Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 61


__ADS_3

Alika sedikit menahan dada Zain dan meraih jemari pria itu yang terus saja menari nari di atas tubuhnya.


" ada apa ?! " tanya Zain sembari mengerutkan keningnya.


" kamu masih sakit...." Alika mengingatkan


" tak apa...aku sudah baikan " jawabnya enteng sambil berusaha menduselkan wajahnya di dada Alika. Tangannya pun masih setia menjelajah kesana kemari.


" Zain....!! " panggil Alika lagi membuat Zain terpaksa mendongak


" apa lagi....aku kangen " rengek Zain seperti anak kecil.


" ini rumah sakit, kamu jangan ngawur dong..." Alika sedikit menahan suaranya karena jengkel pada Zain yang tak jua ingat dimana keberadaan mereka kini.


Zain seketika tertawa


" iya iya...maaf...aku lupa, habisnya aku kangen banget sama kamu " bisik Zain kemudian merebahkan lagi tubuhnya di samping Alika.


membawa Alika dalam dekapannya, mencium jemari Alika yang berada di dalam genggamannya.


" aku bersyukur hari itu aku berhasil memaksamu....kalau tidak, aku yakin hari ini tak akan pernah datang padaku. Karena kau yang pasti lebih memilih lari kepada Ohan..." kata Zain menatap Alika.


" kau...niat sekali menghancurkan hidupku rupanya ?? " jawab Alika.


" tidak ada yang seperti itu, aku hanya tidak terima kau selalu memperhatikan Ohan di banding aku, aku marah sekali kau bahkan tak pernah menganggap diriku ada.....dan menurutku jalan satu satunya membuatmu melihatku ya memilikimu seutuhnya " jawab Zain enteng.


" ngawur...dasar otak mesum, kita bahkan masih sangat kecil waktu kau melakukan itu padaku. Entah apa yang ada di otakmu.....kau bahkan sudah sering melakukan itu sebelumnya bukan ?! " oceh Alika dengan wajah masam.


Zain meringis tak berani menjawab.


" aku sudah dua puluh tahun waktu itu...usia yang cukuplah...." Zain membela diri.


" jangan pernah meminta perpisahan lagi dariku Malayka.....kumohon, aku tahu...jalan kita akan sangat sulit terlebih bagimu. Tapi percayalah hanya kau yang aku inginkan " kata Zain lagi dengan sendu mengingat penolakan sang tuan besar pada wanita dalam dekapannya itu, meski kedua orang tuanya seakan menerima keberadaan Alika,


Ia sadar status pernikahannya dengan Nadira akan sangat merugikan Alika yang hanya ia nikahi siri.


Sebenarnya ia merasa sangat khawatir dengan keberadaan Alika di sisinya selama ini.


Zain sangat tahu, pengaruh sang kakek sangatlah besar pada keluarganya. Karenanya ia harus memutar otak untuk melindungi Alika terlebih sekarang wanita itu memilihnya.


Sungguh Zain berjanji, meski nyawanya menjadi taruhannya takkan ia lepaskan Alika.


" hanya darimu aku ingin anak ku di lahirkan " lanjut Zain lagi.


Alika semakin menenggelamkan wajahnya pada pelukan Zain.


" bagaimana kalau aku tidak bisa memberikan kamu keturunan ?! " kata Alika pelan, ia takut kegugurannya yang sampai dua kali akan mempengaruhi rahimnya, meski ia tak mendengar dokter mengatakan tentang itu.


" tak apa...sebenarnya anak hanya ku jadikan alasan untuk menahanmu disisiku " kata Zain sambil mencium pucuk kepala Alika.


" kau....." Alika menggigit bibirnya tak percaya kata kata Zain.

__ADS_1


" apa kau tahu, sejak hari di mana aku memilikimu...aku sudah sangat menginginkan kau hamil. Andai hari itu kau tak lari dariku dan aku tahu kau hamil. Sungguh hari itu juga aku akan menikahimu "


Alika menghela nafas panjang.


" aku tak pernah menyesal karena pernah memaksamu..." bisik Zain lagi.


" tidurlah..kau harus banyak istirahat, bagaimana punggungmu ?! " tanya Alika


" alhamdulillah ...sudah enakan. Tingal satu kali proses terapi lagi. Temani aku ya nanti..."


" hmm....kapan boleh pulang ?! " tanya Alika lagi.


" insyaAllah besok...jadi bersiap siaplah, kau punya hutang yang harus kau bayar lunas padaku Malayka..." kata Zain sembari menduselkan wajahnya di ceruk leher Alika.


" dasar otak mesum ?! " cibir Alika yang di sambut seringai di wajah Zain.


Sabar Zain...tunggu sampai besok. Monolog Zain dalam hati.


Hari menjelang siang, matahari telah terlihat tinggi di langit menerangi mayapad.


Alika dengan telaten membantu Zain membersihkan dirinya. Dengan bumbu bumbu Zain yang menggelantung manja seperti bayi besar membuat proses bersih bersih yang seharusnya cepat menjadi lebih lama.


Usai pemeriksaan tim dokter dan Zain di perbolehkan pulang dan harus kembali beberapa bulan lagi. Alika sedang mengemas pakaian Zain di bantu bik Sumi.


Sementara Zain duduk di sofa sambil memangku laptopnya memantau perusahaanya yang kini tengah di tangani Alex.


Pintu ruangan perawatannya terbuka membuat atensi perhatian semua yang ada di sana kearah pintu yang terbuka.


Zain segera berdiri dan mendekat kearah Alika. Setelah sebelumnya ia menyerahkan laptopnya kepada Alex yang berdiri di sisinya.


Tuan besar Zain menatap tajam Alika yang menunduk di belakang Zain tak berkedip.


Begitupun Nadira. Ia melirik wanita yang berpenampilan tak jauh beda dengan dirinya itu.


Tak dapat ia pungkiri hatinya sangat sakit melihat itu.


Pria itu adalah suaminya, Zain adalah suaminya...tapi, Zain justru lebih melindungi wanita lain di hadapannya.


Nadira menelan ludahnya dengan sangat kesulitan.


" bagaimana kesehatanmu ?! " terdengar suara tuan besar Zain melontarkan pertanyaan pada sang cucu.


" baik kakek..." jawab Zain singkat


" kapan kau pulang....istrimu sudah lama menunggumu, kau bahkan tak mengabarinya kau berada disini sekalipun....suami macam apa kau ini " sentak tuan besar Zain.


Nadira memejamkan matanya sejenak.


Zain sakit dan hampir dua bulan ini berada di rumah sakit. Tapi tak sekalipun pria jangkung berwajah tampan itu mengabarinya.


Justru wanita yang tak diakui keberadaannya oleh sang kakek yang justru berada di sisi pria itu.

__ADS_1


Mirisnya nasibku....jerit Nadira dalam hati.


Andai sang kakek tak meminta seseorang mencari kabar tentang Zaidan, dapat di pastikan ia tak akan pernah mendengar kabar suaminya itu.


" kakek....kita sudah membahasnya, sejak awalpun kau sudah tahu, kenapa sekarang membahasnya lagi. Hentikan kakek " jawab Zain.


" kau...apa kau ingin melihatku mati terlebih dulu baru kau akan pulang menemui istrimu " sekali lagi tuan besar Zain bersuara keras.


" kakek...aku..." Zain tak dapat melanjutkan kata katanya.


" Zain akan pulang kakek...jangan khawatir "


Alika menyela ucapan Zaidan kepada kakeknya.


" Malayka...." Zain melotot menatap Alika, sementara Alika menggosok pelan pergelangan tangan Zaidan.


" nona Nadira juga istrimu....dia juga berhak atas dirimu, jangan membuat dosa yang tak bisa kau tebus di kemudian hari " dengan wajah lembut Alika mencoba memberi peringatan kepada Zain.


Hatinya sakit....itu pasti, tapi ia sadar dan berusaha menerima konsekuensi dari pilihannya. memilih tetap bersama Zain itu artinya ia menerima bahwa dirinya adalah yang kedua.


Ia sadar dirinya bukan satu satunya wanita yang menjadi tanggung jawab Zain kelak bahkan setelah pria itu tiada.


Ia hanya sedang mencoba berdamai dengan keadaan.


" kau tak berhak memerintah cucuku, kau sadar posisimu dan siapa dirimu. Jangan lancang..." bentak tuan besar Zain kepada Alika dengan tatapan penuh kebencian.


" kakek...." Zain tak terima Alika di bentak, akan tetapi kembali kata katanya terhenti karena remasan tangan Alika pada jemarinya.


" Maaf kakek, sungguh saya tidak bermaksud seperti itu..." Alika menundukkan wajahnya meminta maaf dengan tulus.


Zain menghela nafas sembari membuang pandangannya ketempat lain.


" segera pulang....atau kau ingin membuktikan semua ucapanku nyata atau tidak " ultimatum tuan besar kepada Zaidan dan segera membalik tubuhnya kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu


Nadira menatap sendu wajah Zaidan yang memaling ketempat lain. Sejenak matanya bertemu tatap dengan Alika.


Untuk beberapa saat keduanya saling pandang. Nadira menghembuskan nafasnya dengan berat.


Alika mendekat kearahnya setelah sebelumnya melepas genggaman tangan Zain pada tangannya.


" maaf...." seuntai kata keluar dari mulut Alika, ia paham betul dengan apa yang di rasakan wanita di hadapannya itu.


Nadira sekali lagi mengehembuskan nafas dengan berat. Ia melipat bibirnya rapat rapat. Seakan ia mati matian sedang menahan sesuatu yang bergejolak di hatinya.


" suami anda akan segera pulang...jangan khawatir " lanjut Alika.


Nadira tak menjawab, namun kemudian ia melangkah mendekat kearah Zain.


" cepatlah pulang....ada yang harus kita selasaikan " katanya kemudian kepada Zain dan berbalik hendak berlalu.


Namun ia menghentikan langkahnya di sisi Alika. Melirik sejenak Alika kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan itu menyusul tuan besar Zain.

__ADS_1


__ADS_2