Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 85


__ADS_3

Tuan besar Zain dan Alika saling menatap. Ada trenyuh di mata Alika demi mendengar tuduhan pria itu padanya.


Sementara tatapan tuan besar Zain sarat dengan kecuigaan pada Alika.


" dia juga seorang wanita sama seperti dirimu...posisinya bahkan lebih darimu seharusnya " tuan besar kembali bersuara. Kata kata yang terasa sangat pedas di telinga.


" kau lihat pembelaannya kepadamu tadi...?! " kembali tuan besar Zain mengajukan pertanyaan kepadanya.


Alika mengangguk paham siapa yang di maksud pria tua di hadapannya itu.


" seharusnya dia jauh lebih berhak terhadap Zain di bandingkan dirimu...kau paham itu ?! "


Bagai seorang pesakitan, Alika terus di cerca pertanyaan oleh tuan Zain. Ia pun tak ada keinginan untuk sekedar meluruskan yang sebenarnya terjadi.


" beri dia waktu bersama Zain...aku pastikan kau akan tahu, siapa sebenarnya yang berada di hati cucuku "


" baik..." jawab Alika dengan cepat.


Tuan besar Zain nampak menyeringai mendengar jawaban dari Alika.


" tunjukkan padaku...mana makanan yang menurutmu enak dan cocok untukku " sebuah permintaan yang seketika membuat Alika mengangkat wajahnya kembali menatap tuan besar Zain.


" ya...." tanpa sadar ia berucap.


" ckk...kau masih muda, tapi sepertinya kau sudah mulai tuli " ejek tuan besar Zain pada Alika.


" maaf..." kata Alika kemudian, sebenarnya ia dapat mendengar dengan jelas permintaan tuan besar tadi, tapi ia takut dirinya hanya salah dengar saja.


" mana yang menurutmu makanan yang cocok untukku ?! " akhirnya tuan besar Zain mengulangi permintaannya.


Alika berdiri, mengambil piring...ia ingat Zain sangat suka nasi pecel di campur lodeh dan beberapa lauk kering lainnya.


Kemudian Alika pun mengambilkan menu itu untuk kakek pemarah itu. Ia menambahkan telur ceplok dan dendeng dagig juga sate satean.


Setelahnya ia mendekat dan meletakkan piring berisi nasi pecel lengkap itu di hadapan pria tua itu.


Tuan Zain menatap nasi di hadapannya itu. Pandangannya yang nampak aneh. Hal itu sungguh mengingatkan Alika akan ekspresi Zaidan ketika pertama kali bertemu dengan nasi pecel.


" makanan apa ini namanya ?! " tanyanya kemudian pada Alika sembari menerima garpu dan sendok yang di ambilka Alika dan sedikit mengulik ngulik makanan itu.


Alika mengangkat alisnya dan sedikit melipat bibirnya demi melihat ekspresi aneh di wajah pria tua itu.


" nasi pecel campur lodeh tuan besar..." jawab Alika kemudian. Ia hendak berlalu kembali ke tempat duduknya semula ketika tuan Zain menghentikan langkahnya.

__ADS_1


" mau kemana...duduk di sebelahku, ambilkan aku makanan yang aku inginkan nanti...." kata tuan besar Zain dengan mulai menyuap makanannya.


makan minta di layani, begitulah kira kira maksud tuan.besar Zain, tapi sepertinya ia enggan untuk mengatakannya pada Alika.


Alika menurut, ia pun duduk di sisi kakek tua itu...Alika nampak menuangkan air putih di gelas untuk kakek tua itu.


" apa ini namanya...kenapa tipis tipis begini...apa kehabisan bahan sehingga membuat yang setipis ini ?! " tanyanya pada Alika tentang makanan yang kini tengah ia pegang dengan wajah penuh tanya.


Tuan.besar Zain Almeer Al Kahfi memang tidak tahu menahu tentang makanan khas khas seperti itu.


Ia sangat jarang tinggal lama di sini.


Hampir saja Alika tak mampu menahan tawanya demi mendengar pendapat pria kaya itu ketika mereview makanan yang bertekstur kering dan kriuk itu, apalagi wajahnya ketika menggigit makanan itu.


" kriuk..."


" hmm....apa ini namanya ?! " tanyanya lagi pada Alika dengan wajah penuh keheranan.


" itu namanya rempeyek tuan besar,memang sengaja di buat seperti itu...bukan karena kekurangan bahan " Alika menjelaskan sambil menahan tawa di hatinya.


" kau juga suka makan makanan seperti ini ?! " tanyanya lagi pada Alika sambil tak berhenti menyuap makanan di piringnya.


" ya tuan besar..."


Alika mencebikkan bibirnya tanpa tahu, tuan besar tengah meliriknya.


" ya tuan..." jawab Alika kemudian.


" cihh....kau samakan aku dengan mereka begitu maksudmu ?! " protes tuan besar Zain lagi pada Alika. Walau begitu ia tetap tak menghentikan suapannya pada makanan itu.


" tidak tuan besar....makanan itu memang khas orang kampung, tapi di sini makanan itu sudah modifikasi sedemikian rupa hingga terlihat sangat exclusive " terang Alika dengan sabar, meski sebenarnya ia jengkel setengah mati.


Orang ini begitu menghina makanan yang katanya makanan orang kampung itu, tapi lihatlah...ia bahkan tak berhenti menyuap sama sekali.


" Di kampung kami makan pecel hanya berteman rempeyek saja tuan besar, sedangkan anda....ada banyak sekali macam jenis lauk menemani pecel anda, jadi tentu saja anda tidak bisa di samakan dengan orang kampung " lanjut Alika.


Tuan besar mencebik.


" ckk...sepertinya kau juga bakat menjilat, mengerikan..." cibirnya kepada Alika membuat wanita itu


memiringkan bibirnya kemudian melipatnya kuat kuat menahan sesuatu yang bergemuruh di hatinya.


Sementara tuan besar Zain sibuk meminum air yang di siapkan Alika tadi kemudian mengelap bibirnya dengan tisyu tanpa rasa berdosa sama sekali.

__ADS_1


" apa itu soto ?! " tanyanya tiba tiba


Alika sedikit tercengang.


" soto sejenis makanan berkuah berwarna kuning, yang berbahan dasar daging sapi atau daging ayam tergantung selera tuan besar " Alika tetap menjelaskan.


" apa kau juga suka ?! "


" ya tuan besar..."


" ok lain kali temani aku memakannya " kata tuan besar lagi yang sukses membuat mata Alika melotot tak percaya.


" kenapa...kau keberatan menemaniku makan makanan yang kau rekomendasikan itu ?! " tanya tuan besar Zain lagi dan semakin membuat Alika menganga.


" ha...." kaget Alika, kapan dirinya merekomendasikan makanan itu, bukannya tadi dia yang bertanya tentang soto...lalu.....


Alika benar benar di buat pusing kali ini akan perilaku prian tua itu.


" ada apa...kau keberatan ?! " tanya kakek Zain lagi.


" tidak tuan besar..." jawab Alika dengan cepat.


" ok...good " jawab tuan besar Zain.


Alika benar benar di buat tak mengerti dengan perilaku tuan besar Zain itu. Tapi ia tetap mencoba sabar dan menerima perilaku orang tua ini.


" kau ingat kata kata mu tadi ?! " tuan Zain kembali memgingatkan Alika ketika Alika telah kembali duduk di hadapannya.


" dan jika setelah kebersamaan mereka, Zain memilih Nadira...apa yang akan kau lakukan ?! "


" menerimanya tuan besar..." jawab Alika tanpa berfikir


" benarkah seperti itu ?! "


" saya sudah berucap...itu artinya saya sudah berjanji tuan besar, insyAllah jika Allah mengizinkan saya akan melaksanakan janji saya itu...anda jangan khawatir " kata Alika meyakinkan tuan besar Zain.


" tentu saja tidak...memang apa yang perlu aku khawatirkan padamu " kata tuan besar Zain ketus.


Alika kembali terdiam.


" realisasikan ucapanmu...." kata tuan besar Zain sambil berlalu meninggalkan Alika sendirian di ruangan itu.


Alika menghembuskan nafas berat sesaat. selang hampir setengah jam dari keluarnya tuan besar Zain, Alika turut meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2