
Karren masuk fokus mencari Darren namun sama sekali tidak dia temukan, bahkan mata Karren sampai menyipit untuk mencari saudaranya itu tapi tidak ada sama sekali.
“Kemana sih Darren? Dia tadi semangat banget lah kenapa sekarang malah ngilang?” gumam Karren.
“Ciye, kangen ya nyariin gue.” Ucap Darren yang tiba-tiba saja ada di belakangnya.
“Lah lo ngapain di sini?” tanya Karren.
“Ternyata gue ga boleh ngungkapin kalo gue ketua BEM sebelum di kenalin, habis perkenalan baru mereka minta tanda tangan gue.” Jelas Darren.
“Jadi ga ada yang tau kalo lo ketua BEM nih?” tanya Karren yang di balas anggukan oleh Darren.
“Wih, seru nih kalo gue tiba-tiba teriak kalo lo ketua BEM.” Sahut Karren dengan senyum sinis.
“Nyari mati lo Ren?” ucap Darren dengan tatapan tajamnya.
“Hahaha, biasa aja kali Ren ga usah tegang begitu wajahnya.” Ucap Karren sambil tertawa karena berhasil membuat sepupunya itu gugup.
“Lo nanti mau ke kelas bareng ga?” tanya Karren.
“Engga deh, gue ijin lah kayaknya ga bisa masuk kelas.” Ucap Darren.
“Lo pinter banget kalo di suruh cari alesan Ren, emang niat lo aja ga mau masuk kelas.” Ucap Karren.
“Yaudahlah gue ke kelas aja, bosen gue yang di liat lo lagi lo lagi.” Ucap Karren yang langsung berdiri hingga membuat Darren yang tadinya bersender di bahunya hampir jatuh.
“Sialan lo Ren! Gue hampir jatoh!” teriak Darren kesal.
Namun Karren masih jalan sambil melambaikan tangannya tanpa menoleh ke arah Darren sama sekali.
Darren yang kesal hanya bisa mengoceh sendiri lalu saat dia berbalik tiba-tiba saja seseorang menabraknya hingga hampir terjatuh kalau Darren tidak memegang tangannya.
“Makasih banyak karena sudah menolongku.” Ucap wanita yang masih menunduk berterimakasih kepada Darren.
Darren yakin anak yang ada di hadapannya saat ini adalah mahasiswa baru yang terlambat makanya sampai terburu-buru seperti itu.
“Lo anak baru ya? Ngapain masih di sini? Semua orang sudah kumpul di lapangan!” tegas Darren.
Mendengar ucapan Darren membuat wanita itu mendongak melihat wajah Darren, lalu keduanya sama-sama terkejut karena mereka pernah bertemu di jalan tadi.
“Lo!?” ucap wanita itu.
__ADS_1
“Lo?” balas Darren.
Wanita itu meneliti Darren dari atas ke bawah, dia tidak melihat ada tanda-tanda kalau Darren adalah salah satu anggota BEM, jadi wanita itu yakin kalau Darren adalah anak baru juga.
“Ngapain bengong? Mau di hukum karena terlambat hah?” ucap Darren yang sebenarnya senang karena ternyata wanita yang membuatnya tertarik berada di kampus yang sama dengannya.
“Jadi gue harus ke aula?” tanya wanita itu.
“Iyalah!”
“Kapan?”
“Tahun depan! Ya sekarang lah markonah!” ucap Darren yang geregetan, bahkan Darren sampai menepuk keningnya sendiri karenanya.
“Lo juga anak baru kan? Yaudah ayo bareng ke lapangan.” Ajak wanita itu dengan santainya.
Dia lalu memutar tubuh Darren dan mendorong punggungnya dari belakang sampai ke lapangan.
“Banyak banget ya orangnya, gue jadi malu deh terlambat.” Gumamnya.
“Salah lo ngapain aja sampe terlambat.” Sahut Darren.
Mendengar ucapan Darren membuat wanita itu kesal dan memberikan tatapan tajam kepadanya.
“Udah sono masuk barisan.” Ucap Darren.
“Engga ah nanti aja tunggu dosen pembimbingnya selesai pidato.” Ucap wanita itu.
Karena memang saat itu Gibran sedang melakukan pidato penyambutan untuk para mahasiswa baru.
Darren yang kesal karena mahasiswi baru itu sangat lama langsung mendorongnya begitu saja hingga membuatnya berdiri tepat di hadapan semua orang dan membuatnya jadi pusat perhatian karena sudah mengganggu pidato dosen pembimbing.
“Sial! Gila tuh cowok!” ketus wanita itu yang langsung memberikan tatapan tajam kepada Darren.
“Kebetulan orangnya ada di sini, karena saya tidak suka hal yang aneh-aneh jadi lebih baik saya kenalkan dulu anggota BEM yang harus kalian kumpulkan tanda tangannya.” Ucap Gibran.
Satu per satu anggota BEM naik ke atas podium untuk mengenalkan diri, lalu yang terakhir Darren berjalan menaiki podium membuat wanita itu melongo tidak percaya.
“Dia anggota BEM?” gumam wanita itu tidak percaya.
Lalu saat Darren mengenalkan diri sebagai ketua BEM, wanita itu semakin terkejut bukan main, jadi sejak tadi dia sudah bersikap tidak sopan kepada ketua BEM.
__ADS_1
Tahun ini tidak ada ospek yang aneh-aneh, mahasiswa dan mahasiswi baru hanya di suruh untuk mengumpulkan tanda tangan anggota BEM dan juga berfoto dengan mereka.
Karena kalau tanda tangan saja bisa di palsukan, jadi mereka harus berfoto dengan anggota BEM yang sudah memberi mereka tanda tangan.
“Lo! Siapa nama lo?” tanya Darren menunjuk ke arah wanita yang tadi sudah bersikap tidak sopan kepadanya.
“A-Anindita.” Ucap Anindita dengan terpaksa.
“Lo ke ruang BEM saat jam makan siang nanti.” Ucap Darren.
“Ngapain? Gue kan ga buat salah.” Balas Anindita.
“Lo lupa lo telat tadi?” tanya Darren.
“Gue telat juga kan karen lo!” ketus Anindita.
Teman-teman Anindita dan juga mahasiswa baru lainnya terkejut saat mendengar Anindita dengan beraninya membantah ucapan ketua BEM.
“Berani ngelawan lo?’ tanya Darren.
Mendengar pertanyaan Darren membuat Anindita terdiam, lalu dia melihat sekelilingnya yang sudah menatapnya dengan tatapan aneh dan juga takjub karena keberaniannya.
Akhirnya dengan terpaksa Anindita mengangguk dan mengiyakan perintah Darren untuk pergi ke ruang BEM saat jam makan siang.
Setelah mendengar persetujuan dari Anindita akhirnya Darren segera pergi meninggalkan semua mahasiswa dan mahasiswi baru yang masih ada di lapangan.
“Wah gila sih Anin, lo berani banget ngelawan ketua BEM.” Ucap salah satu sahabat Anindita di SMA.
“Gue juga ga tau dapet keberanian dari mana bisa ngelawan ketua BEM.” Balas Anindita yang masih mematung di tempatnya.
“Wah parah lo Nin, lo udah di cap tuh, udah telat ngeyel lagi.” Sahut yang lain.
“Berisik lo! Kapan jam makan siang?” tanya Anindita kepada dua sahabatnya.
“Sekarang.” Balas salah satunya.
“What!? Yaampun kok kalian ga bilang dari tadi sih!!” ucap Anindita yang langsung berlari begitu saja meninggalkan kedua sahabatnya itu padahal dia sendiri tidak tau di mana ruang BEM berada.
Anindita berlari kencang sampai akhirnya dia tiba di koridor perusahaan, Anindita menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat apakah ada orang yang bisa dia tanyai, namun sama sekali tidak ada orang di sana mungkin karena semuanya pergi ke kantin.
“Duh di mana sih ruang BEM?” gumam Anindita yang masih menoleh ke kanan dan ke kiri karena kebingungan.
__ADS_1
Anindita hanya bisa pasrah dan terus berjalan menyusuri setiap lantai, sampai akhirnya dia menemukan sebuah ruangan yang sejak tadi dia cari.
“Yes! Akhirnya ketemu juga!” seru Anindita sambil melompat kegirangan.