DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 102 (FITTING BAJU)


__ADS_3

Karren tersenyum mendengar pujian yang di berikan Anne kepadanya, padahal Anne sangatlah cantik dan mungkin kalau Anne seusia dengan Karren, Karren tidak ingin membawa kekasihnya bertemu Anne karena bisa saja kekasihnya salah fokus.


“Tante ini kayaknya ga punya kaca deh di rumahnya, tante bahkan lebih cantik dari aku loh.” Balas Karren yang membuat Anne tertawa.


Setelah memeluk Anne, Karren beralih memeluk dan menyapa tantenya yang dengan sabarnya menunggu Karren walaupun lama.


“Maaf aunty udah nunggu lama ya? Tadi mas Gibran masih sibuk beresin kerjaannya.” Ucap Karren kepada tantenya.


“Tidak apa-apa sayang, aunty mengerti kalau calon suami kamu ini emang selalu mendahulukan pekerjaannya.” Balas Andini yang di balas anggukan oleh Karren.


Karren mulai mengenalkan Gibran kepada Anne, karena Anne memang tidak pernah bertemu dengan Gibran. Dan Gibran pun segera menjabat tangan Anne dan Andini secara bergantian.


“Ayo kita langsung masuk aja buat di ukur, kalian pake baju yang udah kita siapin aja ya biar enak tinggal ngecilin atau besarin aja ntar.” Ucap Anne yang di balas anggukan oleh Karren dan Gibran.


Karren dan Gibran segera mengambil baju mereka masing-masing dan segera masuk kedalam kamar ganti untuk mencoba pakaian mereka.


Anne menyiapkan gaun berwarna putih yang tampak elegan dan mewah sesuai dengan selera Karren selama ini.


Gaun itu tidak terlalu panjang agar memudahkan Karren untuk bergerak lebih bebas ke sana kemari saat berbaur dengan para tamu.


Karren mengangguk dengan mata berbinar, dia sangat senang dengan hasil jahitan Anne yang tidak di ragukan lagi.


“Ini bahkan lebih cantik dari bayanganku tante.” Ucap Karren. Memang selama ini Anne tidak pernah mengecewakan dia dan keluarga besarnya.


“Baju ini cocok banget sama tuksedo yang sudah di siapkan untuk Gibran Ren, kalian kelihatan serasi banget kalau pakai baju itu.” Ucap Anne.


“Udah yuk di coba biar tau yang mana yang harus di perbaiki.” Sahut Anne yang di balas anggukan oleh Karren.


Karren meminta Andini untuk membantunya memakai gaun pengantinnya, gaun itu sangat pas di tubuh Karren dan memperlihatkan bentuk tubuh Karren yang sangat ideal dan bagus.


Walaupun gaunnya tidak terlalu terbuka, tapi aura seksi yang Karren miliki tetap terlihat saat memakai gaun itu.

__ADS_1


Karren berputar ke kanan dan ke kiri melihat dirinya sendiri di depan cermin setelah gaunnya terpasang sempurna, dia mengagumi penampilannya sendiri yang sudah seperti seorang putri.


“Wah yaampun Karren kamu cantik banget sumpah deh! Bentar aunty foto dulu mau aunty kirim ke mami kamu.” Ucap Andini yang mulai memotret Karren.


“Perfect! Coba kamu keluar deh terus lihatin ke Gibran, pasti Gibran makin ga sabar buat nikahin kamu.” Ucap Andini dengan antusias.


Mendengar ucapan tantenya membuat Karren tersipu malu, dia hanya bisa tersenyum sambil memegang kedua pipinya yang mungkin sudah memerah saat ini.


“Kenapa diem aja? Ayo keluar calon suami kamu sudah menunggu.” Ucap Andini.


Karren mengangguk, dia menuruti ucapan Andini untuk keluar dari ruang ganti. Dengan hati yang berdebar-debar Karren keluar dari ruang ganti, dia penasaran dengan reaksi Gibra saat melihatnya memakai gaun pengantin.


Karren melihat Gibran sedang duduk dan memainkan ponselny, laki-laki itu masih memakai tuksedonya dan sepertinya dia juga ingin menunjukkannya kepada Karren.


“Mas...” panggil Karren dengan ekspresi malu-malu.


Gibran mendongak dan langsung tercengang saat melihat Karren sudah keluar dari ruang ganti, tatapannya terpaku pada wanita cantik yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Matanya refleks memandangi Karren dari atas sampai bawah.


Karren yang di tatap seperti itu malah semakin malu, dia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang saat ini sudah memerah.


Gibran beranjak dari tempat duduknya, dia menatap Karren dengan lekat dari jarak yang semakin dekat.


Melihat Gibran yang berjalan mendekatinya membuat jantung Karren semakin tidak menentu, Karren merasa sangat gugup, tatapan Gibran di tambah pakaian yang di kenakan Gibran saat ini membuat laki-laki itu sangat tampan dengan tuksedo yang melapisi tubuhnya.


Rasanya Karren seperti seorang putri yang sedang berhadapan dengan sang pangeran kuda putihnya.


“Cantik sekali! Mungkin setelah ini saya akan menjadi penggemar berat kamu.” Ucap Gibran memuji Karren dengan tulus.


Karren tersenyum malu, Gibran memang selalu bisa membuat Karren tersipu malu dengan kata-kata gombalnya.


“Kamu juga ganteng banget, aku jadi kepikiran buat ngundang tamu laki-laki aja biar ga ada perempuan yang mengangumi calon suami aku.” Ucap Karren.

__ADS_1


Gibran tertawa mendengar ucapan Karren, dia lalu menatap wajah Karren dengan lekat dan tersenyum.


“Tidak ada seorang pun yang akan mencuri calon suami kamu.” Ucap Gibran.


Keduanya saling tersenyum penuh dengan perasaan bahagia, keduanya tidak sabar untuk cepat-cepat berada di pelaminan agar keduanya bisa bermesraan dengan leluasa.


“Tuh kan, kalian serasi banget deh!” seru Andini yang kembali memotret Gibran dan Karren lalu mengirimnya kepada Key.


Sedangkan Key yang sedang melihat-lihat hasil dekorasi yang di kirim pihak WO tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke atas layar ponselnya yang tertera nama Andini mengirim pesan di sana.


“Oh my God! Yaampun mereka sangat serasi!!” seru Key yang suaranya sangat menggelegar hingga membuat Bernard dan Ken yang sedang bermain catur di halaman belakang mendengarnya dan segera masuk ke dalam.


“Ada apa sayang?” tanya Bernard dengan wajah khawatir karena dia hanya mendengar suara teriakan Key saja.


“Jangan di biasain teriak-teriak coba Key! Bikin orang jantungan aja deh.” Sahut Ken yang sudah tau kalau saudara kembarnya itu teriak pasti hanya lebay saja.


“Ih sirik aja lo! Nih liat tadi aku dapet kiriman dari Andini, foto Karren sama Gibran mereka serasi banget.” Ucap Key sambil menunjukkan foto yang ada di ponselnya kepada Bernard dan Ken.


Keduanya benar-benar menganga, karena Karren yang mereka kenal dengan kesan seksi dan bar-bar sekarang malah seperti wanita anggun dan kalem, benar-benar bukan seperti Karren.


“Aku tau sih keponakan aku ini emang cantik, tapi selama ini ga pernah loh dia pake baju kesannya anggun begini, biasanya seksi terus iya kan?” ucap Ken yang di balas anggukan oleh Key.


Namun Bernard yang hanya diam saja membuat Ken dan Key menoleh ke arahnya, sekarang gantian mereka berdua lah yang menganga saat melihat Bernard.


Pasalnya laki-laki itu saat ini sedang meneteskan air mata hingga membasahi ponsel milik sang istri.


“Om beruang? Kamu kenapa menangis begitu?” tanya Key heran.


“Huaaaaa,,, putriku sudah besar, sebentar lagi dia udah jadi milik orang lain bukan milikku lagi...” ucap Bernard yang saat ini tangisnya pecah seperti anak kecil.


“Kak, mau sebentar lagi atau beberapa tahun lagi, seorang wanita pasti akan menjadi milik orang lain, bukan milik orang tuanya lagi.” Sahut Ken.

__ADS_1


__ADS_2