
Sabtu malam minggu adalah hari yang paling di tunggu-tunggu oleh para anak muda, karena di hari itu mereka bebas berkencan, nongkrong, dan melakukan hal menyenangkan lainnya.
Namun berbeda dengan Gibran, laki-laki itu hanya duduk santai di balkon rumahnya sambil menikmati kopi seduhannya.
Kedua mata Gibran menatap ke arah rumah yang beberapa hari lalu dia datangi untuk makan malam bersama, benar-benar hal yang tidak akan dia lupakan.
Teman-teman Gibran sudah mengajaknya untuk pergi bersama mereka, tapi untuk kesekian kalinya Gibran sama sekali tidak mengiyakan ajakan mereka.
Sejak dulu memang Gibran tidak terlalu suka nongkrong ke tempat yang tidak jelas, apa lagi mereka pasti pergi ke bar milik Arga.
Gibran takut citranya sebagai dosen akan hancur saat dia masuk ke bar dan di lihat oleh mahasiswanya.
Citranya sebagai dosen yang disiplin dan selalu memanfaatkan waktu dengan baik pasti akan hancur, dan mungkin hanya dengan Karren saja Gibran mau membuang waktunya yang berharga dengan percuma.
Gibran menyeruput kopinya sedikit, lalu dia menaruhnya kembali di meja kecil di sebelahnya.
Kedua mata Gibran kembali fokus pada laptopnya memeriksa pekerjaan mahasiswanya.
Begitulah memang waktu Gibran terisi, waktunya di isi dengan membaca, dan bekerja di bandingkan dengan menonton film atau bermain game seperti orang kebanyakan.
Di tengah pekerjaannya, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.
Di lihatnya dari layar ponsel tertulis nama Arga di sana, sudah Gibran duga pasti temannya itu berkomplotan dengan Alif dan Anto untuk mengajaknya ke bar.
Walaupun begitu Gibran tetap membaca pesan itu, karena kalau tidak Arga akan mengirimnya pesan spam yang akan membuat Gibran semakin pusing.
Arga:
Lo di mana Gib?
Gibran Mahardika:
Rumah lah, kenapa?
Arga:
Cewek lo ada di bar gue, cepet bawa balik, gue liat banyak cowok yang godain.
Deg! Jantung Gibran tiba-tiba saja berdetak dengan kencang saat membaca pesan dari sahabatnya itu.
Dilihatnya lagi kamar Karren dari balkon kamarnya, dan benar saja lampu di kamar wanita itu sudah mati.
Gibran kira Karren sudah tidur, ternyata Karren sedang tidak berada di kamarnya, padahal tadi Gibran sudah sangat senang karena Karren tidak keluar.
__ADS_1
Tanpa membalas pesan sahabatnya lagi, Gibran segera memasukkan ponselnya ke saku celananya.
Gibran menutup laptopnya dan membawanya masuk ke dalam rumah dan membiarkan kopinya di luar.
Gibran segera mengganti bajunya dengan cepat, dan langsung mengambil dompet serta kunci mobilnya.
Gibran mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin sekali segera tiba di bar sebelum Karren melakukan hal yang diluar batas.
Mengingat bagaimana liarnya Karren saat berada di bar pasti akan membuat para laki-laki yang ada di sana mengagumi keindahan tubuh Karren.
Ingin sekali Gibran menutup bar milik Arga kalau tidak mengingat mereka adalah sahabat.
Jika memang Karren tidak bisa meninggalkan dunia malamnya, maka Gibran siap masuk ke dalam dunia malam Karren dan membawanya keluar dari dunia malam itu.
Gibran ingin mengarahkan Karren ke jalan yang benar, Gibran ingin mengubah Karren agar bisa menjadi lebih baik lagi dan meninggalkan dunia malamnya.
Setibanya di bar, Gibran segera masuk ke dalam dan mencari keberadaan Karren, Gibran melewati beberapa orang yang sedang menari dengan lihainya, hingga seseorang menghalangi langkahnya.
"Hai, ganteng!" sapa seorang wanita berpenampilan sexy dengan make up yang menor.
"Aku Sera." lanjutnya sambil mengulurkan tangannya menunggu Gibran membalas uluran tangan itu.
"Maaf, bisakah kamu pergi? Saya punya urusan." ucap Gibran.
Namun bukannya menyingkir, Sera malah tersenyum menggoda dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Gibran.
"Maaf tapi saya tidak punya waktu."
"Kenapa? Kamu ga suka sama aku? Aku kurang seksi?" tanya Sera yang kali ini lebih berani karena mulai berjalan mendekati Gibran dan menempelkan kedua tangannya di dada Gibran.
Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat Gibran menjadi risih. Gibran melihat ke sekelilingnya mencari keberadaan sahabatnya agar bisa membantunya lepas dari wanita gatel yang ada di hadapannya.
Namun sebelum Gibran menemukan sahabatnya, Karren lebih dulu menghampiri mereka dengan tatapan tidak suka.
"Sorry, tapi dia cowok gue Ser!" tegas Karren sambil menepis tangan Sera dari dada Gibran dengan sedikit kasar.
"Cowok lo? Tapi setau gue cowok lo si Kevin." ucap Sera, karena memang selama ini hanya Kevin lah yang selalu bersama Karren.
"Gue sama Kevin udah putus lama, sekarang dia ini cowok gue." ucap Karren yang sekarang sudah memeluk lengan Gibran.
"Iya kan sayang?" tanya Karren kepada Gibran.
Pertanyaan dari Karren membuat Gibran terkejut. Gibran mau melepaskan tangan Karren dari lengannya, namun dia melihat Sera masih menatap keduanya dengan ragu.
__ADS_1
“I-iya, Karren adalah kekasihku.” Ucap Gibran.
“Sorry deh kalo gitu, gue ga tau kalo cowok ini punya lo.” Ucap Sera yang langsung meninggalkan Karren dan Gibran.
Karren tersenyum tipis saat melihat Sera pergi, setidaknya wanita sebejat Sera pun tidak akan merebut milik orang lain, setidaknya dia masih memiliki sisi baik walaupun lebih sering menunjukkan sisi buruknya.
Karren menoleh ke arah Gibran, Karren tersenyum saat melihat wajah Gibran yang sudah berkeringat dengan tatapan kosong.
“Kamu ngapain ke sini mas?” tanya Karren sambil melepaskan tangannya dari lengan Gibran.
Gibran bingung, dia bersaha untuk mencari alasan yang tepat untuk di berikan kepada Karren, karena dia tidak ingin Karren tau kalau dia ke tempat itu karena Karren.
“S-saya mau nongkrong sama teman-teman saya.” Jawab Gibran.
“Oh, teman-teman kamu lagi di sini juga?” tanya Karren.
“Iya, dia yang punya tempat ini.” Balas Gibran.
“Oh gitu, yaudah deh aku ke teman-temanku lagi ya mas.” Pamit Karren yang mulai melangkahkan kakinya.
“Karren!” panggil Gibran yang membuat Karren menoleh melihat Gibran.
“Iya mas?” tanya Karren.
Gibran berjalan mendekati Karren lalu memberikan sebotol air putih kepada Karren. Karren yang bingung hanya bisa mengerutkan keningnya dan melihat ke arah Gibran.
“Ini buat apa mas?” tanya Karren.
“Saya bawain minum buat kamu, jadi jangan minum alkohol!” tegas Gibran.
Karren benar-benar tersentuh dengan perlakuan Gibran, Karren semakin melebarkan senyumnya sambil melihat ke arah Gibran.
“Terimakasih, aku ga akan minum alkohol malam ini.” Ucap Karren.
Karren kembali mau melanjutkan langkah kakinya, namun langkahnya terhenti saat Gibran kembali memanggil namanya.
“Tunggu Karren!” panggil Gibran.
“Iya mas?”
“Nanti pulang sama saya.” Ucap Gibran yang di balas senyuman manis oleh Karren.
“Siap mas!” seru Karren yang tersenyum manis dan segera meninggalkan Gibran.
__ADS_1
Karren berjalan ke arah teman-temannya yang darti tadi melihat interksi dari Karren dan Gibran.
“Itu cowok yang kata Silvia nyuekin lo?” tanya Clara.