Dipaksa Mencintai

Dipaksa Mencintai
bab 80


__ADS_3

Alika dan Nadira telah nampak berada di taman rumah sakit. Keadaan di sana cukup ramai karena orang orang yang mungkin punya kepentingan yang sama dengan mereka.


Keduanya duduk bersisihan, meski Alika duduk di kursi roda dan Nadira duduk di bangku yang memang telah ada di taman itu.


Penampilan dua wanita cantik dengan gamis syar'i itu cukup manarik perhatian banyak orang.


Tak sedikit yang berdecak mengagumi penampilan mereka yang berbalut gamis syar'i yang sukses menutup semua aurat keduanya.


Kedua wanita cantik itu nampak sama sama memperhatikan lalu lalang dan aktifitas orang orang yang tak jauh beda dari mereka itu.


Berusaha menghilangkan jenuh akibat perawatan rumah sakit terhadap sakit yang mereka derita, atau mereka memang sengaja beraktifitas di taman ini karena pekerjaan mereka.


" bagaimana perasaanmu sekarang ?! " Nadira memulai percakapan, ia merasa sudah cukup lama keduanya berada dalam kebisuan.


" alhamdulillah nona..." jawab Alika sopan dan lembut.


Terdengar Nadira menghela nafas berat,


" maaf jika perkenalan di antara kita di awali dengan kesan buruk dariku..." terucap permintaan maaf dari mulut Nadira yang membuat Alika segera beralih menatapnya.


Alika turut menoleh kepada Alika, seulas senyum tipis tersungging di bibir Nadira.


" nona...!! " Alika merasa tak enak hati, ia sedikit merasa takut dengan pendengarannya sendiri. Apa ia tak salah dengar....bisiknya dalam hati


" bisakah kau hanya memanggilku dengan nama saja ...?! " lanjut Nadira, membuat Alika semakin dalam menatapnya


" nona...apa maksud anda ?! " tanya Alika tak dapat menyembunyikan kebingungannya.


" tidak bisa ya...apa yang sudah aku katakan padamu di pertemuan terakhir kita memang sudah keterlaluan bukan, pasti sangat sulit bagimu memaafkan aku " sambung Nadira lagi


Alika tampak mengerutkan keningnya, mencoba mencerna kata demi kata yang ia dengar dari bibir wanita cantik di sampingnya itu, benarkah nona muda keluarga Ibrahim Khan ini meminta maaf kepadanya.


Memang siapa dirinya hingga Nadira mau meminta maaf padanya. Pikir Alika


Tak tahu saja Alika meski Nadira boleh saja terlahir dari keluarga konglomerat, tapi keluarganya tak pernah menanamkan bibit kesombongan padanya. Hanya saja ia memang tipikal orang yang sulit bergaul dengan orang lain jadi ia lebih terkesan angkuh dan tak perduli.


" nona...bukan begitu maksud saya, hanya saja saya..."


" kalau begitu panggil saja aku dengan namaku saja, hmm...." pinta Nadira lagi


" nona..ini tidak pantas, saya dan anda..." Alika tak mampu melanjutkan kata katanya karena Nadira yang kini memiringkan kepalanya kemudian menatapnya lekat dan tajam.


" aku rasa...aku tidak terlalu tua kan untuk kita berteman ?! "


" nona...." ucap Alika masih merasa tidak enak


" Nadira..." sergah Nadira

__ADS_1


" baiklah..tapi bolehkah aku memanggil anda kakak saja ?! " Alika ganti meminta, ia merasa sangat tidak sopan jika harus memanggil Nadira dengan menyebut namanya saja, jadi lebih baik ia memanggilnya dengan sebutan kakak saja.


Setidaknya itu memang seharusnya ia lakukan mengingat Nadira adalah istri pertama suaminya.


" kenapa begitu, apa kah aku terlihat sangat tua ?! " tanya Nadira dengan sedikit mengangkat alisnya keatas.


" tidak.. bukan begitu...walau bagaimanapun aku memang harus memanggilmu seperti itu. Sejak awal sebenarnya aku ingin memanggilmu kakak...tapi..." kata kata Alika terjeda cukup lama, ia merasa kesulitan menyampaikan yang ia rasakan. Dan beruntung..sepertinya Nadira paham akan hal itu.


" tidak usah di lanjutkan, aku tahu...sikapku kepadamu memang sudah keterlaluan. tapi kenapa ingin memanggilku kakak, secara umur kita tidak berbeda jauh bukan....?! "


" karena kau istri pertama suamiku, aku harus menghormatimu.."


Nyesss.....


Hati Nadira bagi tercubit demi mendengar pengakuan Alika, ia berasa tertampar dengan sambutannya terhadap istri kedua suaminya itu di masa lalu.


Nadira menghembuskan nafasnya dan melempar pandangannya ke lain arah.


" semudah itu kau menerima diriku sebagai madumu ?! " terlontar juga kata kata itu dari mulut Nadira.


" terkadang berusaha menerima dan menjalani takdir itu akan lebih baik untuk kita menjalani kehidupan. Toh...bukan hanya dia satu satunya pria di dunia ini yang memiliki lebih dari satu wanita dalam kehidupannya " jawab Alika sembari melempar pandangannya juga ketempat lain.


Tak dapat ia sembunyikan, sebenarnya ia pun sakit mengakan itu


" Aku sudah pernah berlari sejauh mungkin darinya, hingga sepuluh tahun lebih...tapi takdir masih saja mempertemukan kami, malah menyatukan kami dalam ikatan pernikahan..." lanjut Alika lagi.


" entahlah kakak...aku juga tidak tahu...."


" jika mungkin kita memang telah berjodoh dalam takdir ini...mungkinkah kita memang mampu menjalani. Ini sangat sulit bagiku Alika....


Dia tak mungkin meminta perpisahan dariku karena bisnis keluarga kami menjadi taruhannya, sementara kau...dia tak mungkin melepasmu karena kau lah cintanya " kata Nadira, ia menoleh ketempat lain dan menghapus sesuatu yang sebening kristal yang menitik di matanya.


Jujur hatinya sangat sakit mengakui Zain yang nota bene adalah pria yang telah menikahinya meski apa alasan di balik itu memang sangat mencintai wanita lain selain dirinya, yakni....Alika.


Alika menghela nafas berat.


" kau lihat ikan ikan di kolam itu kakak....mereka hidup di satu tempat yang sama dengan jumlah yang sangat banyak, tak tahu siapa yang lebih dulu di lepaskan atau yang belakangan di lepaskan di sana, tapi mereka tampak baik baik saja menjalani kehidupan mereka " kata Alika sembari pandangannya mengarah kearah kolam di hadapannya sana,


Nadira mengikuti arah tatapan Alika.


" mungkin kita memang sengaja di berikan ladang yang sama untuk kita mencari keridhoan-Nya " jawaban Alika sukses membuat Nadira membeku.


Memang apa yang sebenarnya ia cari di dunia, hingga ia pun menutup rapat tubuhnya dengan pakaian serba besar di tubuhnya, jika bukan karena ingin menggapai keridhoan -Nya, lalu apa bedanya menjadi istri satu satunya atau tidak jika apapun yang sebenarnya yang terjadi adalah atas seizinNya.


menjadi istri satu satunya atau tidak, tujuannya tetaplah sama...DIA


" mungkin kau benar Alika....satu satunya yang harus kita lakukan hanyalah mencoba berdamai dengan keadaan dan menerima takdir " kata Nadira terdengar sedikit pelan.

__ADS_1


Alika sekali lagi mencoba tersenyum


" aku tahu kakak...ini tidak akan mudah...tapi percayalah kita tidak sendiri...kita hanya butuh saling menguatkan " sambut Alika


" ya kau benar...mari kita sama sama mulai menyakiti hati kita masing masing ha ha ha...terdengar sedikit gila kan, tapi memang inilah kenyataanya...kita sama sama korban keadaan " kata Nadira sambil tertawa


Begitupun Alika, keduanya nampak tertawa bersama, mentertawakan takdir mereka masing masing yang terasa lucu tapi juga menyedihkan. Tanpa mereka sadari ada tiga orang pria tampan berbeda tempat tengah memperhatikan keduanya.


Ricko yang berdiri di balik pilar, sedikit berdesir melihat tawa tersungging di bibir Nadira.


Ia tak pernah melihat wanita cantik itu tertawa secantik itu selama mereka bersama dalam kerjasama bisnis mereka selama ini.


Sementara di belakang kedua wanita itu tertutup tanaman hias besar, Zain tersenyum miris mendengar percakapan dua wanita dalam hidupnya itu.


Ia merasa dirinyalah pokok dari permasalahan kedua wanita itu sebenarnya.


Jika saja sang kakek tak mengatur perjodohannya dengan Nadira, andai saja ia tak memaksakan dirinya pada Alika. Mungkin kedua wanita itu sudah hidup bahagi dengan kehidupan masing masing.


Dan di tempat paling jauh di sana, Zubair Ibrahim Khan, pria tampan yang telah jatuh hati pada Alika sejak pertemuan mereka yang pertama, mati matian menahan mempertahankan kewarasannya demi melihat Alika.


Zubair memang sengaja mengikuti Nadira ketempat ini tadi. Tak di sangka ia malah melihat wajah cantik Alika yang menyiksa perasaanya.


Antara rasa bersalah dan rasa menginginkan.


Ya Tuhan...kenapa kau buat aku menemukannya, tapi kau juga membuatku haram mengharapnnya.


Malang sekali nasibku...rintih Zubair dalam hati.


" ikhlas memang tidak mudah kakak, dia juga tidak datang begitu saja bukan....keterpaksaan dan ketidak berdayaan akan berakhir dengan ikhlas. kau setuju dengan ku.." hibur Alika pada dirinya sendiri tapi ternyata cukup mengena juga pada Nadira.


Sekali lagi Nadira tertawa demi mendengar ucapan Alika.


" sepertinya kau salah jika menjadi seorang konsultan keuangan Alika.." cibir Nadira


" lalu.. ?! " tanya Alika mengerutkan keningnya menatap Nadira


" kau lebih cocok menjadi pujangga dan seniman "


seloroh Nadira.


seketika keduanya kembali tertawa...


" boleh aku memelukmu...?! " tanya Nadira dengan tatapan memohon kepada Alika,


Alika tersenyum dengan mata berkaca kaca. Ia merentangkan kedua tangannya dan tak butuh waktu lama Nadira menghambur memeluk Alika.


" maaf...maaf...." disela isaknya Alika berucap

__ADS_1


" maaf karena telah hadir di antara kalian " lanjutnya berbisik di telinga Nadira. Dengan cepat Nadira menggeleng.


__ADS_2