DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 101 (NIKAH SAMA LAPTOP)


__ADS_3

Key dan Bernard masih saja beradu argumen, lebih tepatnya Key yang terus mengoceh tentang kesiapan putrinya untuk menikah.


Gibran yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepala dan menghela nafas panjang, padahal dia hanya ingin meminta ijin setelah mendapatkan ijin dari orang tua Karren barulah dia membicarakan hal ini kepada Karren.


“Om, tante..” panggil Gibran yang membuat keduanya menoleh ke arah Gibran.


“Iya Gibran?” sahut Key dan Bernard secara bersamaan.


“Saya hanya ingin mengetahui pendapat dari om dan tante saja, kalau kalian berdua setuju maka saya akan membicarakan hal ini dengan Karren.” Jelas Gibran.


“Baiklah, lebih baik bicarakan dulu dengan Karren, kalau kami pasti setuju jika pernikahan kalian di percepat.” Ucap Bernard.


Gibran hanya menganggukkan kepalanya, dia berencana untuk mengatakan niatnya kepada Karren saat dia bangun nanti.


Hari pun mulai gelap, Key, Bernard dan yang lainnya berpamitan kepada Gibran kalau mereka akan pulang sebentar untuk mandi setelah itu mereka akan kembali ke rumah sakit.


“Beneran ga apa-apa kamu sendirian di sini?” tanya Key.


“Ga apa-apa tante.” Balas Gibran.


“Kevin bisa temenin pak Gibran kok kalo mau.” Sahut Kevin.


“Tidak! Saya bisa sendirian di sini.” Sahut Gibran dengan cepat membuat semua orang menahan senyumannya melihat tingkah Gibran.


***


Karren sedang menatap jengah pada seseorang yang sejak dua jam lalu sampai sekarang masih fokus dengan laptopnya, padahal kalau di lihat-lihat lebih bagus bentuk tubuh Karren dari pada bentuk laptop yang hanya kotak tidak berlekuk.


Karren kira Gibran akan lebih perhatian kepadanya setelah hampir kehilangannya, nyatanya tidak! Laki-laki itu masih sering cuek kepada Karren, sikap menyebalkannya pun kembali lagi setelah Karren sembuh.

__ADS_1


Gibran juga menyuruh Karren untuk mengerjakan tugas-tugas yang belum Karren kerjakan baik tugas di mata kuliahnya atau mata kuliah dosen lain.


Untung saja Gibran masih memiliki belas kasih karena dia mau membantu Karren mengerjakan tugas dan menerangkan ulang materi khusus mata kuliahnya.


Ini sudah satu bulan setelah Karren keluar dari rumah sakit, keadaannya sudah membaik, dia juga sudah mulai menyiapkan persiapan pernikahannya dengan Gibran.


Ya, Gibran memang sudah mengatakan niatnya untuk mempercepat pernikahan, awalnya Karren ragu tapi lama kelamaan dia setuju dan mungkin mempercepat pernikahan adalah jalan yang baik.


Semua sudah di siapkan dengan baik dan juga megah, tentu saja ini adalah pernikahan putra dan putri satu-satunya dari keluarga masing-masing, tentu saja mereka harus membuat pesta yang megah.


Gedung sudah beres, dekorasi, catering dan lain-lain juga sudah di tangani oleh para orang tua mereka. Orang tua mereka tidak membiarkan Karren untuk turun tangan karena kepalanya masih sering pusing jika terlalu kelelahan dan banyak pikiran.


Karren dan Gibran hanya bertugas untuk memilih saja, sedangkan yang berurusan dengan WO adalah Key dan Yulia. Mereka berdua sama sekali tidak keberatan bahkan mereka berdua sangat bersemangat untuk menyiapkan pernikahan anak-anak mereka.


Hari ini sebenarnya mereka harus melakuka fitting baju pengantin, tapi jadwal itu harus di undur karena Gibran lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum pergi.


“Mas, katanya tadi cuma bentar, tapi ini udah hampir satu jam loh aku nungguin kamu ga selesai-selesai.” Ucap Karren dengan tatapan kesal.


Karren sampai hampir mati bosan karena hanya duduk diam di sebelah Gibran sejak tadi, sedangkan yang di tunggu hanya fokus dengan laptopnya tanpa menoleh sedikit pun kepadanya.


“Bentar ya Karren, tanggung nih bentar lagi selesai.” Ucap Gibran yang matanya masih fokus dengan layar laptop dengan jadi yang berlarian ke sana ke mari di atas keyboard.


Dia bahkan sama sekali tidak menoleh ke arah Karren, bahkan melirik saja tidak membuat Karren semakin kesal.


Karren berdecak kesal, dia memilih untuk memainkan ponselnya sambil menunggu Gibran, dia membuka pesan dan masuklah pesan yang berasal dari tantenya yang sudah menunggu di butik temannya membuat Karren menjadi tidak enak.


Tantenya mengatakan keberadaan Karren dan Gibran yang belum sampai ke butik, melihat pesan itu membuat Karren merasa tidak enak dengan Andini dan temannya, ini semua karena Gibran yang sibuk dengan pekerjaannya hingga membuat Andini dan temannya menunggu.


“Mas, aunty Andin udah nanyain kita udah otw apa belum.” Ucap Karren memberi tahu.

__ADS_1


Karren berharap Gibran akan meninggalkan pekerjaannya setelah ini karena merasa tidak enak dengan tantenya, tapi ternyata tidak sesuai espektasi.


“Suruh tunggu sebentar, ini masih ada beberapa yang harus di koreksi lagi.” Balas Gibran.


Karren semakin kesal, dia memutar bola matanya jengah. Ucapannya ternyata tidak mampu membuat Gibran merasa tidak enak dan meninggalkan pekerjaannya yang sebenarnya masih bisa di kerjakan nanti setelah melakukan fitting baju.


Padahal Gibran hanya sibuk membuka email dari para mahasiswanya dan mulai mengoreksi tugas mahasiswanya, tapi dia seperti sedang mengerjakan tugas negara.


Lagi pula ini hari minggu, tidak seharusnya Gibran bekerja di hari minggu seperti sekarang ini.


“Aku pernah baca artikel, katanya ada laki-laki Jepang yang nikah sama boneka. Kayaknya kalau nikah sama laptop juga ga apa-apa deh, toh sama-sama benda mati kan?” ucap Karren dengan santainya berniat untuk menyindir Gibran.


Sedangkan Gibran yang mendengarnya langsung tersedak air liurnya sendiri, dia tahu kalau Karren sedang menyindirnya saat ini, dengan segera Gibran membereskan pekerjaannya tanpa membalas ucapan Karren.


“Ayo!” ajak Gibran setelah selesai membereskan pekerjaannya.


Karren hanya mengangguk, namun tanpa Gibran sadari kalau saat ini Karren sedang tersenyum tipis. Sekarang Karren tau kelemahan Gibran dan lain kali dia akan menggunakan alasan yang sama agar Gibran mau menuruti permintaannya.


Gibran melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Karren yang memintanya untuk mengendarai mobil lebih cepat karena tantenya dan teman tantenya sudah menunggu di butik.


Gibran tetap mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal agar perjalanan mereka tidak ada kendala atau terjadi hal yang tidak di inginkan.


Gibran segera memarkirkan mobilnya dengan rapih setelah tiba di parkiran butik milik teman Andini, Karren segera turun dari mobil dan mengajak Gibran untuk langsung masuk ke dalam butik.


Keduanya di sambut dengan hangat oleh Andini dan temannya bernama Anne. Karren pun langsung mencium punggung tangan keduanya dan saling berpelukan.


“Yaampun udah lama ga ketemu kamu makin cantik aja sih sayang.” Ucap Anne.


Mereka berdua memang bertemu beberapa kali saat ada acara penting dan keluarga besarnya pasti membuat pakaian di butik milik Anne. Namun semenjak Kalandra dan Khansa sering tinggal di luar negeri mereka pun jarang mengadakan pertemuan penting bersama-sama.

__ADS_1


__ADS_2