
Nyonya Almayra, ibu kandung Zain nampak pias menatap Zaidan.
" diakah wanita yang kau perebutkan dengan Ohan ?! " tanya wanita itu kemudian. Zain terdiam tak menjawab.
" teganya kau lakukan itu pada saudaramu sendiri Zain..." sambung mami Zain tak percaya. Ia berharap informasi yang ia dengar tidaklah benar. Tapi kenyataannya.
Zain diam tertunduk.
" kau rebut cintanya, kau paksa dia bersamamu, kau paksakan dirimu kepadanya. Sekarang...kau jadikan dia wanita keduamu...."
" plakkk..." sebuah tamparan mendarat di pipi Zain. Alex memalingkan wajahnya ketempat lain sembari memejamkan matanya.
" siapa yang mengajarkanmu menjadi seorang pecundang Zain ?! " bentak nyonya Almayra lagi kepada putra semata wayangnya itu.
" lepaskan dia Zain..biarkan dia memilih jalan hidupnya sendiri...." perintah sang mami yang seketika membuat Zain mendongakkan kepalanya.
" dia istriku mi....aku mencintainya " tolak Zain.
Nyonya Almayra menatap Zain tajam sembari mendengus menahan amarah.
" sudah ada Nadira di sisimu..."
" Nadira hanya belenggu yang kakek pasang untuk menahanku mi.." jawab Zain lagi. Kali ini sang mami tidak mendebat.
Seolah menyetujui kata kata dari putranya itu,
Nyonya Almayra menahan nafas sejenak. Keluarga besar suaminya itu memang selalu seperti itu. Mengatur segalanya semau mereka termasuk dalam hal perjodohan.
" sadarlah Zain..gadis itu tidak mencintaimu, ia mencintai Ohan....mami melihatnya sendiri tadi dengan mata kepala mami sendiri bagaimana gadis itu menatap Ohan " kata nyonya Almayra dengan berat.
Ia memang melihat sendiri interaksi antara Ohan dan Alika. Meski Alika terkesan menolak Ohan...namun sebagai sesama wanita ia bisa melihat binar binar cinta di mata Alika untuk Ohan masih ada.
Zain meremat ujung kemejanya yang keluar dari celananya, kemudian tangannya terkepal erat hingga memperlihatkan buku buku jarinya.
Sakit sekali hatinya mendengar kata kata sang mami, bahwa Alika mencintai orang lain selain dirinya. Sebenarnya ia memang sudah tahu itu, tapi tetap saja mendengarnya sendiri membuat hatinya bagai teriris sembilu. Tanpa ia sadari...matanya telah mengkristal.
" mami...mami mau kemana, jangan ganggu istri Zain mi..." Zain seketika panik karena melihat sang ibu membalikkan badan hendak membuka pintu ruang perawatan Alika.
Bayang bayang sang kakek yang menyakiti Alika dengan kata katanya hingga berujung gadis itu melakukan tindakan bunuh diri membuatnya ketakutan.
__ADS_1
" tutup mulut busuk mu itu Zain..." sentak nyonya Almayra dengan mata yang melotot kepada Zain.
Alex yang berada di sana seketika membelalakkan matanya dan melipat bibirnya rapat rapat. Mati matian ia menahan tawa.
Seumur hidup bekerja pada keluarga ini, belum pernah sekalipun ia mendengar wanita cantik yang telah melahirkan seorang Zaidan itu berkata kasar seperti itu kepada putra kesayangannya itu.
Zain nampak mengusap wajahnya frustasi ketika sang ibu telah masuk kedalam ruangan. Sementara tadi dokter masih melarangnya menemui Alika.
Pengaruh nyonya Al Kahfi memang tidak bisa di remehkan....kecuali pengaruhnya pada sang putra.
Mertuanya memang mengambil alih wewenang sepenuhnya kepada pewarisnya. Termasuk putranya.
Nyonya Almayra masuk kedalam ruangan penanganan itu setelah sebelumnya ia membersihkan dirinya dengan cairan pembunuh kuman terlebih dahulu.
" bagaimana keadaannya dokter ?! " tanyanya kepada tim dokter yang memang ia tugaskan langsung menangani Alika. Yang sebagian besar adalah kaum wanita.
Di tatapnya wanita cantik yang terbaring tak berdaya di atas brankar sana.
Tadi setelah mengetahui Zain membawa Alika ke rumah sakit keluarganya ini, ia segera memberi perintah kepada pihak rumah sakit untuk segera membentuk tim untuk penanganan Alika.
Ia bahkan tak memperdulikan tatapan menghunus sang mertua kepadanya. Biarlah ia menjadi pembangkang kali ini untuk putranya.
" dia mengalami keguguran nyonya..." jawab dokter Haydi selaku kepala rumah sakit juga yang turut menangani perawatan Alika.
Nyonya Almayra terbelalak tak percaya sembari menutup mulutnya.
" awas kau zain....aku akan membuat perhitungan denganmu..." omel nyonya Almayra dalam hatinya.
" dia juga mengalami gangguan psikis yang sangat parah karena traumanya nyonya. Hingga berdampak pada tubuhnya yang menolak bersentuhan bahkan hanya berdekatan dengan seorang pria...." lanjut dokter Haydi menjelaskan.
Nyonya Almayra semakin mengeratkan rahangnya menahan amarah.
" Zainnnnn....." geramnya
" akan ku hajar kau..." dengan gerakan cepat wanita cantik paruh baya itu memutar tubuhnya sembari meraih tongkat pel pelan yang di berdirikan di pojok ruangan.
Tim dokter yang berada di sana di buat melongo tak percaya dengan tindakannya itu.
" Zain...kemari kau bocah sialan...." teriak Almayra sesampainya ia di luar ruangan, beruntung di sana adalah ruangan vvip, sehingga suasana sangat sepi dan kondusif.
__ADS_1
Ia memukulkan tongkat kayu pel itu kepada Zain, Zain yang tiba tiba mendapat serangan dadakan dari maminya itu tentu saja terkejut bukan main.
Ia mencoba menghindar dengan melompat lompat dan berlari kesana kemari.
Jangan di tanya ekspresi para tim dokter yang di buat melotot demi melihat adegan itu.
Mata mereka kesana kemari turut mengikuti pergerakan anak dan ibu yang terkenal elegant dan dingin itu.
" Zain....kemari kau, berhenti menjauh dariku....atau kau ingin seumur hidupmu kau tidak akan pernah lagi melihatku..." teriak Almayra terengah engah mengancam Zain.
Zain dengan wajah tertunduk melangkah mendekat kepada ibunya.
" mami..." desisnya pelan.
Sementara Alex, ia menatap tak berkedip pemandangan dihadapannya sambil bibirnya tak sadar telah menganga sedari tadi.
Begitu Zain berada di hadapannya, Almayra segera melampiaskan kemarahannya dengan memukul mukulkan tongkat kayu pel itu kearah kaki Zain dan tak jarang juga ke arah lengan kekar Zain.
Zain hanya mampu meringis menahan sakit tanpa berani menghindar sedikitpun atau mengadu.
Setelah puas memukuli Zaidan, Almyra terduduk lemas di bangku tunggu pasien dan masih tanpa menyadari bahwa mereka telah menjadi bahan perhatian tim dokter yang berjumlah enam orang dari balik pintu juga jendela kaca yang memisahkan ruang penanganan dan ruang tunggu.
Juga tatapan tak biasa Alex pada kedua ibu dan anak itu.
Sungguh di mata Alex kini, Zain bagai singa buas yang di buat tunduk tak berdaya di hadapan seekor kucing. Lucu memang....bisik hati Alex tertahan
" apa yang sudah kau lakukan padanya Zain, hingga membuat ia trauma sedemikian rupa..." tanya Almayra dengan suara bergetar karena kelelahan telah memukuli Zain juga karena menahan amarahnya.
Zain segera bersimpuh tertunduk di hadapan ibunya.
" aku memperkosanya mi...." jawab Zain jujur.
" Zainnnnnnn......." Almayra semakin berteriak marah sembari memegangi kepalanya yang tertutup hijan dengan kedua tangannya, ia sangat frustasi dan putus asa demi mendengar pengakuan putra semata wayangnya itu.
Mendengar teriakannya, segera para pendengar di ruangan sana membubarkan diri sendiri sendiri.
Sementara Alex, ia melotot tak percaya mendengar pengakuan tuan mudanyan itu.
" apa dia bilang...memperkosanya, kenapa harus memperkosa, bukannya dia seorang kasanova ?! Tanpa dia minta banyak wanita yang rela memberikan dia kenikmatan. Lalu kenapa ia harus susah payah memperkosa anak orang....dasar sinting " umpatnya dalam hati tentu saja..sekali lagi Alex geleng geleng kepala.
__ADS_1
" seandainya mami punya anak lain selain dirimu Zain, aku pastikan aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri ..." rutuk nyonya Almayra menahan geram.