DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 33 (GARA-GARA DARREN)


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit, artinya lima belas menit lagi Karren harus masuk ke dalam kelas karena jam delapan tepat dia ada jam kuliah mata pelajaran Gibran.


Setelah selesai bersiap, Karren segera keluar dari kamarnya, sesampainya di meja makan Karren hanya mengambil selembar roti dan mengoleskan selai dengan asal.


“Loh kamu kok buru-buru sih Ren?” tanya Bernard.


“Maaf ya pap, aku terlambat nih.”


“Salah sendiri di bangunin dari tadi ga bangun-bangun dia pap, sekarang malah buru-buru sampe ga sarapan.” Ucap Karren.


“Mami sih bukannya di siram, biasanya juga kan di siram kalo aku ga bangun..” protes Karren.


“Kan kamu sendiri yang bilang ga suka di siram, jadi sekarang ga mami siram.” Balas Key.


“Udah ah Karren berangkat dulu, bye..” pamit karren yang segera mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan juga mencium pipi papi dan maminya secara bergantian.


Karren keluar dari rumahnya dan menunggu Darren menjemputnya, namun tanpa sengaja Karren melihat mobil Gibran yang baru saja keluar dari rumahnya.


“Mati gue!” ucap Karren yang mulai panik.


Karren segera berlari menuju rumah Darren, dia segera masuk ke dalam setelah berpamitan kepada Ken dan Andini.


“Aunty, Karren langsung masuk ke kamar Darren aja ya.” Ucap Karren.


“Iya sana gih, dari tadi di suruh turun ga turun-turun dia ga tau ngapain di kamarnya.” Balas Andini.


“akhirnya Karren segera berlari menaiki tangga dan langsung membuka pintu kamar saudaranya yang tidak terkunci, membuat sang pemilik kamar yang sedang memakai celana jeansnya terkejut.


“F*ck sialan lo Karren! Gue lagi ganti baju!” teriak Darren yang langsung membenarkan celananya.


“Lo lama Darren! Cepetan deh ga usah lama-lama!” ketus Karren yang langsung menarik lengan Darren begitu saja.


Sepanjang tangga, Darren terus mengoceh tidak jelas karena Karren terus menariknya tanpa membiarkannya berpamitan kepada kedua orang tuanya.


“Aunty, sorry ya Darren terpaksa harus Karren geret, kalo ga gitu dia pasti lebih lama lagi.” Ucap Karren yang tetap melanjutkan langkahnya.


Sedangkan Darren yang sedang di tarik hanya bisa meminta bantuan kepada maminya.


“Mii,,, helppp..” ucap Darren.

__ADS_1


“Maaf nak, mami juga tidak bisa melawan keras kepala Karren.” Ucap Andini dengan nada mendramatisir sambil melambaikan tangannya.


Wajah Darren sudah memelas membuat Andini tidak bisa kalau tidak tertawa.


Begitulah Karren dan Darren, Karren akan sellau memaksa Darren melakukan apapun yang dia mau, sedangkan Darren yang sebenarnya tidak mau pun terpaksa harus melakukan semua hal yang di inginkan Karren.


Pukulan di lengan Darren dari seseorang yang duduk di sebelahnya yaitu Karren, terus terasa sampai Darren tidak bisa fokus pada jalanan di depannya.


“Ayo Ren! Lebih cepat lagi, itu tuh mobilnya Gibran.” Ucap Karren yang terus memukul lengan Darren dan tangan satunya menunjuk ke arah depannya.


Darren hanya memutar bola matanya, tapi tetap menuruti ucapan Karren dengan menambah kecepatan mobilnya.


“Ken buruan sebelum nyawa kita di ambil sama dia!” teriak Karren.


“Iya Karren iya, lo bisa ga sih diem? Gue ga bisa konsen nyetir kalo lo teriak-teriak mulu!” ketus Darren yang akhirnya buka suara.


“Lo enak nyantai soalnya nyawa lo masih tiga! Sedangkan nyawa gue udah tinggal dua Ren!” balas Karren dengan ketus.


“Nyantai pala lo! Ga liat nih penampilan gue setelah lo tarik-tarik tadi!?” ketus Darren.


Karren langsung melihat penampilan sepupunya yang tadi tidak dia lihat dengan jelas dan langsung menahan tawanya.


Tadi Karren memang menyeret Darren tanpa memperdulikan bagaimana penampilannya, dan ternyata sangking buru-burunya Darren sampai tidak memakai sepatunya dengan benar, hanya sepatu sebelah kanannya saja yang terpasang sempurna, sedangkan sepatu sebelah kirinya tidak dia pasang dan kakinya masih memakai kaos kaki saja.


“Ketawa lagi gue tinggalin lo Ren di lampu merah!” ketus Darren.


“Emang berani?” tanya Karren mengejek.


Darren hanya mendengus kesal, kalau tidak mengingat bagaimana galaknya tantenya, sudah bisa di pastikan Karren akan dia tinggalkan di lampu merah.


“Darren, lo masa ga bisa susul dia sih? Dia kalo nyetir lelet kayak bapak-bapak baru belajar mobil.” Ucap Karren.


“Lo ga liat di depan mobil kita ada mobil orang? Maksud lo, gue lo suruh nbrak mereka demi ngejar mobil Gibran gitu?” tanya Darren dengan kesal.


Karren terus berbicara membat Darren kesal dan hanya bisa mengusap telinganya yang mungkin sebentar lagi akan pecah karena cerocosan Karren.


Sesampainya di kampus, mobil Darren belum juga berhasil menyusul mobil Gibran. Darren memarkirkan mobilnya sembarangan dan segera keluar mobil dengan terburu-buru.


“Loh Darren? Lo mau kemana, mobil lo ga bener ini parkirnya.” Ucap Karren dari dalam mobil.

__ADS_1


“Udah biarin aja! Nanti gue benerin lagi, gue lagi ada urusan nih.” Ucap Darren sambil mengikat tali sepatunya lalu beralih mengancingkan celananya.


“Lo ada urusan apa sih Ren?” tanya Karren sambil mengerutkan keningnya melihat sepupunya yang terburu-buru.


“Urusan alam Ren, perut gue sakit banget nih mau BAB.” Ucap Darren.


“Dih!” balas Karren.


“Ren, gue bisa minta tolong ga?” ucap Darren dengan wajah memelas.


“Minta tolong apaan?” tanya Karren.


“Tolong halangi pak Gibran, jangan sampai dia masuk kelas dulu Ren.” Ucap Darren.


“Lo gila ya? Ga mau ah! Gue ga bisa lah Ren.” Balas Karren.


“Please banget Ren, perut gue sakit banget ini.. Cuma lo aja yang bisa cegah dia.” ucap Darren memohon.


Karren menahan tawa melihat wajah sepupunya, Karren ingat semalam Darren harus memakan mie pedas karena kalah taruhan bola.


“Ini juga karena bokap lo Ren, jadi lo harus tanggung jawab.” Ucap Darren kembali.


“Kok jadi gue yang tanggung jawab sih? Itu kan salah lo sendiri yang kalah dai bokap gue.” Ucap Karren tidak terima.


“Udah ah pokoknya lo yang harus tanggung jawab! Bodo amat gue! Halangi pak Gibran jangan sampai dia masuk kelas sebelum gue balik!” ucap Darren yang langsung berlari meninggalkan Karren.


Melihat hal itu membuat Karren tidak bisa menahan tawanya dan akhirnya tawa Karren pecah sangkin lucunya ekspresi wajah Darren tadi.


Namun seketika tawanya menghilang, Karren menoleh ke parkiran khusus dosen dan melihat mobil Gibran sudah terparkir rapih di sana.


“Mampus!” ucap Karren sambil menepuk jidatnya sendiri.


Karren segera berlari menyusul Gibran, larinya melambat saat melihat Gibran yang sedang berjalan di koridor.


Karren berusaha untuk mengatur nafasnya agar kembali normal, karena Darren dia harus berhadapan dengan dosen killer itu di pagi hari.


“Aduh!!” ucap Karren dengan nada yang keras agar Gibran bisa mendengarnya.


Karren memegang pelipisnya seolah dia sedang pusing. Namun bukan Gibran yang menghampirinya, melainkan para laki-laki yang berada di sekitar Karren yang menghampirinya.

__ADS_1


Gibran bahkan tidak Menoleh sama sekali untuk melihat apa yang terjadi.


“Sial! Dia ga perduli sama sekali gitu? Noleh aja engga!” gumam Karren di dalam hatinya.


__ADS_2