
Seluruh keluarga Al kahfi dan Ibrahim Khan yang memang sengaja tidak segera meninggalkan mansion seusai acara pers konvers beberapa hari yang lalu karena masih memenuhi undangan tuan besar Kahfi juga tuan Osmand nampak duduk berkumpul di bangku taman mansion itu tanpa terkecuali.
Mereka sengaja melakukan itu untuk kembali menyambung dan membangun kembali hubungan baik di antara kedua keluarga paskah perjodohan yang gagal di antara Zain Almeer Al kahfi dan Nadira Ibrahim Khan.
Sebelumnya, tuan Ibrahim terlebih dahulu mengingatkan dengan sangat keras kepada sang putra...Zubair Ibrahim Khan untuk lebih bisa mengendalikan hati dan perasaannya terhadap menantu Al Kahfi. Yang tak lain adalah istri dari sang pewaris Malayka Khumaira Rasyid.
Terutama pandangan matanya. Tak dapat di sembunyikan lagi kekaguman pria itu kepada istri Zain itu hingga semua orang dapat mengetahuinya dengan mudah.
Rasa tertarik di hatinya kepada seorang Malayka Khumaira Rasyid sangat kentara terlihat.
Hingga ia tak lagi menghiraukan apa lagi mengingat ancaman tuan besar Zain kepadanya beberapa waktu yang lalu.
Kemaren malam saat makan malam, Zain dan Zubair hampir saja adu kekuatan karena Zain yang tak terima perlakuan dan cara memandang tuan muda Khan itu pada sang istri.
Padahal Alika telah bercadar, tapi tetap saja Zubair masih menatapnya tak berkedip. Hingga akhirnya Zain kembali membawa Alika ke kamar.
Begitupun dengan Zubair, sepeninggal Zain dan Alika dari meja makan di mansion tuan Kahfi itu, ia pun pamit meninggalkan tempat itu.
Tuan besar Zain dan yang lain menggelengkan kepala berkali kali, tuan Ibrahim dan juga nyonya Zainab pun berkali kali mengucapkan kata maaf yang tak terkira akan tingkah Zubair.
Dan pagi itu mereka secara lengkap berada di taman mansion itu dengan sengaja.
Alika nampak berjalan jalan dengan bertelanjang kaki dan terus di ikuti oleh Zain di belakangnya. Tak jauh dari keduanya nyonya Almayra turut memperhatikan Alika secara intens.
Perutnya yang kian membuncit namun bobot tubuh yang tetap tidak naik membuat Almayra khawatir.
__ADS_1
Apalagi wajah Alika cenderung pucat.
Berkali kali dokter dia minta memeriksa secara intens sang menantu, namun tetap tak ada kelainan pada kehamilan menantunya itu.
Satu pasang mata nampak terus tak berkedip menatap wanita hamil itu.
Berkali kali Abdullah menyengol bahunya namun tak ia hiraukan.
Zubair benar benar masa bodoh, ia hanya ingin menuruti kata hatinya melepaskan kerinduan di hatinya dengan menatap Alika.
Tak berapa lama, Almayra membimbing Alika yang sudah nampak kelelahan mendekat kepada para kerabat yang berkumpul.
Zain tidak ikut karena sedang menerima telepon.
" sadarlah Zubair..tundukkan pandanganmu, sungguh dia tidak halal kau pandang seperti itu.." oceh Abdullah berusaha menyadarkan sang adik yang nampak memandang wanita hamil itu penuh pesona.
Tapi sepertinya, itu tak berhasil. Terbukti pria itu nampak tak bergeming...ia tetap menatap Alika penuh puja.
Alika duduk bersebelahan dengan Nadira, sementara Almayra duduk di sisinya yang lain. wanita itu mengambil tisu dan tiba tiba membersihkan peluh di wajah Alika membuat Alika terkejut bukan main..
" mamy....maaf, biar saya bersihkan sendiri " kata Alika tak enak hati, Nadira menatapnya sambil tersenyum.
" jangan cemburu sayang....aku pastikan, perlakuan yang sama dari keluargaku akan kau terima...bahkan lebih. Aku pastikan itu.." bisik Ricko tiba tiba di telinga Nadira membuat wanita itu berjengkit kaget.
" siapa yang cemburu...sok tahu, aku bahkan senang melihat Alika di terima oleh mamy Zain.." jawab Nadira ketus, Ricko tersenyum tipis kemudian mengusap kepala Nadira.
__ADS_1
Namun hanya sebentar, ia segera menurunkan tangannya ketika melihat tatapan Abdullah dan Zubair bagai singa padang pasir yang siap menerkam dirinya.
" tidak apa apa sayang...mamy senang melakukannya. Kamu diam dan terima saja oke..." jawab Almayra sambil terus mengelap wajah Alika yang tak di tutup cadar kali ini dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Itulah juga yang menjadi alasan kenapa Zubair seolah terpaku menatap wajah Alika.
Entah lupa atau bagaimana...Alika tak menutup wajahnya dengan cadar kali ini. Memang tadi ia pikir dirinya memang hanya akan berjalan jalan dengan Zain saja di taman belakang mansion itu.
Ia pikir, pasti mereka akan berkumpul di taman depan seperti kemaren malam.
Tanpa ia ketahui...seluruh keluarga malah berkumpul disana, di tempat ia juga berada dan tengah melakukan aktifitas tanpa bercadar. kemudian tanpa terkecuali.
Tuan Osmand nampak menyodorkan segelas air
" minumlah....itu sudah ku campur dengan madu, pasti baik untuk kandunganmu " katanya kemudian pada Alika dengan hangat khas orang tua kepada ananknya, membuat wanita hamil itu seketika menjadi pusat perhatian para hadirin.
Nyonya Zainab menatap tak berkedip sosok Alika, ini kali pertama dirinya bertemu dan menatap secara langsung sosok wanita yang pernah menjadi madu putrinya.
Di dalam hatinya, ia pun mengakui segala kelebihan yang dimiliki wanita itu di banding sang putri. Nadira....
Alika sosok wanita yang begitu mempesona, ia sungguh memiliki daya tarik dan pesona luar biasa bagi seorang pria.
Wanita itu sungguh memiliki inner beauty yang power full di mata seorang Zainab Ibrahin Khan. Sehingga membuatnya ingin lebih mengenal wanita itu dan tanpa sadar ia mengaguminya sekaligus juga merasa segan.
" ckk....beruntung cucuku menyakiti seorang gadis yang tak memiliki keluarga...." kali ini tuan besar bersuara yang membuat semua orang seketika mengalihkan pandangannya kepadanya mengerutkan kening serta wajah penuh tanda tanya mengartikan kata kata pria tua itu.
__ADS_1