
Plakkkk.......
Sebuah tamparan dengan manis mendarat di pipi mulus seorang pria tampan di hadapan ibunda Zaidan itu.
" tutup mulutmu itu anak muda...jaga bicaramu, sebelum aku benar benar kehilangan kesabaranku dan melupakan hubungan baik yang pernah ada di antara keluarga kita..." hardik Almayra dengan gigi yang sudah bergemerutuk menahan geram.
Ya...Almayra menampar dengan telak dan sangat keras pipi Zubair.
Sementara Zubair, ia memegangi pipinya yang tiba tiba terasa kebas karena tamparan wanita cantik setengah baya di hadapannya itu.
" Kau sadar dengan apa yang kau bicarakan, kau sadar siapa yang tengah kau bicarakan anak muda.....?! "
Teriak Almayra kini dengan geram, Zubair terdiam tanpa kata..tapi matanya menatap tak berkedip sosok wanita yang tadi telah menamparnya itu.
Ada sesuatu yang berdesir nyeri di hati pria itu, pasalnya...selama mengenal wanita itu, tak pernah sekalipun ia melihat sisi wanita itu seperti yang kini lihat.
Almayra selalau lembut dan hangat kepadanya..
Tapi ini....
" dia...." ibunda Zain itu menunjuk kearah Alika yang kini tengah berdiri tegak menghadap kearahnya dengan wajah yang telah nampak pias dan pucat. begitupun dengan tuan besar Zain.
Pria tua itu pun menatap nyalang tuan muda keluarga khan itu.
" dia .....wanita yang dengan lancang telah berani kau sebutkan namanya dengan mulutmu itu adalah seorang wanita terhormat....karena terhormatnya dia putraku mati matian memperjuangkannya....
Jangan kau pikir karena kami diam saja, kami tidak tahu apa yang sudah kau lakukan di belakang kami tuan muda Zubair " lanjut Almayra lagi masih dengan wajah geram dan menahan amarah.
" kau seorang pria baik baik anak muda, kami tidak menyalahkan perasaanmu kepada nya, kami sadar perkara hati itu bukanlah hal yang mudah. Tapi kau juga harus sadar dan bisa berpikir jernih.....jangan memaksakan perasaanmu kepadanya "
" aku....aku ...ini sulit bagiku nyonya, dia..." Zubair terbata bata
" dia adalah kebanggaan keluarga kami..." kata Almayra kemdian.
Kata kata Almayra membuat mata Zubair meredup,
__ADS_1
Sementara Alika yang melihat mertuanya mati matian membelanya merasa lega, namun demikian...ia tetap merasa tubuhnya seketika lemas.
Ia baru saja hendak melangkah menuju tiang untuk berpegangan, namun kakinya sungguh terasa lemas. Alika hampir saja kehilangan keseimbangan ketika tiba tiba sebuah lengan kekar melingkar di pinggangnya.
" sayang....!! " Zain merengkuh pinggang Alika dan membuat wanita hamil itu menoleh seketika kepadanya.
" Zainnnn....kau...." Alika tak meneruskan kata katanya karena Zain keburu menutup mulut istrinya itu dengan telunjuknya itu.
Ia tak tega rasanya melihat wajah Alika yang nampak pucat.
" bawa istrimu ke kamar Zain...dia sudah terlalu lama berdiri karena menemaniku dari tadi..." perintah tuan besar sambil menatap Alika dengan lembut dan senyuman tersungging di bibirnya untuk wanita sang cucu itu. Kemudian pria tua itu menganggukkan kepalanya.
Seakan ia ingin berkata
" jangan khawatir...semua akan baik baik saja "
" ya kakek.." jawab Zain kemudian dan tanpa menoleh atau memperdulikan sedikitpun kearah Zubair yang kini menatapnya dengan wajah merah padam, ia membimbing Alika untuk masuk kedalam mansion.
" tunggu Alika...kau tidak bisa memperlakukan aku seperti ini, dia anakku...bayi yang kau kandung itu anakku. Kau harus bersamaku.." teriak Zubair dengan tak tahu malunya, ia hendak merangsek menghadang Zain yang hendak membawa Alika masuk.
Bugh.....!!
sebuah pukulan mendarat di wajahnya yang tampan dan sebuah tendangan kaki yang keras sampai pada perutnya yang sixpack.
Zain tak mampu lagi menahan amarah yang berkobar di hatinya karena ucapan Zubair pada Alika.
Ia melepaskan pelukannya pada Alika dan beralih menghajar Zubair, Zubair pun tak mau tinggal diam..ia turut melawan, dan akhirnya....baku hantam dan perkelahian tak dapat lagi di elakkan lagi.
Tak ada teriakan atau jeritan dari Alika ataupun Almayra.
Kedua wanita itu seakan sudah terbiasa dengan pemandangan itu.
Zain berada di atas angin, ia yang memang hobi berkelahi dan balapan liar sebelumnya jelas menjadikan dia memiliki pengalaman lebih dalam hal perkelahian di banding Zubair.
Meski keduanya sama sama lihai dalam olah beladiri, namun jam terbang Zain di jalanan jauh memberikan dirinya lebih banyak pelajaran.
__ADS_1
Hingga tak butuh waktu lama ia mampu membuat Zubair babak belur dan terjungkal di lantai dengan wajah lebam dan darah mengalir di sudut sudut bibirnya.
Sementara Zain...hanya sedikit luka memar di wajah dan bibirnya, jika di bandingkan dengan Zubair...luka Zain tidak ada apa apanya.
" kakak.....!! " jerit Nadira yang tak sengaja lewat di taman itu hendak mencari Alika, namun justru melihat adegan sang kakak yang jatuh terjengkang di lantai. Wanita berhijab lebar itu segera berlari menghambur kearah Zubair.
Zain tak lagi berkata kata...ia langsung kembali mendekati Alika dan membimbing wanita itu meninggalkan tempat itu tanpa sepatah kata.
" ingatlah Zubair....jangan kau ulangi perbuatanmu lagi, itu memalukan " ucap tuan besar Zain dengan menatap Zubair sinis.
" kau bukan hanya memalukan...tapi kau juga akan berdosa, menasabkan keturunan orang lain sebagai nasabmu itu dosa Zubair " lanjut tuan besar Zain lagi yang membuat Nadira mendongak dan menatap tuan besar Zain dengan mengerutkan keningnya.
" kali ini aku memaafkanmu..tapi jika kau masih tak mau berhenti, maka jangan salahkan aku jika aku melupakan dirimu yang sebagai cucu sahabatku. Wanita itu tidak sendiri.....kami bersamanya " tegas tuan besar lagi, Zubair terdiam.
Nadira menatap sang kakak sambil mendengus kesal...
Tanpa kata lagi, tuan besar Zain pergi meninggalkan tempat itu.
" bawa kakakmu dan obati dia Nadira..." ucap nyonya Almayra kemudian turut berlalu meninggalkan tempat itu.
Nadira menjawab perintah mantan ibu mertuanya itu dengan anggukan kepalanya.
Sepeninggal orang orang dari taman itu, Nadira membantu sang kakak berdiri dan memapahnya meninggalkan tempat itu.
" hentikan kegilaanmu ini kakak....kau sudah mempermalukan dirimu sendiri, kau tidak sadar...Alika sudah sangat menghormatimu dan menghargai perasaanmu kepadanya selama ini..." kata Nadira berusaha menyadarkan sang kakak.
" Lalu ......apa lagi yang kau perbuat kini kepadanya kakak...?!" bentak Nadira pada zubair sambil terus memapahnya menuju kamarnya.
Zubair tak menjawab.
Sesampainya di kamar, Nadira mengobati luka luka di wajah kakak tampannya itu.
" sekarang katakan padaku...apalagi yang sudah kau perbuat hingga kalian berkelahi seperti itu ? " tanya Nadira pada Zubair.
Zubair diam tak menjawab.
__ADS_1