
Di rumah sakit.
Sudah tiga hari Alika di rawat, kini ia sudah mulai sadar. Siang tadi ia telah menggerak gerakkan jemarinya dan sore menjelang malam ini ia telah mampu duduk meski di topang bantal bantal yang di tumpuk.
Zain tersenyum lega mendengar berita perkembangan kesehatan Alika yang di sampaika oleh tim dokter kepadanya tadi.
Zain nampak mengusap peluh yang membasahi dahi Alika.
Ada bik Sumi di sofa sana tengah tersenyum melihat perhatian sang tuan muda kepada istri sirinya itu.
" bagaimana perasaanmu...kau sudah tidak merasa cemas dan takut lagi kan ?! " tanya Zain lembut.
Alika menggeleng perlahan.
Alika memang sudah sadar sejak siang tadi, tapi yang membuat Zain cemas...Alika tak berkata kata sekalipun.
Ia hanya mengangguk atau menggelengkan kepalanya untuk sekedar menanggapi kata kata Zain.
Tak ada senyuman di bibir Alika, wajahnya pun masih tampak pucat.
Zain dengan setia terus menemani Alika, sesekali Alika menatap sendu pria di hadapannya itu.
Sungguh kata kata Ricko dan pria yang tak ia kenal itu membuat hatinya bercabang.
" kau tidak pergi ke kantor ?? " akhirnya sebuah kata terucap dari bibir Alika untuk Zain.
Seketika Zain mendongak menatap Alika dan menutup laptopnya.
Pria itu segera berdiri dan melangkah mendekat kearah brankar Alika.
" kau sudah sembuh ?! " tanya Zain sembari menangkup wajah Alika dengan kedua tangannya. Wajahnya terlihat sangat senang.
Alika tersenyu tipis kepada Zain, tatapannya begitu sendu
" kau belum menjawab pertanyaanku...kau tidak ke kantor untuk bekerja ?! " Alika mengulangi pertanyaannya kembali.
" cup..." Zain tak kuat untuk tidak mengecup bibir Alika yang bagi Zain tengah menggodanya.
Alika mencebik sementara Zain tersenyum lebar, saat ini mereka memang tengah hanya berdua.
" tidak..." jawab Zain kemudian, wajah Alika seketika berubah sendu.
__ADS_1
" ada apa ?! " tanya Zain khawatir
" jadi benar yang mereka katakan padaku bukan..." kata Alika pelan
" tentang apa ? " tanya Zain lagi, Alika menggeleng perlahan tanpa menjawab. Ia mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela.
Zain nampak khawatir, ia duduk di sisi Alika berbaring.
Sedikit menarik tubuh Alika kepadanya kemudian ia mendekapnya erat.
" katakan ada apa...jangan membuatku khawatir " bujuk Zain lembut.
" kebersamaan di antara kita hanya akan menjadi skandal buruk bagi nama baik keluargamu. Keberadaanku di sisimu hanya akan merintangi jalanmu dan menjadikan orang lain sebagai korban " akhirnya Alika pun menjawab jujur.
Rasanya sangat sulit baginya untuk berbohong padan Zain, atau sekedar menyembunyikan sesuatu.
Zain semakin mengeratkan pelukannya.
" percayalah padaku Maly...itu tidak benar..." bisik Zain di telinga Alika.
" kau tahu tentang MAMBA....?! " tanya Zain kepada Alika dengan wajah serius
" hmm...." jawab Alika, ya Alika tahu...dia telah bekerja di sana hampir setahun menjadi asisten pribadi sekaligus penasehat keuangan Zain.
" dan kakek menjadikan MAMBA sebagai salah satu syarat untukku bisa bersamamu..."
Alika mengerutkan keningnya...
" jika aku menikahimu... Maka dalam jangka waktu satu tahun aku harus bisa membuat MAMBA bangkit kembali, dan dalam jangka waktu lima tahun aku harus mampu membuat MAMBA kembali berjaya seperti dulu, setelahnya... dia tidak akan ikut campur tangan lagi tentang rumah tanggaku bersama mu..."
Zain kembali memeluk Alika, mata Alika berkaca kaca
" aku telah berhasil mengukir namaku bersama MAMBA, tunggulah sebentar lagi...aku berjanji, kurang dari lima tahun MAMBA akan kembali berjaya " bisik Zain sembari ******* bibir Alika sesaat.
" tidakkah kau ingin tahu...bagaimana MAMBA bisa secepat ini berkembang pesat ?! " tanya Zain lagi setelah ia melepas ciumanny di bibir Alika.
Alika menggelengkan kepalanya dengan perlahan.
" aku memakai dan menjalankan planning mu kemaren juga semua prosedural yang kau buat untukku saat itu. Aku sungguh tak menyangka...kau sangat luar biasa Maly...andai kakek tahu, dia tidak akan berani berkata macam macam padamu "
" benarkah kau memakai planning dari ku itu.." Alika seakan tak percaya
__ADS_1
" kau bisa lihat sendiri nanti di laporan administrasi dan keuangan MAMBA juga pada Alex jika kau tidak percaya padaku " kata Zain meyakinkan Alika.
" apakah kau sekarang sudah tahu bagaiman posisi dan kedudukanmu begitu penting bagiku, sudah berapa ribu nyawa yang telah kau selamatkan karena semua ide idemu mampu membuat MAMBA kembali bangkit.
Kami tak lagi mencari cari investor seperti dulu...sekarang mereka sendiri yang mencari kami, menawarkan dan mempercayakan uang mereka kepada MAMBA untuk kami kelola " Zain berkata penuh kebanggaan..
Dan semua yang ia katakan memanglah benar adanya, keberadaan MAMBA sebagai perusahaan yang bergerak di bidang perputaran keuangan sangat di perhitungkan sekarang.
Dan jabatan sebagai ceo MAMBA yang kini juga membawa Zain kepuncak popularitas dan berhasil meraih gelar sebagai businessman mudah paling berpengaruh.
Alika tersenyum mendengar penjelasan Zain,
" aku tak ada kaitannya dengan perusahaan Al Kahfi selama dady masih mampu, urusanku sekarang hanya MAMBA...jadi, jangan berpikir macam macam lagi " perigat Zain pada Alika.
" hanya satu yang harus kau pikirkan...layani aku, bahagiakan aku dan...mari kita fokus pada rumah tangga kita saja, aku ingin kau menjadi pendampingku dimanapun aku berada, aku ingin melihat tawamu saat aku pulang kerja, aku ingin kita bersama bahagia dengan anak anak kita nanti...itu saja, tidak ada yang lain "
" jadi sekarang fokuskan fokusmu hanya kepadaku..." bisik Zain
Zain kembali merangsek maju memeluk Alika, dan Alika seakan tak mampu menahan derai air mata bahagia di pipinya.
Alika mencubit perut Zain dengan gemas
" ada apa...kenapa menganiaya aku ?! " tanya Zain bingung
" melayanimu kau bilang..." tanya Alika ketus,
Zain menggigit bibirnya sendiri
" oh...maaf, mari kita perindah kata katanya nona, mengabdilah kepadaku, karena aku adalah satu satunya pintu surgamu...bagaimana, sudah ok ?! " kata Zain penuh percaya diri.
Zain menggoda Alika dengan mengedipkan matanya, Alika mencebik
apakah ini nyata...benarkah penderitannya telah berlalu. Monolog Alika dalam hati.
Namun sejurus kemudian Alika kehilangan senyum di bibirnya. Wajah seseorang seakan menari nari di pelupuk matanya.
" Nadira..." desisnya dalam hati.
" sekarang...setelah tahu semuanya apa kau masih berpikir ingin pergi dariku...?! " tanya Zain pada Alika tanpa tahu yang tengah mengganggu pikiran wanita itu dan di jawab gelengan oleh wanita itu
" entahlah Zain...tapi, bisakah kita bicara sesuatu dengan benar ?! " tanya Alika pada Zain dengan tatapan penuh permohonan.
__ADS_1
" bicara tentang apa ?! " tanya Zain merasa sedikit merasakan hawa tak enak.
" tentang Nadira..." kata Alika dengan sangat hati hati dan tatapan yang sulit di artikan kepad Zain.