
Alika menyelesaikan masakannya yang berupa nasi goreng yang pure hanya nasi goreng saja, ia memindahkannya di atas piring.
" bawa kemari..aku lapar sekali " pinta Zain, Alika berdecak kesal tapi ia menurut saja. Mata Alika melirik tak suka dengan tatanan ruang tamunya yang berantakan tak karuan.
Ia sangat tak suka ke tidak rapian seperti ini, matanya seperti sakit melihatnya.
" itu salahmu sendiri..kenapa kau membual keterlaluan begitu padaku, kemari..." kata Zain seolah paham arti tatapan Alika pada sekitarnya.
Dan begitu Alika mendekat padanya ia segera menarik salah satu tangan Alika yang tidak memegang piring kemudian ia sendiripun berdiri dan membawa Alika duduk di kursi panjang agar keduanya bisa duduk bersisihan.
" makanya pakai otakmu sebelum kau berbohong padaku...kemari aku bilang " kata Zain lagi sembari menarik pinggang Alika agar mendekat kearahnya.
" apa sih...lepas, kau bukan muhrimku " bentak Alika jengkel karena Zain yang terus saja menyentuhnya.
Bukannya marah, Zain malah tertawa mendengar ucapan Alika.
" tenanglah...aku akan segera mewujudkan keinginanmu " kata Zain ambigu membuat Alika mengerutkan keningnya bingung.
" apa maksudnya ?! " pikir Alika.
Alika akhirnya diam, ia tak lagi menolak ketika Zain terus memeluk pinggangnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menyuap nasi goreng.
Menolak pria ini sangatlah percuma, sekuat apa ia menolak pria ini akan semakin menjadi padanya
Alika mengalihkan pandangannya ketempat lain. Ia masih tak menyangka kenapa ia bisa kembali terjebak dengan laki laki ini setelah sepuluh tahun pelariannya.
Sesudah menyelesaikan makannya, seseorang mengetuk pintu, Alika kelabakan di buatnya.
Pasalnya kini ia tak tahu siapa yang datang dan dirinya dalam keadaan tidak berkerudung.
" masuk...! " perintah Zain membuat Alika melotot kearahnya. Akan tetapi Zain tak menghiraukannya, ia melepas jas nya dan menutup kepala Alika dengan jas itu kemudian segera merangkulnya.
tiga orang nampak masuk kedalam rumah.
" bersihkan tempat ini, istriku tidak suka ketidak rapian " perintah Zain membuat Alika terdiam seribi bahas. Lagi lagi pria itu menyentuhnya seenak jidatnya.
" baik tuan..." seremapak tiga orang laki laki itu menjawab.
Zain menggiring Alika masuk kedalam kamar.
__ADS_1
sesampainya di sana Alika segera melepaskan diri dari pelukan Zain dan mendorong pria itu dengan kasar.
" berhenti berbuat semaumu padaku tuan muda....keluar dari kamarku " bentak Alika menahan geram. Tak dapat ia pungkiri ia yang ketakutan sebenarnya kepada Zain. Tapi ia harus menjaga marwah dirinya.
Zain menatap tak berkedip sosok wanita di hadapannya itu.
" kenapa melihatku seperti itu...oh....aku tahu...kau ingin memperkosaku seperti dulu lagi iya ?! " sekali lagi Alika berteriak. Air mata berderai di matanya.
" tidak lagi tuan muda Zaidan, tidak akan aku biarkan lagi..."
" memangnya apa yang tidak akan bisa aku lakukan padamu.." kini Zaidan menjawab dan mulai melangkah maju dengan pelan.
" kau milikku dulu sekarang atau nanti....hanya aku orang yang berhak atas dirimu..."
" bajingan kau...apa kau pikir aku adalah budakmu, belum puas kau menghancurkan hidup ku hah...katakan padaku dosa apa yang telah aku perbuat padamu hingga kau menghancurkan hidupku sedemikian rupa...!! " sentak Alika lagi, ia benar benar telah kehilangan kewarasannya karena rasa takut yang berlebihan yang ia rasakan pada Zaidan.
Ia memendam kebencian yang begitu dalam kepada pria itu tanpa ia dapat berbuat apa apa untuk membalaskannya.
Zaidan semakin maju kedepan, dan Alika semakin histeris di buatnya. Bayang bayang malam kelam yang di lakukan Zaidan padanya menguasai kepalanya serta kata kata terakhir yang terucap dari mulut Ricko tentang perintah Zaidan kepada pria itu terhadap dirinya sungguh bagai kaset rusak berputar di kepalanya.
" berhenti kau disana...aku bersumpah jika kau terus melangkah maju kau akan bertanggung jawab atas mayatku besok " ancam Alika, tapi sungguh tak mempan pada seorang Zaidan Almeer Al Kahfi.
Zain menghimpit tubuh Alika kedinding dan memegang kedua tangannya kebelakang tubuh.
Alika meronta lagi sekuat tenaga, setelah mampu melepaskan diri dari ciuman Zain tubuh Alika merosot kebawah.
Ia menangis sejadi jadinya, dalam kurun waktu hanya beberapa jam saja pria ini sudah berhasil menciumnya hingga beberapa kali. Sungguh ia merasa tubuhnya sangatlah kotor.
Zain terduduk di hadapan gadis itu.
" lepaskan aku...aku mohon, lepaskan aku " rintih Alika, Zain menggeleng.
" biarkan aku dengan kehidupanku sendiri.." masih dengan merintih Alika bersuara.
Beberapa menit kemudian Zain mengangkat tubuh lemas Alika keatas tempat tidur. Ia duduk di sisi pembaringan menghadap Alika.
Segera Alika bangkit dan hendak berdiri tapi Zain menahannya hingga ia terduduk kembali di hadapan pria itu.
Sungguh posisi itu semakin membuat Alika ketakutan.
__ADS_1
" persiapkan dirimu...secepatnya kita akan menikah" kata Zain membuat Alika membulatkan matanya tak percaya.
" dan satu lagi...jangan coba coba lari lagi dari ku, aku bukan Zain sepuluh tahun yang lalu yang pernah kau kenal dulu, kau tidak tahu seberapa besar kekuasaanku kini. jika kau tidak ingin ada yang menjadi korban karena ulahmu....jadi menurutlah, jangan libatkan siapapun dalam hubungan kita termasuk Ohan. " ancam Zain pada Alika.
" aku tidak mau menikah denganmu " jawab Alika marah.
" mau atau tidak aku tidak akan perduli, aku akan tetap menikahimu " jawab Zain sambil berdiri dan melangkah hendak menjauh dari Alika.
" kenapa...kenapa kau menyiksaku, kenapa tidak kau bunuh saja aku " pinta Alika dalam keputus asaannya.
Zain yang kini berdiri membelakanginya memutar tubuhnya lagi menghadap Alika.
" jika kau berani bersama pria lain selain diriku...aku akan membuat mu merasa bersalah seumur hidupmu karena telah berani bersama dengan selain aku " kemudian Zain keluar dari kamar itu dan membanting pintu dengan kasar.
Sepeninggal Zain gadis itu menangis sejadi jadinya, ia sungguh meratapi nasibnya. Ada rahasia apa di balik takdirnya bersama pria pemaksa itu.
Akankah setelah sepuluh tahun pelariannya dan dirinya yang mati matian berusaha membangun kembali kepercayaan dirinya, dia harus kembali jatuh ke tangan pria pemaksa itu.
Kenapa ia bisa bersikap tegas kepada pria lain tapi dihadapan Zaik dirinya seakan tak punya kuasa bahkan pada dirinya sendiri.
Puas menangisi takdirnya, Alika kini nampak tengah bersujud mengadukan cerita hidupnya kepada sang Maha pencipta.
" cklek..." pintu di buka dari luar dan Zain melangkah masuk dengan tenangnya seakan ini adalah rumahnya membuat mata Alika membelalak lebar.
Sejenak kedua mata mereka bertemu. Alika segera memalingkan wajahnya lebih dulu, sementara Zain...bibir atasnya sedikit melengkung keatas.
Alika kembali di landa rasa takut dan khawatir. Ia melirik pria itu dengan ekor matanya. Ia pikir pria itu telah pergi dari rumahnya. Ternyata dia masih ada.
Alika menghelas nafas dalam dalam.
Dia akan mencoba bicara baik baik dengan pria itu yang kini nampak masuk kedalam kamar mandinya.
Sungguh Alika di buat tak habis pikir dengan kelakuan Zain.
" dasar tak punya malu.." decak kesal Alika ketika Zain keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Alika berdiri dan melipat mukenanya.
" mari kita bicara...aku tunggu di luar " kata Alika sembari akan melangkah keluar tapi di hentikan oleh Zain.
__ADS_1
" tunggu..." cegah Zain, Alika mengerutkan keningnya. Dengan wajah tak suka ia menoleh.