
Nadira baru saja keluar dari kamarnya dan meninggalkan Ricko sendirian di kamarnya demi menetralkan detak jantungnya yang terasa berdetak tak biasa karena perilaku Ricko padanya.
Ia juga sudah di buat berkeringat dingin oleh pria itu dengan tindakan tindakannya yang spontan dan sangat extrim bagi seorang Nadira yang tak pernah berhubungan dan berinteraksi terlalu dekat dengan seorang pria selain kedua kakaknya dan Zain mantan suaminya.
Nadira yang keluar sendirian tanpa Ricko melihat Alika melangkah kearah balkon teras juga sendirian tanpa seorang Zain, Nadira memutuskan mengikuti Alika..ia merasa harus bicara pada wanita itu. Terutama meminta maaf.
" Alika..." sapanya kepada wanita hamil itu ketika ia telah berada dekat dengan Alika, atau lebih tepatnya...kini ia telah berdiri di balakang tak jauh dari wanita hamil itu berdiri.
Alika dengan cepat menoleh, sejenak keduanya saling pandang.
Nadira segera melangkah maju, kemudian tanpa aba aba ia memeluk Alika, mencurahkan segala rasa yang campur aduk di hatinya. Antara rasa bersalah, juga rasa rindu.
Tak dapat ia pungkiri, kebersamaannya dengan Alika dulu memberi rasa nyaman hingga melahirkan rasa rindu yang besar ketika tak lagi bersama. Keduanya saling memeluk sembari menitikkan air mata masing masing.
Tanpa keduanya sadari...Keduanya saling merasa bersalah.
" kau hamil...berapa bulan ?! " tanya Nadira kepada Alika setelah ia mengurai pelukannya pada wanita hamil itu.
" tujuh bulan hampir delapan bulan kak....kakak apa kabar...kenapa tak pernah menemuiku lagi, kau marah padaku ?! " tanya Alika dengan mata masih berurai air mata.
Nadira menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" maafkan aku...maafkan aku Alika...aku tak sanggup menemuimu, aku merasa sangat bersalah padamu, aku merasa menjadi seorang yang telah berkhianat...." jawab Nadira dengan wajah sendu.
Kini giliran Alika yang menggeleng gelengkan kepalanya.
" tidak kakak...kau tidak punya salah apapun, kau juga bukan seorang pengkhianat. Kau hanya seorang istri yang mencoba mempertahankan rumah tanggamu..." jawab Alika membuat Nadira menatap takjub padanya.
" bukan seorang istri yang mencoba mempertahankan rumah tangganya Alika...tapi aku seorang wanita serakah yang bersembunyi di balik nama seorang istri dan cinta.
Pada akhirnya...aku tetap gagal, karena apa yang kuinginkan memang tak seharusnya ku inginkan " jawab Nadira tersenyum kecut.
Membuat Alika merasa bersalah.
" tapi jangan khawatir...sekarang aku sudah bisa menerima semuanya...Zain bukan jodohku. Kau jangan terlalu memikirkan aku lagi, seperti yang kau lihat...aku baik baik saja dan sedang menikmati kehidupanku " kata Nadira lagi dengan wajah penuh ceria.
Kini kedua orang wanita cantik itu nampak duduk di bangku yang ada di balkon itu.
Alika menatap dalam Nadira yang duduk di sampingnya. Mencoba menyelami hati wanita yang pernah manjadi madunya itu.
" kakak memerima pernikahan kakak dengan Ricko ?? " tanya Alika pada akhirnya, Nadira segera menatap kearah Alika...cukup lama ia melakukan itu.
" entah lah Alika..aku hanya sedang berusaha berdamai dengan keadaan seperti yang pernah kau sampaikan padaku dulu...." jawab Nadira kemudian.
__ADS_1
" aku memang belum mencintainya kini...tapi bukankah memang seperti itu seharusnya bagi seorang wanita.
Memulai jatuh cinta dan kemudian mulai memupuknya kepada seorang pria setelah pria itu bergelar suami kita...narsiskan aku ha ha ha..." Nadira menertawakan dirinya sendiri.
Tanpa ia ketahui dua orang pria diam diam mendengarkan pembicaraan kedua wanita cantik itu dari balik pintu yang sedikit terbuka.
Keduanya adalah Ricko dan Zain yang tengah mencari istri mereka masing masing, dan kemudian menemukannya di balkon.
Alika terdengar menghela nafas.
" kau benar kakak....memang percuma kita mencintai seseorang sebelum pernikahan, hanya membuang buang waktu dan tenaga saja. Toh pada akhirnya...dia yang kita cintai sebelum pernikahan belum tentu dia yang memang wajib kita cintai setelah pernikahan bukan...
Terdengar sedikit menyedihkan memang...tapi pada kenyataanya, kita memang di paksa mencintai..." kata Alika kemudian panjang lebar dan di iyakan oleh Nadira.
" iya kau benar sekali Alika....diam diam kita memang di paksa mencintai " Nadira membenarkan kata kata alika.
Membuat dua orang pria di balik pintu sana melipat bibirnya rapat rapat kemudian menggigit bibir bagian dalam mereka sendiri sendiri.
Kedua pria itu meringis hampir bersamaan kemudian berlalu dari sana sembari menghembuskan nafas mereka dengan berat.
Jauh di dasar hati, mereka sadar dan mengakui, memang yang sebenarnya...keduanya memang memaksa kedua wanita itu untuk mencintai mereka dengan cara paksa.
__ADS_1
Tapi..mereka juga diam diam berjanji, meski mereka melakukan pemaksaan pada awalnya, tapi selanjutnya mereka akan mempertahankan dan membahagiakan sepenuh hati.