
Mendengar Alika menyebut nama Nadira, Zain seketika terdiam, ekspresi wajahnya berubah. Ia sedikit menggeser tubuhnya.
Namun Alika menangkap kedua tangan Zain dan kemudian menariknya untuk kembali duduk di hadapannya.
Alika menatap teduh wajah Zain, di ciumnya kedua tangan pria di hadapannya itu. Ia mencoba untuk berusaha menenangakan hati pria dihadapannya itu. Sungguh hati Zain berdesir mendapatkan perlakuan seperti itu.
Wanita yang selama ini begitu dingin dan selalu memberinya tatapan kebencian, sungguh kini memperlakukan dirinya bak seorang raja.
rasanya sulit di percaya...ia telah mampu menggapai hati wanita itu.
" apa yang kau inginkan...sudah kukatakan berkali kali bukan " Zain berkata dengan wajah yang sulit diartikan kepada Alika
Sekali lagi Alika tersenyum lembut
" perlakukan dia sama dengan kau memperlakukan aku Zain.." kata Alika sepenuh hati, ia sungguh tak ingin sang suami menjadi seorang suami yang durhaka.
" kau sungguh rela berbagi diriku dengannya...?! " tanya Zain dengan raut wajah sendu.
" insyaAllah Zain...." jawab Alika,
sungguh setiap kata yang keluar dari mulut Alika membuat seseorang yang tanpa sepengetahuan Alika dan Zain telah berdiri di depan pintu sana, dan tidak sengaja mendengarkan perbincangan mereka sejak tadi merasakan hatinya berdesir, tubuhnya gemetar dan merinding.
Wanita itu jelas telah dengan nyata memenangkan hati dan cinta seorang pria yang diam diam juga ia inginkan, tapi ia justru merelakannya untuk berbagi.
" apa kau tidak pernah mencintaiku ?! " tanya Zain kemudian
" ini bukan lagi tentang cinta Zain, jika aku mau egois dan memikirkan cintaku saja...maka aku tidak akan pernah memintamu bersikap adil. Tapi karena cintaku yang sangat besar kepadamu...aku tidak ingin kau menjadi seorang pesakitan di hadapan-Nya nanti. Dan aku akan menjadi orang pertama yang tidak menginginkan itu...." Alika berkata dengan senyum di wajahnya.
" seperti kau rela menggadaikan dirimu demi aku, aku pun rela mengorbankan diriku demi keselamatanmu..." senyum Alika dan sungguh membuat Zain seakan membeku.
" apa ini hanya karena kau kasian padanya...?! " tanya Zain dengan menatap kelain arah. Ia tak sanggup menatap wajah Alika.
Meski wanita itu terlihat tersenyum, tapi percayalah...di balik senyum itu Zain bisa melihat perih di wajah itu yang coba di sembunyikam oleh Alika darinya.
Sungguh pemahaman Alika tentang agamanya membuat ia rela sengaja menggadaikan hatinya.
Menutupi segala perih yang ia rasa.
Zain semakin di buat merasa bersalah dan tertampar oleh pengorbanan Alika untuknya.
" kenapa aku harus kasian padanya....itu adalah haknya..." kata Alika dengan yakin.
Sunyi...tak ada lagi suara, hanya hembusan nafas keduanya yang samar samar terdengar..
__ADS_1
Bukan Zain tak paham akan kewajibannya...akan tetapi dasar dari pernikahan yang ia jalani bersama dengan Nadira seakan membenarkan segala tindakannya.
" tok tok tok...assalamualaikum..." terdengar suara dari pintu memecah kesunyian.
Alika dan Zain menoleh kearah pintu,
" waalaikumsalam...nona..." Alika sedikit terkejut melihat kehadiran seseorang yang sama sekali tidak ia duga.
Sementara Zain, menghela nafas dan membuang pandangannya ketempat lain.
"boleh aku masuk ?! " pamit Nadira, ya...orang yang membuat Alika terkejut adalah Nadira.
Nadira Ibrahim Khan...sosok seseorang yang tengah ia dan Zain bicarakan.
Sosok istri pertama Zaidan Almeer Al Kahfi.
Orang yang berdiri di hadapan pintu dan mendengar semua percakapan Zain dan Alika adalah Nadira.
Setengah mati wanita cantik berdarah Timur Tengah- India itu menenangkan hatinya...demi Tuhan, jika bukan karena merasa telah bersalah kepada Alika dan ingin menebus rasa bersalah itu...
Ia tak akan memiliki keberanian menemui wanita itu.
Betapa ia malu dengan perilakunya terhadap wanita yang telah menjadi madunya sejak hampir dua tahun lalu.
Padahal..keduanya memiliki status yang sama, istri dari Zaidan Almeer Al Kahfi.
Nyatanya wanita itu bahkan rela hanya sebagai seorang istri kedua dan menerima dirinya sebagai istri pertama seorang pria yang telah menjadi suaminya.
" silahkan nona..." jawab Alika sembari membenarkan letak duduknya, Zain membantunya kemudian segera beralih kearah sofa. Seakan ia enggan berinteraksi dengan Nadira.
Ada kejengkelan di hati Zain kepada Nadira setelah ia mengetahui dan yakin siapa dalang di balik peristiwa yang di alami Alika.
" bagaimana kabarmu..?! " tanya Nadira setelah ia mendekat kearah Alika, mencoba mengabaikan sikap Zain padanya.
" alhamdulillah nona..seperti yang anda lihat, aku baik baik saja..." jawab Alika lembut. Tak lupa ia sematkan senyum di bibirnya.
Ia mencoba menghapus kesan buruk di pertemuan terakhir keduanya.
Nadira tersenyum tipis, ia melirik sejenak Zain yang duduk di sofa sana yang nampak sibuk sedang mengutak atik lap topnya kembali.
Nadira menghela nafas sejenak...pria itu bahkan tak menyapanya sama sekali
Paham dengan arti lirikan Nadira, Alika pun turut menghela nafas.
__ADS_1
" nona baik baik saja...?! " tanya Alika merasa tak enak.
" tak ingin sekedar jalan jalan ke luar kah ?! " tawar Nadira pada Alika membuat Zain segera mengangkat wajahnya menatap Nadira dengan tatapan tak suka.
" aku hanya menawarkan ...mungkin dia jenuh di kamar " kata Nadira seakan paham arti tatapan Zain padanya tanpa melihat kearah Alika malah ia justru melihat kearah Alika.
Alika tersenyum lembut.
" mari nona.." jawab Alika sambil bergerak hendak turun dari brangkarnya. Ia paham..mungkin ada yang coba ingin di bicarakan wanita itu padanya.
" tunggu...biar aku ambil kursi roda dulu " sela Nadira sambil melangkah cepat kearah luar dan segera kembali dengan membawa kursi roda yang di maksud untuk Alika.
" nona...aku..." Alika merasa tidak enak.
" tidak pa pa... " jawab Nadira lembut, Zain segera membantu Alika pindah dari brankarnya ke kursi roda yang di siapkan Nadira.
" kau yakin Maly.." tanya Zain pada Alika dengan raut wajah khawatir.
" tak apa..." Alika tersenyum meyakinkan Zain.
" jangan khawatir ..aku akan menjaganya " kata Nadira dengan tersenyum kecut.
" jangan berpikir untuk melakukan hal yang sama seperti kakakmu " ancam Zain, Nadira membeku sejenak. Ia menggigit bibirnya
" Zain...." panggil Alika merasa tak enak pada Nadira.
" maaf..." kata Nadira kemudian, ia tak menyangka secepat itu Zain mengetahui kebenarannya.
" hmm...." jawab Zain dingin.
" mari nona..." ajak Alika berusah menggerakkan sendiri kursi rodanya.
" ah iya....sini biar aku saja " tawar Nadira
" ah tidak nona...aku..." Alika tak dapat melanjutkan kata katanya karena Nadira memotongnya.
" kau tak percaya padaku ?! " tanya Nadira dengan sarkas
" ah tidak...bukan begitu, tapi...ah sudahlah, terserah anda nona..." Alika pasrah.
" ok... " jawab Nadira, sebelum melangkah ia menoleh kearah Zain yang masih menatapnya tajam.
" berhenti menatapku seperti itu...percayalah, aku akan menjaganya seperti aku menjaga nyawaku sendiri..." kata Nadira kemudian berlalu dengan mendorong kursi roda Alika meninggalkan Zain yang masih berdiri terpekur di tempatnya.
__ADS_1