
Hari ini adalah hari sabtu malam minggu, Karren merasa bosan berada di rumah sendirian karena orang tuanya sedang keluar bersama keluarganya yang masih berada di Indonesia, sedangkan Karren dan Darren tidak ingin keluar.
Biasanya tiap malam minggu Karren pasti akan keluar bersama teman-temannya, tapi berbeda dengan hari ini karena dia mengingat ucapan Gibran yang tidak suka kalau dia pergi ke bar.
Karren terus memencet tombol remote untuk mencari acara yang menarik sedari tadi, tapi tidak kunjung dia temukan.
Karren ingin bermain dengan Darren karena dia tau kalau Darren juga tidak ikut bersama keluarga mereka, tapi sepupunya itu sudah keluar sejak tadi entah apa yang dia lakukan. Karena tidak menemukan acara yang menarik akhirnya Karren memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Karren meraih ponselnya dan mulai membuka WA untuk meredakan kebosanannya, mata Karren seketika berbinar saat melihat Gibran yang sedang aktif.
Dengan segera Karren mengirim pesan untuk calon suaminya itu, mengganggu laki-laki itu sepertinya akan membuat kebosanannya hilang.
Karren Adibrata :
Sayang [emoticon love]
Karren sudah mengiriminya pesan tapi Gibran tidak kunjung membalasnya dan membuat Karren kesal di buatnya, padahal Gibran masih aktif tapi kenapa dia tidak membalasnya. Karren jadi curiga, sedang berkirim pesan dengan siapa laki-laki itu sampai tidak sempat membalas pesan darinya.
Sambil menunggu Gibran membalas pesannya, Karren menelusuri postingan teman-temannya di instagram, saat sedang asik menonton video lucu, pesan Gibran tiba-tiba saja muncul di layar atas ponselnya.
Gibran Mahardika :
Ada apa Karren?
Karren berdecak kesal saat melihat balasan dari Gibran, padahal dia sudah mengirim pesan yang manis tapi Gibran malah membalas dengan pesan formal seperti itu.
Jujur saja, Gibran bukanlah tipe laki-laki idaman Karren, tapi sayangnya laki-laki itu menjadi tipe menantu idaman orang tuanya. Karren sebenarnya menyukai laki-laki yang humoris dan menyenangkan.
Laki-laki kaku seperti Gibran sama sekali tidak termasuk ke dalam daftar tipe calon suami idaman Karren, Karren sudah bisa membayangkan kalau hubungan mereka nanti pasti akan terasa membosankan jika bersama orang seperti Gibran.
Namun lagi-lagi otak Karren harus kalah dengan hatinya, meskipun Gibran bukanlah laki-laki yang menyebalkan dan kaku, tapi hati Karren sangat menginginkan laki-laki itu.
Awalnya Karren hanya iseng mendekati Gibran, dia hanya ingin menjawab rasa penasarannya sendiri pada laki-laki yang tidak mudah jatuh ke dalam pesonanya itu.
Sifat Gibran yang baik dan sopan membuat jiwa penggoda di dalam diri Karren meronta-ronta. Karren sangat suka melihat ekspresi Gibran saat dia mengganggu laki-laki itu dan menggodanya.
Rasa iseng Karren yang menjadi niat awal Karren mendekati Gibran seketika berubah menjadi rasa ingin memiliki seutuhnya. Meskipun masih suka overthinking, tapi Karren sangat senang karena sebentar lagi dia akan menjadi milik Gibran seutuhnya.
__ADS_1
Karren Adibrata :
Kamu ada di rumah?
Tanya Karren membalas pesan dari Gibran. Beberapa menit kemudian, baru ada pesan balasan dari Gibran.
Gibran Mahardika :
Ada, kenapa?
Karren Adibrata :
Aku mau ke sana, aku bosan di rumah sendirian.
Gibran Mahardika :
Ya udah, saya ada di ruang tengah kamu bisa langsung masuk.
Karren Adibrata :
Oke.
Seperti yang di katakan Gibran, Karren langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu, dia segera menghampiri Gibran yang katanya sedang berada di ruang tengah.
Karren melihat Gibran yang sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya, laki-laki itu terlihat sangat sibuk sampai tidak menyadari kalau Karren sudah ada di sana.
Karren sengaja berdehem untuk menyadarkan Gibran dari pekerjaannya dan melihat kedatangannya, senyum manis terbit di bibir Karren saat Gibran menatapnya.
Karren langsung duduk di samping Gibran begitu saja tanpa harus di persilahkan lebih dulu, dia ikut melihat layar laptop yang ada di pangkuan Gibran.
“Kamu lagi sibuk ya mas?” tanya Karren.
“Tidak kok, hanya ada beberapa pekerjaan saja, setelah ini selesai.” Balas Gibran.
Karren cemberut, dia datang ke rumah Gibran ingin mencari teman, tapi teman yang di maksud malah sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya.
“Kamu tidak ada tugas?” tanya Gibran sambil menoleh ke arah Karren yang sedang duduk di sampingnya.
__ADS_1
Setahu Gibran, Karren adalah mahasiswa yang sangat santai, karena Gibran lebih sering melihat Karren nongkrong daripada mengerjakan tugas, jika tugasnya sudah mepet dengan hari pengumpulan barulah Karren akan mengerjakannya dan berujung memohon bantuan Gibran.
“Seingatku sih ga ada mas.” Jawab Karren setelah mengingat-ingat sebentar.
“Kok masih seingat sih? Kamu kan banyak ga ingatnya.” Balas Gibran dengan kening yang berkerut.
“Ngga ada beneran mas, tenang aja.” Balas Karren sambil tersenyum meyakinkan.
Gibran hanya manggut-manggut, lalu dia kembali fokus pada pekerjaannya membuat Karren berdecak kesal, sama saja Karren tetap kesepian kalo begitu karena Gibran lebih fokus pada layar laptopnya.
“Kenapa lagi sih Karren?” tanya Gibran yang mendengar suara decakan Karren.
“Kalau kamu sibuk sama pekerjaan kamu, terus aku gimana? Aku kan ke sini buat cari temen bukan cuma pindah duduk aja.” Ucap Karren dengan bibir yang di manyunkan.
Gibran menahan tawa melihat ekspresi Karren yang terlihat sangat menggemaskan, bibirnya yang maju ingin sekali Gibran cium andai saja mereka sudah sah.
“Kalau bosan nonton tv dulu aja.” Ucap Gibran.
Bibir Karren masih cemberut menatap Gibran dengan kesal.
“Nggak ada acara yang bagus aku udah nyari tadi.” Balas Karren.
“Kalau begitu nonton Disn*y+ atau Netfli* saja.” Ucap Gibran lagi.
“Ya udah deh.” Ucap Karren pasrah.
Karren akhirnya menyerah, dia menonton film sambil menunggu Gibran selesai dengan pekerjaaannya.
Sekitar hampir setengah jam Karren menonton film namun Gibran belum juga selesai padahal tadi dia bilang kalau pekerjaannya sebentar lagi, tapi nyatanya sudah setengah jam Gibran belum juga selesai.
Karena kesal Karren memiliki ide untuk menggoda Gibran, dia menyandarkan kepalanya di bahu Gibran namun matanya tetap ke layar tv untuk menonton film.
“Karren, jangan mulai deh!” tegas Gibran.
“Kenapa? kamu kan udah jadi tunangan aku, katanya kalo sepasang kekasih boleh kayak gini.” Protes Karren sembari mengingatkan Gibran dengan ucapannya saat berada di bioskop.
“Tapi posisinya saya sedang bekerja Karren.” Ucap Gibran berusaha untuk sabar.
__ADS_1
Gibran mencoba untuk mengendalikan tangannya sendiri agar tidak nakal karena sejak tadi dia sudah sangat gemas dengan Karren, rasanya Gibran ingin mendorong kepala Karren agar menjauh dari bahunya tapi dia takut kalau Karren akan tersinggung dan marah.
“Karren, bisakah kamu membiarkan saya konsetrasi sebentar saja?” tanya Gibran dengan baik-baik.