DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 37 (PERTUNANGAN)


__ADS_3

Cahaya pagi yang cerah menembus tirai di kamar Karren membuat sang pemilik kamar terbangun.


“Emmhhh..” Karren terbangun dengan mata yang setengah terbuka, dia meregangkan tubuhnya dan mengucek kedua matanya.


Hal pertama yang di lakukan Karren setelah terbangun dan mencuci wajahnya bukanlah turun ke bawah melainkan berjalan menuju balkon kamarnya untu melihat apa yang sedang di lakukan Gibran pagi ini.


Karren mengerutkan keningnya saat melihat di rumah Gibran terlihat cukup ramai, padahal sudah beberapa hari yang lalu mama Gibran sudah kembali ke kotanya.


“Dia ga ngajar ya hari ini? Kenapa rumahnya rame banget?” gumam Karren.


Lalu matanya kebetulan melihat Gibran yang baru saja membuka pintu balkonnya dan berjalan menuju balkon.


Tanpa sengaja Gibran juga kebetulan melihat ke arah Karren yang sedang melihatnya.


Seperti biasa, Karren tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya sedikit, sedangkan Gibran yang melihat hal itu malah memalingkan wajahnya tanpa membalas senyuman Karren.


Karren tidak percaya dengan ekspresi yang ditunjukkan Gibran saat melihatnya, Karren yang kesal langsung masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu balkon dengan kencang.


“Kurang asem banget sih tuh orang! Dia normal apa ngga sih!? Kenapa dia malah buang muka ngeliat gue!” gumam Karren sambil melihat dirinya di cermin besar yang ada di kamarnya.


Sedangkan di sisi lain, Gibran yang baru saja memalingkan wajahnya dari Karren kembali melirik ke arah kamar Karren dan ternyata Karren sudah tidak ada di sana.


“Pasti dia marah, lagian kenapa sih ke balkon dengan pakaian mini seperti itu? Apa dia tidak kedinginan?” gumam Gibran sambil menghela nafas panjang dan masuk kembali ke dalam kamarnya.


Sebenarnya Gibran sempat senang bisa melihat Karren pagi itu, tapi saat melihat baju yang di pakai Karren terlihat sangat minim hingga membuat Gibran langsung memalingkan wajahnya.


Karren akhirnya memutuskan untuk mandi dan turun dari kamarnya ke ruang keluarga, di sana dia melihat maminya sibuk mencocokkan baju dengan tasnya membuat Karren bingung.


"Mam? Mami sedang apa?" tanya Karren.


"Eh Karren ayo cepat kamu ganti baju, kita di undang sama mamanya Gibran." ucap Key.


"Di undang? Buat apa? Ada acara apa mam?" tanya Karren.


"Acara lamaran, udah jangan banyak tanya ayo cepat, mama udah siap ini tinggal pake sepatu." ucap Key yang langsung meninggalkan Karren yang masih bingung.


Sedangkan Karren yang masih bingung itu hanya bisa terdiam, memikirkan kata lamaran membuat Karren berfikiran jauh.

__ADS_1


"Lamaran? Maksudnya lamaran siapa? Jangan-jangan lamaran mas Gibran lagi!" gumam Karren.


Karren segera berlari ke luar di mana sang mami sedang mengobrol dengan orang-orang.


"Mam! Mami!" ucap Karren sambil menggoyangkan lengan Key.


"Yaampun apaan sih Karren." ucap Key sambil menepis tangan putrinya di lengannya.


"Mam, siapa yang lamaran mam? Mas Gibran lamaran? Sama siapa mam?" tanya Karren dengan panik.


"Yaampun Karren kenapa kamu panik gitu sih?" ucap Key yang tidak percaya kalau putri ya akan sepanik itu.


"Ya habisnya mami ga bilang siapa yang mau lamaran? Mas Gibran?" tanya Karren.


"Bukan Gibran yang mau lamaran, tapi sepupunya, kebetulan pacarnya di kota ini jadi sekalian, nah karena tante sudah menganggap kamu sebagai keluarga tante, jadi tante ajak kamu sama mami kamu sayang." jelas Yulia.


Mendengar penjelasan Yulia membuat Karren lega namun seketika dia jadi malu karena dia sampai berteriak seperti wanita tidak tau malu dan masih memakai baju tidur seksinya.


Karren hanya menyapa Yulia sebentar lalu segera masuk kembali ke dalam rumahnya.


“Gimana dong? Kalo gue di coret dari daftar menantu idaman gimana dong? Bodoh banget sih Karren!” Karren terus saja mengutuk dirinya sendiri hingga teriakan maminya menyadarkannya dan segera menuju kamar mandi untuk segera bersiap.


Setelah hamper satu jam barulah Karren selesai bersiap, hari itu Karren terlihat sangat cantik menggunakan kebaya modern berwarna navy.


Dan saat itu juga Gibran keluar dari rumahnya menggunakan jas berwarna navy senada dengan pakaian Karren seperti mereka sudah janjian memakai warna pakaian yang sama.


“Kalian berdua janjian pake baju navy ya? Cieee..” goda Key sambil tersenyum menggoda.


 “Wah sepertinya mereka sudah ada tanda-tanda ya Key..” sahut Yulia.


“Iya nih kayaknya mbak.” Balas Key.


Sebenarnya Yulia ingin mengajak semua keluarga Key, sayangnya semuanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sedangkan Kalandra dan Khansa sudah berada di mansion mereka.


Namun yang di lakukan Karren dan Gibran hanya menunduk karena tersipu malu, entah kenapa mereka bisa memakai pakaian dengan warna yang sama padahal mereka sama sekali tidak merencanakannya.


“Sudahlah ma jangan mengejek aku dan Karren terus, lebih baik kita berangkat agar tidak terlambat.” Ucap Gibran.

__ADS_1


“Ah iya kamu benar, ayo masuk ke mobil Gibran aja Key, Karren.” Ajak Yulia.


Semua orang berkumpul di rumah Gibran karena memang hanya Gibran lah yang memiliki rumah di kota itu jadi keluarganya menumpang di rumah Gibran untuk beristirahat.


Semua orang sudah berangkat menuju rumah keluarga kekasih sepupu Gibran untuk melakukan lamaran.


Sesampainya di sana, semua keluarga sang wanita sudah menunggu kedatangan keluarga Gibran, dan betapa terkejutnya Karren, Gibran dan Yulia saat melihat Sarah sedang tersenyum menyambut mereka.


“Sarah?” ucap Gibran dengan kening yang berkerut.


“B-bu Sarah? Bagaimana bisa…” Karren yang terkejut melihat Sarah langsung beralih ke arah Gibran.


“Kamu dan bu Sarah beneran mau lamaran mas? Jadi hari ini kalian yang mau lamaran?” Tanya Karren dengan kesal.


“Bukan saya, saya hanya mengantar sepupu saya aja, saya juga ga tau kenapa Sarah bisa ada di sini juga.” Balas Gibran.


Sedangkan Sarah yang awalnya tersenyum menyambut kedatangan Gibran dan keluarganya, seketika senyumnya lenyap saat melihat Karren keluar dari mobil yang sama dengan Gibran.


Bahkan yang semakin membuat Sarah kesal adalah pakaian yang di pakai Karren dan Gibran memiliki warna yang sama layaknya pakaian couple, sedangkan yang lain tidak memakai pakaian berwarna sama.


“Tante…” Sarah mencoba untuk meredam rasa kesalnya dan menyapa Yulia dengan ramahnya.


“Sarah? Kamu kok ada di sini sayang?” Tanya Yulia.


“Sofia adalah kakakku tante, jadi aku ada di sini.” Balas Sarah.


“Jadi kamu dan Sofia kakak beradik? Wah kebetulan sekali ya?” ucap Yulia.


“Kak Sofia dan aku hanya beda satu tahun setengah tante, jadi usia kami tidak terlalu jauh.”


Sarah melirik ke arah Key dengan wajah bertanya-tanya. Yulia yang menyadari hal itu langsung paham kalau Sarah penasaran dengan siapa Key sebenarnya.


“Ah iya tante lupa, dia maminya Karren namanya Key.” Ucap Yulia memperkenalkan Key dan Sarah.


Sarah terkejut karena Key masih terlihat sangat muda untuk seorang ibu yang memiliki anak sebesar Karren.


“Kalau begitu silahkan masuk tante Yulia dan tante Key, semua orang sudah menunggu.” Ucap Sarah mempersilahkan Key dan Yulia untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2