seakan memiliki pandangang yang berbeda pada wanita cantik itu.
Mendengar jawaban Ricko, Nadira semakin di buat meradang.
" jangan khawatir nona...aku hanya takut anda akan nekat dan bunuh diri dengan melompat dari lantai ini kebawah, sementara kita berdua masih harus menyelesaikan proyek kerja sama kita " jawab Ricko tanpa dosa.
Nadira menatap semakin tajam kearah Rick
" dasar gila....sudah sinting anda ya....?! " umpat Nadira lagi, dirinya benar benar di buat naik darah olah jawaban demi jawaban pria yang ia anggap songong itu.
Sejak pertama melihat Ricko dan di hari itu juga Nadira melihat dan mendengar perlakuan Ricko pada Alika dahulu. Ia sudah di buat ilfill oleh pria itu.
__ADS_1