DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 100 (MEMPERCEPAT PERNIKAHAN)


__ADS_3

Marhaban ya ramadhan, alhamdulillah kita sudah memasuki bulan yang suci nih kakak-kakak... Semoga kita semua di berikan kelancaran menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan, aamiin...


Author minta maaf kalau selama ini ada salah kata dan perbuatan yang menyinggung kakak-kakak semuanya...


Selamat menjalankan ibadah puasa kakak-kakakku tercinta~~


***


“Saya merasa sesak, andai bisa saya ingin menggantikan kamu dari pada saya haris di hantui dengan rasa cemas setiap harinya.” Jelas Gibran.


Karren menatap wajah Gibran dengan tatapan sendu, Karren semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Gibran.


“Aku ga nyangka ternyata kamu secinta itu sama aku.” Ucap Karren yang masih memeluk tubuh Gibran.


“Kamu tidak usah meragukan perasaan saya, kalau saya tidak cinta saya tidak akan melamar kamu.” Balas Gibran.


“Ya siapa tau aja kamu ngelamar aku karena mama kamu yang nyuruh kamu cepet nikah.”


“Engga, ini bukan karena permintaan mama, tapi karena permintaan hati saya.” Ucap Gibran.


Karren tertawa dengan keras saat mendengar ucapan Gibran yang tidak pernah dia dengar sebelumnya.


“Kamu ini lagi gombalin aku ya? Aku kasih saran nih mas, kamu jangan sering-sering nongkrong sama papi deh, dia itu diam-diam pinter gombal loh.” Ucap Karren.


“Kamu ini, nanti saya bilangin papi kamu loh.” Ucap Gibran sambil menggelengkan kepala mendengar Karren membicarakan papinya.


“Bilang aja, aku ga takut tuh.” Sahut Karren sambil menjulurkan lidahnya ke arah Gibran.


Karren terus memasang wajah meledek ke arah Gibran, lalu tiba-tiba saja Karren membeku saat Gibran mencium keningnya.


Ya, laki-laki yang selama ini kaku seperti kanebo berinisiatif untuk mencium Karren lebih dulu dan itu membuat Karren terkejut.


“Ayo makan lagi!” perintah Gibran kepada Karren dan mengambil mangkuk bubur yang tadi di letakkan di atas nakas.


“Engga mau, aku ga suka rasanya ga enak.” Rengek Karren.


“Ya emang kayak gini makanan rumah sakit, makanya kamu jangan sakit kalo mau makan yang enak.” Ucap Gibran.


Mulut Karren terbuka ingin mengatakan sesuatu, namun sebelum suaranya keluar Gibran langsung menyuapkan makanannya ke dalam mulut Karren.


Dan mau tidak mau akhirnya Karren mengunyah makanan yang tidak enak itu. Menurut Karren, lebih enak bubur bayi yang berbagai rasa dari pada makan makanan rumah sakit seperti ini.

__ADS_1


“Udah mas, aku udah kenyang.” Rengek Karren dengan wajah memelas berharap Gibran akan memberikan keringanan untuknya.


“Sedikit lagi, ayo buka mulutnya.” Ucap Gibran sambil memaksa Karren untuk membuka mulutnya.


Karren pasrah, dia memakan makanan yang di berikan Gibran kepadanya, mulutnya mengunyah tanpa semangat.


“Udah cukup! Aku mual kalo di paksa terus.” Ucap Karren sambil menutup mulutnya sendiri.


Gibran menghela nafas panjang, lalu dia mengangguk dan menaruh mangkuk bubur di atas nakas, tangannya beralih mengambil air mineral dan memberikannya kepada Karren.


“Sudah, sekarang lebih baik kamu istirahat saja, aku akan menjaga kamu.” Ucap Gibran yang sudah menaruh kembali gelas air mineral di atas nakas.


Karren tiba-tiba tersenyum jail, otaknya yang sudah beristirahat cukup lama itu mulai bekerja kembali. Melihat ekspresi yang di tunjukkan Karren membuat Gibran mengerutkan keningnya.


“Kenapa kamu senyum-senyum begitu?” tanya Gibran.


“Tempat tidurnya masih lega nih, kayaknya muat buat kita berdua, kamu ga mau ikut gabung istirahat di sini?” tanya Karren dengan tatapan menggoda.


Mendengar ucapan Karren membuat Gibran melotot, dia tidak percaya baru saja Karren sadar tapi otaknya sudah mulai bekerja untuk menggodanya.


“Jangan aneh-aneh!” tegas Gibran yang di balas tawa oleh Karren.


“Hahaha, kamu ini lucu sekali sih mas.” Ucap Karren sambil menghapus air mata yang keluar dari ekor matanya.


“Siap dosen cintaku.” Ucap Karren sambil mengedipkan sebelah matanya lalu membaringkan tubuhnya di bantu oleh Gibran.


Gibran segera menyelimuti tubuh Karren dan duduk di kursi yang ada di sebelah bankar untuk menjaga Karren.


Karren memiringkan tubuhnya dan saat ini posisi tidurnya menghadap ke arah Gibran yang sedang duduk dan membuka ponselnya.


“Mas...” panggil Karren perlahan.


“Hem? Ada apa?” tanya Gibran yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Karren.


“Aku sangat sangat mencintaimu.” Ucap Karren sambil menggenggam tangan Gibran.


Gibran tersenyum, dia tersipu malu mendengar ungkapan cinta dari Karren secara terang-terangan begini.


“Kamu ini masih sakit sudah senang menggoda orang saja!” ucap Gibran sambil geleng-geleng kepala.


“Ih biarin aja, kalo aku udah bisa godain kamu gini tandanya aku udah sembuh dan baik-baik saja.” Balas Karren sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


“Iya iya syukurlah karena kamu sudah bisa menggoda orang lagi.” Balas Gibran.


“Kamu kok ga balas ucapan cintaku sih?” protes Karren.


“Aku juga mencintai kamu, sangat mencintai kamu mahasiswi penggodaku.” Balas Gibran.


Karren tersenyum puas, biarlah dia di bilang penggoda toh dia hanya menggoda Gibran saja namun tidak pernah menggoda laki-laki lainnya.


Gibran terus menunggu Karren sambil menggenggam tangannya sampai Karren benar-benar terlelap. Setelah Karren tertidur, Gibran melepaskan genggaman tangan Karren dengan hati-hati lalu pergi ke luar ruangan untuk menemui semua orang yang sedang berada di luar.


“Gibran? Kenapa kamu keluar? Apa kamu butuh sesuatu?” tanya Key saat melihat Gibran keluar dari ruangan Karren.


“Karren sudah tidur tante, Gibran takut ganggu tidurnya jadi Gibran keluar sekalian ada yang mau Gibran bicarakan kepada semuanya.” Ucap Gibran.


“Apa yang mau kamu bicarakan Gibran? Bicaralah.” Sahut Bernard.


“Duduklah dulu.” Sambung Ken.


Gibran mengangguk lalu duduk di sebelah Ken untuk mengutarakan apa yang ingin dia katakan.


“Jadi, ada apa?” tanya Key.


“Kemarin dokter bilang kalau kondisi Karren sudah membaik dan besok dia sudah di ijinkan untuk pulang.” Ucap Gibran yang di angguki semua orang.


“Lalu?”


“Saya berencana untuk mempercepat acara pernikahan kami.” Ucap Gibran.


Gibran berbicara dengan sangat hati-hati karena dia takut kalau semua orang terkejut, tapi sepertinya mereka semua tidak terkejut sama sekali, mereka malah diam mendengarkan Gibran dengan serius.


“Saya hanya ingin segera menghalalkan Karren.” Ucap Gibran.


“Tidak masalah Gibran, semakin cepat semakin baik bukan? Agar mami juga bisa cepat memiliki cucu hihihi.” Ucap Key dengan bersemangat.


“Apa kamu sudah bertanya kepada Karren? Apa dia mau jika pernikahannya di percepat?” tanya Bernard dengan serius.


“Kamu kok nanya gitu? Karren pasti mau lah dia kan suka sama Gibran dan mereka juga sudah bertunangan, kalo kata orang dulu pamali tunangan lama-lama.” Ucap Key.


“Sayang, kita juga harus memikirkan pendapat Karren, dia juga harus memiliki kesiapan.” Balas Bernard.


“Dulu saat kita menikah usiaku juga sama seperti Karren, dulu aku juga hanya bermodalkan suka sama kamu padahal aku belum siap jadi istri, tapi kamu dengan sabar membimbing aku buat jadi istri dan ibu yang baik untuk Karren, lalu salahnya di mana untuk mempercepat pernikahan?” tanya Key.

__ADS_1


“Gibran adalah laki-laki yang sabar dan aku yakin dia bisa membimbing Karren agar siap menjalani hubungan pernikahan.” Lanjutnya.


Melihat calon mertuanya itu berdebat membuat Gibran bingung, dia melirik ke arah Ken lalu Ken hanya menggelengkan kepala memberi tanda kepada Gibran untuk membiarkan keduanya menyelesaikan perdebatannya sendiri.


__ADS_2