
Alika sedang sibuk dengan beberapa tanaman hiasnya, sementara Zain duduk di bangku yang ada di kebun mini Alika yang memang sengaja Zain buatkan untuknya itu.
Zain tampak sibuk mengutak atik lap top yang ada di pangkuannya, hingga ia merasa sedikit jenuh dan beralih menatap Alika yang tampak tengah asyik dengan tanaman hiasnya yang hanya berdaun saja tanpa ada bunganya.
Alika memang tipe orang yang suka tanaman hias yang tak memiliki bunga. Aglonema...itu salah satu tanaman terfavoritnya.
Hingga begitu Zain tahu apa kesukaan sang wanitanya itu, ia tak segan segan mengisi kebun mini itu dengan tanaman berdaun lebar dan panjang serta berwarna sangat hijau itu.
Tak lupa ia membuat sebuah kolam ikan di sana, selain dirinya yang memang suka dengan binatang berinsang itu, tak dinyana ternyata Alika juga sangat menyukai ikan juga.
" Maly...ayolah kemari...kenapa kau hanya sibuk memperhatikan tanaman mu itu saja, dan kau malah menvabaikan aku sayang..." rengek Zain mulai jengah melihat kesibukan Alika.
" Zain...kemarilah, ayo lihatlah mereka dengan dekat. Kau akan tahu betapa cantiknya mereka " ajak Alika dengan tetap mengusap satu demi satu daun tanaman hiasnya dengan sesuatu untuk membuat daun itu mengkilap.
" ogah kotor.....Ayolah sayang...aku mau makan ini " rengek Zain lagi sambil menuding makanan yang tersaji di atas meja di hadapannya.
" mau makan yan makan saja kali Zain...tanggung ini kali... " jawab Alika dengan terus tanpa menghentikan aktifitasnya
" sayang..." teriak Zain lagi, dan akan terus seperti itu samapai Alika megalah dan mendekat kepadanya.
" ckk....kau ini, tidak lihat tangan aku kotor ini. Makan sendiri memang kenapa sich..." omel Alika, tapi tetap saja seperti biasa ia yang selalu kalah dan mengalah untuk mendekat kepada Zain meski dengan menggerutu dan bibirnya yang manyun.
Zain tersenyum lebar karena akhirnya ialah pemenangnya.
Menunggu sang istri mencuci tangan ia terus mengukuti gerak gerik Alika dengan matanya.
Pemandangan dan interaksi yang sangat akrab dengan penghuni lain rumah besar itu, karena hal itu hampir setiap hari terlihat dan terdengar.
Hal itu juga sungguh membuat bik Sumi dan bik Anti senyum senyum sendiri melihat majikan laki lakinya itu begitu kentara cintnya kepada sang istri.
Alika terlihat telaten dan sabar menyuapi Zain dengan kue yang ada di meja, sambil sesekali ikut memberi masukan dan tanggapan tentang proyek yang kini di garap sang suami.
Zain memang sering kali meminta saran dan masukan dari Alika tentang planning planning yang akan di terima MAMBA.
Dengan kata lain, Zain tetap mempergunakan sang istri sebagai konsultan keuangannya di MAMBA meski Alika tak sampai ngantor dengannya.
Itu karena ia menghindari Alika berinteraksi dengan banyak orang selain dirinya.
__ADS_1
" aku lihat..kau sudah lama tak pergi ke mansion Zain " tanya Alika, karena Zain yang hampir setiap akhir pekan dan hari hari aktif selain jam kerja selalu bersamanya.
Ia merasa tak enak hati dengan Nadira. Apalagi kini hubungannya denga Nadira sudah baik baik saja, bahkan tak jarang Nadira menemuinya di rumah ketika Zain pergi ke kantor.
" hmmm...jawab, nanti...sama kamu " jawab Zain asal dengan terus mengunyah suapan Alika dan mata yang nampak serius menatap layar monitor di hadapannya.
" pulanglah...jangan buat kakek semakin membenciku nanti, kau tahu kan kak Nadira sangat baik sekali sekarang denganku..." kata Alika sedikit berkata berputar putar.
Zain tak menjawab.
Hingga Akhirnya Zain pamit hendak mandi serta Alika yang nampak ke dapur menaruh piring bekas yang kotor.
" nona...ada nona Nadira " bik Sumi datang dan memberi tahu Alika akan kedatangan Nadira.
" ah..tumben, hari libur kak Nadira kemari...iya bik, aku akan kesana " jawab Alika kemudian.
" kak Nadira....dari rumah saja ?! " sapa Alika ketika ia telah sampai di hadapan Nadira.
" hmmm....aku pengen keluar sebentar sama kamu, keluar yuk.."
" mau kemana ?! " tiba tiba suara barinton mengagetkan dua orang itu.
Zain sedikit bersikap baik pada Nadira, dan Nadira ia mulai bisa menerima keadaan bahwa tak hanya dirinya wanita dalam kehidupan Zain.
" jangan bilang kau mau culik Malayka untuk bertemu dengan kakakmu yang kriminal itu " sarkas Zain mengungkit perilaku Zubair pada Alika, walau kejadiannya sudah sangat lama.
" Zain....sudahlah..." Alika berkata lembut, ia merasa tak enak dengan Nadira.
Nadira hanya mencebik.
" tidak akan...aku akan selalu bersamanya..." jawab Nadira menanggapi perkataan Zain.
" bagaimana...?!! "
" jangan lama lama..." kata Zain kemudian.
Alika tersenyum, dengan cepat ia berlari kearah kamarnya untuk bersiap. Tak butuh waktu lama Alika sudah siap dengan gamis syar'i nya yang berwarna hitam. Senada dengan yang di pakai Nadira.
__ADS_1
" kami berangkat dulu...." pamit Nadira kepada Zain dan Alika tersenyum kepadanya.
" tunggu di sini..." pinta Zain kemudian berlalu menuju kamarnya.
Tak lama ia turun dengan membawa sesutu di tangannya.
" kau lupa ini ?! " katanya pada Alika kemudian memasangkan kepada wajah Alika.
Sungguh pemandangan itu membuat hati Nadira menjerit.
" dasar posesif " rutuk Nadira terhadap tingkah Zain pada Alika. Ia sangat tahu maksud Zain memakaikan Alika cadar.
" kau tidak pake ?! " tanya Zain pada Nadira,
Nadira melotot di buatnya...
Kenapa berbeda...harusnya kan dia juga memasangkan untuk ku. Bisik hati Nadira jengekal.
" biar aku ambilkan...." kalimat Zain terputus karena ia segera beranjak kembali ke kamar dan segera pula kembali kehadapan mereka.
Nadira tersenyum tipis, hatinya sedikit lega.
Tapi
" ini...." Zain menyerahkan sebuah cadar kepada Nadira.
Sekali lagi Nadira di buat melotot karena ulahnya.
Apa apaan ini, dasar sinting...umpat Nadira dalam hati, sementara Alika mengerutkan keningnya demi melihat tingkah Zain.
" kenapa tidak..." kata kata Alika terputus
" terima kasih..." Nadira langsung memotong ucapan Alika karena ia cukup tahu arah dan tujuan kata kata Alika pada Zain.
Pasti dia mau minta Zain memasangkan cadar untuk dirinya.
Nadira langsung menyeret tangan Alika untuk segera berlalu dari tempat itu. Meninggalkan Zain yang seolah tak paham dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Sepeninggal Alika dan Nadira, Zain menelpon seseorang.
" ikuti dan awasi mereka....klik " sambungan terputus. Kemudian ia nampak menatap kepergian Alika dan Nadira dari balik kaca di ruang tamu itu.