
Karren melajukan mobil sepupunya sampai di depan rumahnya dan memarkirkannya dengan sembarangan karena Karren masih kesal dengan ucapan Darren, bahkan sangking kesalnya Karren sampai lupa kalau ada nenek Khansa di dalam rumahnya.
Brakkk!! Karren bahkan menutup pintu membuat semua orang yang ada di rumah itu terkejut di kamarnya masing-masing.
Khansa yang sedang tidur-tiduran pun terkejut dan segera beranjak dari tempat tidurnya dan segera keluar kamar untuk melihat apa yang terjadi.
“Ada apa ini Karren? Kenapa kamu nutup pintu kenceng banget gitu?” tanya Khansa saat melihat cucunya berjalan menaiki tangga.
“N-nenek? Yaampun Karren lupa kalo ada nenek di rumah, maaf ya nek.” Ucap Karren dengan gugup dan merasa bersalah karena sudah mengganggu waktu tidur neneknya.
“Jadi kalo ga ada nenek, kamu bakalan kayak gitu terus? Kasihan loh mami kamu di kagetin terus kayak gitu.” Ucap Khansa.
“E-engga lah nek, emang aku orang gila banting pintu tiap hari? Aku lagi kesel aja sama Darren makanya jadi kebawa sampe rumah.” Jawab Karren.
“Lagian mami ga akan bangun nek, tau sendiri kalo udah tidur mami kayak kebo hahaha.” Lanjut Karren.
“Kamu ini, nenek bilangin mami kamu loh! Nenek tau kalo kamu kesel, tapi ga baik kalo sampe di bawa ke rumah sayang...” ucap Khansa dengan lembut.
“Iya nek maaf.” Balas Karren.
“Yaudah mandi sana, terus istirahat pasti kamu capek kan.” Ucap Khansa.
“Iya nek..”
“Oh iya, di mana Darren? Nenek belum ketemu dia sama sekali dari tadi pagi.” Tanya Khansa.
“Darren aku tinggal di kampus nek, habis dia ngeselin tadi jadi aku tinggal deh, aku pake mobil Darren tadi pulangnya.” Jelas Karren.
“Yaampun, kenapa kamu ninggalin Darren? Emang dia ngapain sampe buat kamu kesel?” tanya Khansa.
Akhirnya Karren menceritakan semua yang terjadi di kampus dari awal saat dia menabrak seseorang sampai saat ini.
“Apa kamu menyukai Gibran?” tanya Khansa.
“Nenek kok tanya gitu?”
“Udah deh ganti baju dulu aja ya terus kita ngobrol di kamar nenek sambil tiduran.” Ucap Khansa yang di balas anggukan oleh Karren.
Karren segera masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian, sedangkan Khansa menunggu Karren di kamarnya.
__ADS_1
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Karren segera pergi ke kamar neneknya.
Tok,,tok,,tok... Karren mengetuk pintu kamar neneknya beberapa kali sampai akhirnya sang nenek menyuruhnya untuk masuk.
“Nek...” panggil Karren.
“Sini sayang, lama banget lo nenek ga tidur sana cucu nenek yang cantik ini...” ucap Khansa sambil membuka selimut yang menyelimutinya.
“Kangen banget sama nenek, nenek sih ga pernah ke sini.” Ucap Karren.
“Kamu kan tau kakek kamu kayak anak kecil, apa-apa harus sama nenek, kalo bukan gara-gara dia mau ke sini juga ga akan tuh nenek di bolehin ke sini.” Balas Khansa.
“Eh iya jangan mengalihkan pembicaraan! Kamu suka sama Gibran?” tanya Khansa.
“Kenapa sih nenek malah jadi tanya begitu? Tadi nenek kayak ga suka gitu sama mas Gibran.” Ucap Karren.
“Yah tadi nenek shock aja, soalnya yang selama ini nenek tau kamu sama siapa tuh Kevin itulo, nenek ga tau kalo ternyata kamu udah putus dan sekarang malah di jodohin sama laki-laki itu.” Jelas Khansa.
“Aku udah lama putus dari Kevin dan sekarang kita masih berteman kok nek.” Ucap Karren.
“Cih! Mana ada mantan yang menjadi teman? Paling dia masih memendam rasa padamu makanya masih mau menjadi temanmu.” Ucap Khansa.
“Tentu saja nenek tau, nenek juga pernah muda loh dan Ken sering melakukan hal itu kalau dia masih menginginkan mantannya dulu.” Ucap Khansa.
“Serius nek? Uncle Ken juga seperti itu?” tanya Karren tidak percaya dan di balas anggukan oleh Khansa.
“Iya dulu dia ngejar-ngejar cewek sampe segitunya, kalo bukan kejadian malam itu dengan Andini mungkin Ken masih mengejar wanita itu.” Ucap Khansa dengan nada yang tidak suka.
“Hahaha, baru tau loh aku nek.”
“Jadi, apa kamu menyukai laki-laki itu?” tanya Khansa kembali.
“Mas Gibran? Ya awalnya aku cuma iseng mau menggoda dia aja nek, eh ternyata lama-lama setiap ngeliat dia sama dosen cewek aku kesel nek.” Jelas Karren.
“Kalo begitu itu namanya rasa suka, kalo memang kamu menyukainya maka nenek akan menyetujuinya.” Ucap Khansa.
“Hahaha, apa yag perlu di setujui nek? Walaupun nenek setuju juga belum tentu mas Gibran mau sama aku, aku ini cewek bar-bar, sedangkan dia alim banget nek.” Jelas Karren.
“Alim? Hanya karena dia setiap subuh sholat di masjid jadi kamu dan orang tuamu menganggapnya alim?” tanya Khansa.
__ADS_1
“Bukan karena itu aja nek, dia itu bener-bener selalu protes kalau aku memakai pakaian yang terbuka, kayak tadi itu kemeja mas Gibran karena dia tidak ingin aku memakai pakaian basah yang terawang.” Jelas Karren.
“Wah benarkah dia segitunya? Berarti dia adalah laki-laki sejati sayang, kamu harus berusaha untuk mendapatkannya, jodoh memang di tangan tuhan, tapi ita tidak akan mendapatkan jodoh yang baik kalau tidak mencari dan mengusahakannya.” Ucap Khansa memberi dukungan kepada cucunya.
“Jadi nenek mendukung nih?” tanya Karren.
“Iyalah, kalo Gibran ternyata sebaik yang kamu ceritakan tadi tentu saja harus di perjuangakan.” Balas Khansa.
“Nenek emang yang terbaik! Nenek adalah nenek terbaik yang pernah aku miliki!” seru Karren lalu segera memeluk tubuh Khansa dengan erat.
Sampai tiba-tiba saja mereka di kejutkan dengan teriakan dan ketukan pintu dari luar membuat Karren dan Khansa terkejut, dan sangking kerasnya Key yang biasanya tidur sangat lelap pun ikut terbangun.
Karren segera beranjak dari tempat tidur dan segera membuka pintu kamar neneknya dan saat itu Key juga keluar dari kamarnya.
“Karren? Kamu sudah pulang? Mami kira kamu yang ngetok pintu.” Ucap Key yang memang sudah siap untuk memarahi putrinya.
“Bukan mam, aku udah pulang dari tadi kok, malah aku habis curhat-curhatan sama nenek di kamarnya.” Jelas Karren.
“Terus siapa yang ngetok pintu kenceng banget gitu?” tanya Key.
“Lah mana Karren tau mam, papi kali.”
“Sekarang jam berapa Karren? Papi masih di kantor lah, lagian kalopun di kunci papi pegang kunci sendiri ga perlu ngetok.” Jelas Key.
“Ngetoknya kayak orang yang mau nagih utang aja tuh mam, jangan-jangan mami punya utang ya??” ucap Karren sambil menatap ke arah sang mami.
“What!? Mami ga punya utang enak aja!” ketus Key yang tidak terima karena sudah di tuduh yang tidak-tidak.
“Yaudah sana mami liat.” Ucap Karren.
“Ya kamu ikut liat lah!” balas Key sambil menggandengan tangan putrinya dan menariknya ikut ke pintu.
Akhirnya Key dan Karren berdua menuju ke pintu depan untuk melihat siapa yang mengetuk pintu rumah mereka.
“Karren!!!! Keluarr!!!”
Karren baru bisa mendengar suara teriakan orang yang ada di luar, dan itu adalah orang yang sangat dia kenal, siapa lagi kalau bukan Darren sepupunya.
“Yaampun mam, mati aku!” ucap Karren sambil menepuk keningnya.
__ADS_1