
Alika terus diam saja meski Zain terus menggodanya
" ayolah...aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi dengan meminta berkali kali begini...tapi...aku tidak janji juga " lagi lagi Zain terus menggoda Alika, membuat gadis itu terlihat semakin sewot.
" siapa Maly...?! " akhirnya tak tahan, Alika pun bertanya kepada Zain dengan nada ketus.
Zain menatapnya seakan kebingungan tak paham arah pembicaraan sang istri.
" apa ..siapa..?! " tanya Zain cengo
" Maly kau bilang..." jawab Alika jengkel
" kau tidak tahu Maly ?! " giliran Zain bertanya, ia sedikit mulai paham arah pembicaraan Alika.
Zain tersenyum mesum pada Alika
" kau benar tidak tahu Maly ?? Tanya Zain jail dengan membenamkan wajahnya pada dua gundukan kesukaannya membuat Alika berdecih lirih.
" tidak..." jawab Alika jengkel dengan berusaha mendorong wajah Zain dari dadanya
" kau cemburu ?! " tanya Zain sembari menyeringai menaham tawa.
" tidak sama sekali....untuk apa aku cemburu " jawab Alika sok santai.
" lalu kenapa marah padaku kalau tidak cemburu " terang Zain.
" tidak...aku tidak marah, mana ada aku marah...hanya saja aku tidak terima kau menyebutkan nama wanita lain sedangkan yang kau nikmati adalah tubuhku " oceh Alika lagi mengelak dari tuduhan cemburu Zain.
Zain tertawa di buatnya, ia menoel gemas dagu Alika dan menyesap sejenak bibir tipis nan mungil itu.
" namamu Malayka Khumaira Rasyid kan..? Lalu dimana salahku kalau aku memanggilmu Maly...?! " tanya Zain sembari bangun dari berbaringnya dan duduk menghadap Alika yang masih bersandar pada sandaran tempat tidur.
Alika terdiam membisu, ia di buat speklees oleh pria di hadapannya itu yang sebenarnya adalah suaminya namun masih sulit ia terima
" katakan...dimana letak salahku, apa karena aku memanggilmu berbeda dengan mereka yang mengenalmu ?! Tentu saja panggilanku kepadamu berbeda dengan mereka...karena aku berbeda dengan mereka, aku pemilikmu...kau paham sekarang ?! " terang Zain panjang lebar.
Mata Alika tanpa sadar berkedip kedip berkali kali tanda ia sangat terkejut dan tak habis pikir.
Tak pernah terbersit sama sekali pria dingin itu punya pemikiran senarsis itu.
Alika memalingkan pandangannya dari wajah Zain kesamping. Ia melipat bibirnya yang agak melengkung keatas.
Pria ini sungguh membuat hatinya seperti naik rool couster. Naik dan turun yang menghenyakkan.
Tanpa ia sadari Zain telah kemali mengungkungnya.
__ADS_1
" satu kali lagi....cup " Zain kembali memulai aktivitas panasnya menjelang subuh dengan kecupan di bibir Alika.
Alika merengut di buatnya.
Zain tersenyum hangat, yakin...hanya Alika yang bisa menikmati senyum itu. Karena Zain di luaran terkenal dengan tipe pria yang kaku dan dingin.
Bahkan dalam keluarga pun ia terkenal seperti itu juga dan hanya kepada papy mamynya ia terkadang tersenyum dan bersikap lebih rilex. Namun sayang posisi Zain yang merupakan putra satu satunya tuan Osmand dan Almayra membuat Zain harus di tempa sejak dini karena beban tanggung jawab yang akan ia tanggung di bahunya kemudian hari. Sementara kepada tetua keluarga yang lainpun ia hanya cenderung menghormati dan menjaga sopan santun.
Bersama Alika, Zain merasa menjadi pribadi yang lain, bersama Alika ia seakan bisa melupakan sejenak beban bebannya.
Bersama Alika ia merasa bebas memanjakan diri.
" katakan padaku...kemana kau ingin mengajakku besok ?! " tanya Zain setelah ia selesai dengan aktivitasnya yang menguras tenaga dan tengah memeluk tubuh polos Alika.
" bukan aku mengajakmu...tapi aku ingin kau mengajakku " jawab Alika protes
" ok ok...kemana kau ingin aku mengajakmu besok ?! " ralat Zain.
" ke puncak ..ketempat kau pernah membawaku dulu " jawab Alika. Zain sedikit mengangkat sebelah alisnya keatas
" paralayang ?! " tanya Zain lagi dan di angguki oleh Alika.
🌺🌺🌺🌺🌺
Hari telah menjelang siang ketika Zain dan Alika nampak berdiri di pinggiran tebing yang berpagar dengan posisi Alika di depan dan Zain memeluknya dari belakang melihat para penerjun payung melaksanakan aksinya.
" mau kemana ?! " tanya Alika menolehkan tubuhnya mengikuti arah langkah Zain.
" tunggu disini aku akan membuatmu bangga padaku " pamit Zain hendak berlalu.
" Zain...!! " pertama kalinya nama itu keluar dari mulut Alika, Zain segera menghentikan langkahnya dan kembali mendekat kepada Alika.
" kau menyebut namaku ?! " tanya Zain seakan tak percaya dengan yang ia dengar. Ia meraih kedua tangan wanita itu dan menggenggamnya.
" ulangi Maly...panggil namaku dengan bibirmu ini " Zain seakan terhipnotis pada Alika hanya karena istrinya itu memanggil namanya.
Zain memang tak pernah mendengar Alika menyebut namanya sama sekali.
" kau mau apa ?! " tanya Alika kemudian tersipu malu.
Zain maju sejengkal dan mengelus pucuk kepala Alika yang tertutup hijab.
" tunggulah sebentar di sini..." pinta Zain
" kau mau terjun seperti mereka ?! " tanya Alika dengan wajah penuh kekhawatiran, entah kenapa ia tiba tiba merasa takut kehilangan Zain.
__ADS_1
" iya...kau akan lihat bagaimana lihainya aku terbang dengan parasut, kau akan bangga padaku..." jawab Zain sangat bersemangat.
" tidak usah...itu berbahaya, aku tidak suka " cegah Alika
" tapi sayang..." Zain berusaha menyanggah, dan panggilannya kali ini membuat bulu kuduk Alika berdiri.
sayang dia bilang.....monolog Alika dalam hati.
" aku lapar...aku ingin makan sesuatu, sekarang..ayo kita cari " kata Alika dengan cepat dan melangkah mendahului Zain yang masih terpekur di tempatnya berdiri.
Tapi tak butuh waktu lama ia sudah menyusul dan berada di sisi Alika sembari menggenggam tangannya.
" kau khawatir padaku ?! " tanya Zain pada Alika ketika keduanya kini tengah duduk di kafe yang juga menyediakan makanan berat.
Alika diam tak menjawab
" aku sekarang tahu...kenapa kau memutuskan tempat ini sebagai tempat kamu bersembunyi dariku " kata Zain kemudian, Alika mengerutkan keningnya.
" disini adalah tempat kita berdua pernah pacaran, kau ingin tetap mengingatku meski kau jauh dariku...oh Maly tak kusangka ternyata kau sangat mencintaiku. Terima kasih sayang " kata Zain panjang lebar menggoda Alika membuat Alika mencebikkan bibirnya.
" narsis..." omel Alika sembari melihat ke lain arah.
Namun tidak di pungkiri oleh Alika jika tebakan Zain hampir seratus persen benar.
Memang benar ia memutuskan memilih kota ini karena Zain pernah membawanya ke kota ini. Tapi soal cinta.....itu nanti dulu. Kata Alika dalam benaknya.
Zain menggenggam jemari Alika..
" Besok kita kembali ke Jakarta...kita tinggal di apartemenku untuk sementara. Kau mau kan ? " tanya Zain dengan lembut
" segera setelahnya nanti aku akan segera persiapkan rumah untuk kita dan anak anak kita nanti.." imbuh Zain membuat wajah Alika tersipu dan merona menahan malu
Anak anak kita...dia bilang. Monolog Alika dalam hati.
" hmmm.." Alika akhirnya mengangguk tanpa melihat wajah Zain. Andai ia melihatnya....ia akan temukan secercah kesedihan yang dalam di mata itu yang coba di sembunyikan oleh Zain.
" tetaplah bersamaku Maly...kau lah satu satunya tujuan hidupku. Hanya kamu " kata Zain dalam hati dengan mata yang mulai berkaca kaca menatap sendu kearah Alika yang tengah menatap ke tempat lain kini.
Ya...hati Alika masih terombang ambing, antara menerima pria ini dengan lapang hati atau ia menuruti hatinya yang tak dapat ia pungkiri, ia masih sakit hati....hatinya masih terluka dengan dalam.
Kata kata Ricko juga kehamilan di usia mudanya yang tanpa ia sadari. Dan kini....dirinya harus tiba tiba menjadi seorang istri dari seseorang yang ia anggap sebagai penghancur masa depannya.
Namun jauh di lubuk hatinya yang terdalam ada rasa kenyamanan dan rasa aman yang ia rasakan ketika berada di sisi Zain.
Mata dan hatinya pun seringkali mencari pria itu, entah sejak kapan ia sendiripun tak tahu.
__ADS_1
Dulu...jika ia teringat pria itu, ia akan mengeluarkan smart phone pemberian pria itu yang masih ia simpan dengan rapi.