
Nyonya Almayra menarik tubuhnya kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku itu.
" kenapa kau menempatkan aku dan tantemu Namyra di posisi sulit seperti ini Zain...." rintih Almayra pelan. Ia menghela nafas berat.
" keangkuhanmu dan keegoisanmu bisa menghancurkan keluarga mami Zain....tante Namira dan om Altha tidak pernah membedakan antara kau dan Ohan...." Almayra menghela nafas sejenak.
" lalu bagaimana aku akan menghadapi mereka sekarang " Almayra menunduk rapuh.
" aku akan rela mengalah mami...." sebuah suara mendekat kearah keduanya. Kini Ohan telah duduk di sisi mami Zain. Almayra menatap sendu keponakannya itu.
Ohan memang sudah sejak tadi berada di sana, ia juga melihat adegan Almayra menghajar Zain habis habisan. Sesuatu yang memang jarang di lihatnya namun juga pernah di lihatnya jika saja Zain tidak keterlaluan.
" aku sungguh akan mengalah padamu Zain...tapi kumohon penuhi keinginannya...dia sudah banyak kau sakiti. Biarkan sekali saja ia memilih hidupnya sendiri " kata Ohan dengan bijak.
" asal kau tahu...dia juga menolak diriku bersamanya, andai dia mengizinkan aku membawanya pergi lima tahun yang lalu... sungguh kau tidak akan pernah menemukannya lagi Zain " lanjut Ohan.
" aku tidak bisa Han...." jawab Zain dengan suara bergetar, membayangkan Alika tak lagi berada dalam jangkauannya ia sudah ketakutan. Tanpa ia sadari seberkas kristal bening mengalir di wajahnya yang masih menunduk dengan posisi bersimpuh di hadapan sang ibu.
Ohan menyadari sejak lama, Saudara sepupunya itu telah benar benar jatuh hati pada wanita yang sama yang ia cintai.
Andai ia sadar lebih awal, sejak ia sering memergoki Zain menatap Alika dalam diam, sejak sepupunya itu selalu ada di manapun gadis itu berada meski tak pernah ia lihat ada interaksi di antara keduanya...pasti ia akan nekat membawa Alika sejauh mungkin dari Zain. Mengingat keluarga besar Zain dari pihak dadynya yang otoriter. Akan sulit bagi Alika untuk di terima di sana dengan baik meski Zain cinta mati terhadap gadis itu.
" terserah padamu...tapi aku peringatkan kepadamu, jangan memaksakan dirimu lagi padanya, hormatilah keputusannya...percayalah padaku. Jika dia tidak bersamamu...dia juga tidak akan bersamaku " kata Ohan lagi.
" aku pamit mami " kata Ohan kepada Almayra.
" kau akan kemana han..." tanya Almayra sembari mengelus rambut ikal Ohan. Sesuatu yang selalu ia lakukan kepada Ohan juga Zain sejak dulu.
Sungguh Almayra salut dan bangga dengan pola pikir keponakannya itu.
" jujur aku patah hati di sini mami... Alika juga bahkan menolakku meski ia tahu sejak dulu aku sudah mencintainya. Aku akan coba menghibur diriku sendiri dengan kembali ke Arkana " jawab Ohan sendu.
Selesai mencium tangan Almayra dengan takzim, Ohan menepuk bahu Zain kemudian berlalu dari sana.
Di hadapan Alex ia menghentikan langkahnya.
" titip dia...aku takut, dia akan menggantung kepalanya sendiri di pohon beringin belakang mansion " pesan Ohan dengan suara keras sembari melirik Zain yang kini melemparkan tatapan membunuh kearahnya.
__ADS_1
Sementara Alex hanya melipat rapat rapat bibirnya.
puas dengan selorohnya, Ohan pun benar benar pergi meninggalkan tempat itu. Mencoba meninggalkan separuh nyawanya yang di bawa Alika.
💦
Hampir seminggu Alika di rawat di rumah sakit dan hampir dua hari ia tak sadarkan diri.
Selama seminggu itupun Zain hanya melihatnya dari jauh. Bukan tidak ingin menemui...tapi sang mami melarangnya dengan alasan agar Alika bisa lebih cepat pulih. Hanya bik Sumi dan bik Anti yang setia menemaninya.
" cklek..." pintu kamar terbuka ketika Alika bersiap hendak turun dari ranjang namun segera ia urungkan.
Seorang wanita cantik paruh baya dan seorang pria yang juga hampir seusia wanita itu lebih tua sedikit mungkin dan memiliki wajah yang hampir sebelas dua belas dengan Zain nampak memasuki ruangan perawatan Alika.
" bagaimana kabarmu nak..." tanya wanita cantik itu kepada Alika setelah sebelumnya ia menjawab sapaan sopan bik Sum kepadanya.
Ia mendudukkan bokongnya di kursi sebelah brankar Alika dan diikuti pria itu yang berdiri di belakangnya juga turut memperhatikannya.
" saya baik baik saja nyonnya....maaf penampilan saya tidak sopan..." jawab Alika dengan sopan
Alika sedikit mengerutkan keningnya, kenapa ia merasa nyonya ini seakan menekankan sesuatu dengan kata kata " tak apa dia ayah Zain " seakan di sana tersirat, pria ini halal bagimu karena dia adalah ayah dari Zain yang adalah suaminya.
Alika segera mengusir pikiran itu jauh jauh, tak mungkin mereka akan berpikir seperti itu. Pikirnya.
Alika sedikit kikuk mendapat perhatian dari wanita itu.
Seorang perawat datang
" sudah siap nona...?! " tanya perawat
" mau apa ?! " tanya Almayra
" maaf nyonya...paskah keguguran kemarin, syaraf syaraf nona sedikit melemah. Dokter menganjurkan untuk sering berjemur..dan ini waktu yang bagus untuk berjemur " terang perawat itu dengan sangat sopan karna dia tahu, ia sedang bicara dengan sang pemilik rumah sakit.
" ah baiklah...ayo bik sum bantu aku membawanya ke...ah, kau baik baik saja nak " teriak Almayra terkejut karena kepala Alika yang tiba tiba terjatuh di pundaknya ketika ia memegangi tubuh Alika yang hendak berdiri.
Segera bik Sumi dan perawat itu turut memegangi Alika.
__ADS_1
" apa yang terjadi kenapa dia seperti ini..." panik Almayra
" nona kehilangm bayak darah nyonya paskah kegugurannya...ini biasa terjadi pada pasien paskah melahirkan atau keguguran " sang perawat menjelaskan.
" tetap saja...ini bahaya, ini sudah satu minggu...minta mereka memberi yang terbaik padanya " omel Almayra membuat Alika kikuk dan tak enak pada perawat itu.
" iya nyonya..." jawab perawat itu.
" dy...aku bawa menantu kita berjemur dulu, dady mau ikut..?! " tawar Almayra pada suaminya sembari memegangi pegangan kursi roda Alika.
Alika yang mendengar kata kata yang di ucapkan Almayra terkejut bukan main, apa maksud nyonya ini. Pikirnya...
" iya mi ...dululah aku akan menyusul nanti " jawab pria itu.
Tal lama Almayra mendorong kursi roda Alika menuju taman. Sungguh Alika merasa tak enak di buatnya.
" kemarilah bik Sumi...jangan jauh jauh " panggil Alika ketika mereka telah berada di taman.
" iya nona...tak apa " jawab bik Sumi tersenyum.
" kau tak nyaman denganku ?? " tanya Almayra pada Alika sembari mencondongkan kepalanya kepada Alika.
" ah..tidak nyonya.." jawab Alika kikuk.
" baiklah....bagaimana perasaanmu sekarang ?! " tanya Almayra lagi sembari lagi lagi ia membenarkan letak hijab Alika.
" saya baik baik saja nona..." jawab Alika merasa tak enak
" ah..iya..aku tahu, maksudku...itu, e...maaf...maksudku..apakah setelah keguguran kau baik baik saja.....ah, bukan begitu.
Maksudku..." Almayra jadi bingung sendiri menyampaikan maksud pertanyaannya.
Alika tersenyum lembut pada wanita itu.
" saya baik baik saja nyonya....jangan khawatir, ini bukan yang pertama untuk saya.." jawab Alika tersenyum kecut, sementara Almayra, ia sangat terkejut mendengar jawaban Alika.
" apa maksudmu....?! " Almayra sangat terkejut.
__ADS_1