DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 60 (RAGU)


__ADS_3

Kevin menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Karren, Karren segera turun dan berniat untuk beristirahat.


Sedangkan Darren sudah lebih dulu di antar ke rumahnya oleh Kevin.


Karren dan Kevin menoleh ke arah rumah Gibran yang tidak seperti biasanya hari itu terlihat sangat ramai.


“Si pak Gibran malem-malem ngapain rame banget rumahnya?” ucap Kevin.


“Lah mana gue tau.” Balas Karren cuek dan langsung menutup pintu mobil Kevin setelah berpamitan.


Setelah Kevin melajukan mobilnya meninggalkan rumah Karren, Karren masuk ke dalam rumah dan melihat maminya yang masih duduk di ruang tamu.


“Mam, kok rumah Gibran rame malem-malem gini? Emang ada apaan mam?” tanya Karren.


“Besok malam ada acara ulang tahun bu Yulia, kita juga di undang.” Jawab Key.


Karren mengangguk-anggukkan kepalanya, dia hendak pergi tapi tiba-tiba saja maminya mengatakan hal yang membuat tubuh Karren kaku.


“Kamu ga usah deketin Gibran lagi!” Ucap Key.


Karren mematung di tempatnya, dia menoleh ke arah maminya dengan kening yang berkerut. Perasaannya tiba-tiba tidak enak, bukankah mami dan papinya sangat menginginkan menantu seperti Gibran? Tapi kenapa sekarang maminya melarangnya untuk mendekati Gibran?


“Kenapa?” tanya Karren dengan was-was.


“Kata ibu-ibu, acara ulang tahun mamanya Gibran sekaligus acara perkenalan calon menantunya.” Jawab Key.


Deg! Detak jantung Karren serasa berhenti, dia sangat terkejut dengan fakta yang di dengarnya, hatinya tiba-tiba nyeri dan sesak, seperti ada tangan yang meremasnya.


Karren berfikir kalau sepertinya memang sudah tidak ada kesempatan lagi untuk dirinya mendekati Gibran.


Bukankah Karren hanya iseng mendekati Gibran? Tapi kenapa rasa sakitnya seperti nyata sekali?


Karren pikir dia akan baik-baik saja jika Gibran tidak mau dengannya, namun ternyata hatinya menginginkan balasan dari Gibran.

__ADS_1


Dan sekarang apa yang akan Karren lakukan? Apa dia harus datang ke acara ulang tahun mamanya Gibran? Tapi itu akan sangat menyakiti dirinya.


Tapi kalau tidak datang, Karren juga tidak enak karena selama ini mamanya Gibran sangat baik padanya juga pada orang tuanya.


Seketika Karren merasa pusing, hidupnya yang bahagia dan tentram seketika berubah saat Gibran menjadi tetangga sekaligus dosennya.


"Karren? Kamu kenapa bengong?" tanya Key yang merasa aneh karena putrinya masih berdiri di tempatnya.


"Hah? Engga kok mam, aku hanya mencerna kata-kata mami aja." balas Karren sambil memaksakan senyumnya.


"Kamu belum ada rasa sama Gibran kan?" tanya Key.


"Kenapa mami tanya gitu?" tanya Karren.


"Ya, mami takut kamu udah beneran suka sama dia terus malah sakit hati lagi." balas Key.


"Hahaha, mami tau kan kalo aku mendekatinya cuma iseng aja jadi ga beneran suka lah." ucap Karren berbohong.


Namun Key adalah maminya, dia yang melahirkan Karren dan merawatnya hingga saat ini, tentu saja dia sangat mengenal putri satu-satunya itu.


Karren berjalan menaiki tangga, sedangkan Key hanya bisa menatap punggung putrinya dengan sendu, Key ingin putrinya mendapatkan pasangan yang terbaik.


Sedangkan di sisi lain, Karren yang baru saja masuk ke dalam kamarnya melempar tasnya ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menatap ke langit-langit.


Tangan kanannya dia taruh di atas wajahnya menutupi kening dan matanya, pikirannya kacau entah apa alasan pastinya.


Lalu seketika Karren menoleh ke arah luar jendelanya yang menampakkan pemandangan balkon Gibran yang lampunya masih menyala.


Sudah beberapa hari ini dia dan Gibran tidak saling berbicara walaupun berpapasan Karren hanya menunduk sekilas lalu segera meninggalkan Gibran begitu saja.


Karren memutuskan untuk mencuci wajahnya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidurnya dan mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah.


Entah sudah berapa kali Karren menghela nafas panjang di depan cermin, penampilannya sudah rapih dengan gaun berwarna maroon yang membalut tubuhnya membuat kesan mewah di tubuhnya.

__ADS_1


Gaun berwarna maroon adalah gaun favorit untuk Karren, dia merasa sangat cantik saat memakai baju berwarna maroon, penampilannya terlihat sangat mahal jika memakai gaun berwarna maroon yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih.


Hari ini rambut Karren di biarkan tergerai dengan ujung bawah rambut yang di curly. Seperti biasanya, penampilan Karren pasti berhasil membuat orang terkagum-kagum.


Padahal dia hanya memakai make-up dan menata rambutnya sendiri, tapi penampilannya sudah menakjubkan.


Karren kali ini memilih make-up korean look menyesuaikan dengan gaunnya, gaun yang Karren pakai saat ini tidak terlalu terbuka karena dia akan menghadiri acara ulang tahun mantan calon mertuanya, tentu saja Karren harus sopan namun masih terlihat seksi.


Karren berharap kalau malam ini dia akan terlihat cantik agar Gibran memberikan perhatian lebih padanya. Di saat seperti ini jiwa penggoda di dalam diri Karren malah membara bak api yang berkobar.


Karren ingin Gibran berubah pikiran dan tidak jadi mengenalkan perempuan yang di sebut sebagai calon istrinya itu ke hadapan orang tuanya. Sebenarnya di lubuh hati yang paling dalam, Karren masih berharap kalau Gibran akan memilihnya.


Key dan Bernard yang sudah selesai sudah lelah menunggu Karren yang tak kunjung keluar dari kamarnya.


“Ren, kamu masih lama?” tanya Key dari depan kamar Karren.


“Mami sama papi duluan aja deh nanti aku nyusul.” Jawab Karren dari dalam kamarnya.


“Yaudah kalo gitu mama sama papa duluan ya, kamu cepetan nyusul!” ucap Key kembali.


“Iya mam...” balas Karren.


Sekali lagi Karren melihat dirinya sendiri di cermin, masih ada kebimbangan di wajahnya, rasanya dia masih enggan untuk datang jika akan berujung sakit hati. Bukankah yang dia lakukan sama saja dengan mencari sakit?


Sebenarnya memang lebih aman di rumah, namun Karren juga tidak mau membuat Yulia kecewa karena Yulia menitipkan pesan kepada maminya kalau dia ingin sekali Karren datang ke acara ulang tahunnya.


Karren menghela nafas panjang, dia berbalik meninggalkan cermin, tangannya mengambil kotak kado yang sudah dia siapkan untuk Yulia.


Setelah maminya memberitahu Karren kalau dia di undang di acara ulang tahun Yulia, Karren segera menghubungi Dina untuk mencarikan tas yang cocok sebagai kado ulang tahun Yulia. Pilihan Dina juga sangat memuaskan, sesuai dengan harga yang harus Karren bayar.


Kaki Karren menuruni tangga layaknya seorang putri, tangannya membawa kotak kado berukuran sedang, wajahnya masih menampilkan keraguan yang cukup terlihat jelas.


Sesampainya di depan rumah Gibran, dia hanya berdiri karena dia masih ragu untuk masuk ke dalam rumah itu.

__ADS_1


Hatnya belum siap merasakan sakit, lebih tepatnya dia tidak akan pernah siap melihat Gibran bersanding dengan perempuan lain.


__ADS_2