DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 128


__ADS_3

Karren merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, tangannya aktif menscroll layar untuk melihat postingan orang-orang yang dia ikuti di IG.


Tanpa sengaja kedua mata Karren melihat gambar bakso di salah satu postingan temannya, bakso itu terlihat sangat menggiurkan dengan banyak cabe di dalamnya. Karren refleks menelan salvilanya, dia ingin merasakan bakso itu sekarang.


“Mas, aku pengen bakso.” Ucap Karren tiba-tiba.


Gibran yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menoleh ke arah istrinya yang sedang menatapnya dengan tatapan memohon.


“Iya habis ini aku beliin bakso di depan perumahan.” Balas Gibran.


“Ga mau mas, aku maunya bakso yang kayak gini.” Ucap Karren sambil menunjukkan layar ponselnya ke hadapan Gibran.


Gibran melotot melihat gambar bakso besar dengan banyak irisan cabe di dalamnya, kuahnya yang berwarna merah itu membuat Gibran semakin ngeri melihtanya.


“Jangan makan bakso kayak gini sayang, nanti perut kamu sakit.” Ucap Gibran.


“Aku ga mau tau, pokoknya aku mau bakso yang ini, kamu cariin dong mas, anak kamu yang minta loh ini.” Ucap Karren.


Gibran menghela nafas panjang, jika Karren sudah membawa-bawa anak, Gibran tidak bisa apa-apa selain menuruti permintaan istrinya itu.


Setidaknya permintaan Karren kali ini lebih wajar di bandingkan dengan permintaannya minggu lalu, minggu lalu Karren membangunkan Gibran jam dua pagi dan langsung meminta gado-gado.


Karren bilang dia mimpi sedang makan gado-gado, jadi saat bangun Karren ingin langsung memakan gado-gado tanpa peduli kalau saat itu masih jam dua pagi.


Untung saja Anto memiliki teman penjual gado-gado, jadi Anto segera meminta tolong pada temannya untuk membuatkan gado-gado satu porsi untuk Karren.


“Oke aku cari, kamu tunggu di sini ya baik-baik di rumah, aku mau cari bakso yang kayak gitu dulu.” Ucap Gibran.


Karren tersenyum senang sambil mengangguk dengan antusias, Gibran mencium kening Karren dengan singkat lalu segera menyambar jaket dan kunci mobilnya berniat untuk berburu bakso.


“Jangan lupa nama baksonya sayang.” Ucap Karren mengingatkan.


“Iya sayang, tenang aja, aku udah hafal kok sama nama dan alamat penjualnya.” Ucap Gibran.


Karren memamerkan gigi putihnya, dia lupa kalau suaminya itu orang yang cerdas, tanpa di ingatkan pun Gibran sudah mencatat semua informasi dari postingan bakso itu tadi ke dalam otaknya.


Selagi menunggu Gibran, Karren rebahan sambil menonton TV, sesekali matanya melirik ke arah jam dinding untuk melihat berapa lama Gibran pergi.


Sampai beberapa saat kemudian Karren langsung beranjak dari tempat tidurnya saat mendengar mobil Gibran memasuki halaman rumah. Dengan cepat Karren berlari turun ke lantai bawah sampai membuat Gibran melotot panik melihat istrinya berlarian menuruni tangga.

__ADS_1


“Sayang, jangan lari-lari!” ucap Gibran dengan suara meninggi.


“Mana baksonya?” tanya Karren sambil mengulurkan kedua tangannya.


“Aku kasih tapi janji dulu kalo kamu ga lari lari kayak tadi lagi.” Ucap Gibran.


Karren memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Gibran, padahal dia hanya berlari kecil saja dan berhati-hati.


“Iya iya aku janji, jadi mana baksonya mas?” tanya Karren.


“Cium dulu.” Ucap Gibran sambil menyodorkan pipinya ke hadapan Karren.


Karren memutar bola matanya jengah, lalu dia mencium singkat pipi suaminya itu, dan setelah mendapat ciuman dari istrinya Gibran segera memberikan bakso yang tadi dia beli kepada Karren.


Dengan semangat Karren mengambil mangkuk dan sendok lalu menuang baksonya ke dalam mangkuk dan menyantapnya dengan lahap. Namun baru beberapa suapan tiba-tiba saja matanya mengeluarkan air karena kepedasan.


“Haaahh,, pedas mas..” teriak Karren sambil mengipasi mulutnya memakai tangan kanannya.


Karren menjambak rambutnya sendiri berharap kalau rasa pedasnya akan hilang setelah itu namun ternyata tidak.


“Aku kan udah bilang jangan makan bakso yang kayak gini, tapi kamu malah maksa pengen makan.” Ucap Gibran sambil menyodorkan segelas air putih kepada Karren.


“biar aku aja yang habisin sisanya.” Ucap Gibran sambil mengambil mangkuk bakso Karren.


Karren menatap Gibran dengan tatapan menyesal dan merasa bersalah, apa lagi saat melihat keringat mengucur di wajah tampan Gibran dan air mata yang keluar dari mata Gibran saat memakan bakso itu.


“Maaf ya sayang, gara-gara aku kamu jadi harus makan pedas kayak gini.” Ucap Karren.


“ga apa-apa, lain kali kalau mau apa-apa harus di pikir dulu ya, jangan asal minta biar ga mubazir.” Ucap Gibran sambil mengelus rambut Karren dengan lembut.


Karren menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“Good girl my wife...” ucap Gibran sambil mencium kening istrinya.


Gibran segera menghabiskan baksonya dan langsung meminum air putih hangat agar rasa pedasnya segera hilang.


Setelah menunggu sekitar setengah jam barulah Gibran mengajak Karren untuk kembali ke kamar dan beristirahat.


***

__ADS_1


Bulan demi bulan pun berlalu, dan bulan ini usia kandungan Karren sudah memasuki bulan ke sembilan.


Perhatian Gibran dan semua keluarga semakin fokus kepada Karren dan kandungannya, semua orang berhati-hati memperlakukan Karren. Padahal yang di perhatikan malah santai saja.


“Ahhh...” teriak Karren yang membuat Gibran yang sedang mencuci mobilnya segera berlari masuk ke dalam rumah untuk melihat keadaan Karren.


Bahkan Gibran sampai melempar kanebo yang dia pegang dan tanpa sengaja menendang ember berisi air sabun.


"Sayang! Sayang, kamu kenapa?” tanya Gibran yang langsung merangkul Karren.


“Perutku sakit sayang, aahhh...” teriak Karren.


Gibran semakin panik melihat keadaan Karren, dia segera menelfon Key dan juga dokter yang menangani Karren untuk bersiap karena dia akan segera menuju rumah sakit.


“Bagaimana keadaan Karren?” tanya Key yang baru saja datang ke rumah Gibran dan Karren.


“Mam, Karren katanya perutnya sakit mam.” Ucap Gibran.


“Yaampun, cepet kamu siapin mobil, biar mami yang jaga Karren.” Ucap Key yang langsung di balas anggukan oleh Gibran.


Gibran segera mengeluarkan mobilnya dan kembali masuk ke dalam rumah untuk membantu Key membawa Karren ke dalam mobil.


“Mami ikut ya, Gibran panik kalo sendirian.” Ucap Gibran.


“Iya mami ikut kok, rumah juga ada art yang jaga.” Ucap Key yang langsung masuk ke dalam mobil.


Key dan Karren duduk di kursi penumpang Karren di baringkan dengan kepala yang berada di pangkuan Key. Key terus membelai rambut putrinya itu sambil menyemangatinya.


“Sabar sayang, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit.” Ucap Key.


Karren terus berusaha untuk mengatur nafasnya sambil memegangi perutnya, dia berusaha menahan rasa sakit di perutnya.


Sampai akhirnya mereka tiba di rumah sakit dan dokter yang tadi di hubungi oleh Gibran sudah menunggu di depan rumah sakit dengan


“Dok tolong dok, istri saya perutnya sakit.” Ucap Gibran dengan panik.


“Iya pak Gibran mohon tunggu dulu di sini sebentar, saya akan periksa istri anda dulu.” Ucap dokter tersebut dengan santai gar tidak membuat Gibran dan Key semakin panik.


Karren segera di bawa ke ruang pemeriksaan untuk di periksa apakah saat ini adalah waktunya untuk lahiran atau belum, karena perkiraan waktu lahir Karren masih beberapa minggu lagi.

__ADS_1


__ADS_2