DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 34 (AKTING)


__ADS_3

Para laki-laki segera menghampiri Karren untuk membantunya, sedangkan Gibran terus berjalan tanpa memperdulikan kerumunan laki-laki yang heboh di belakangnya.


“Ren, lo ga apa-apa?”


“Ren, lo kenapa?”


“Gue antar ke klinik yuk.”


Pertanyaan demi pertanyaan terus terlontar dari para laki-laki yang sekarang sedang mengerubungi Karren.


“Kepala gue pusing nih, gue minta tolong panggilin mas,, eh pak Gibran dong.” Ucap Karren dengan suara yang di lemas-lemaskan.


Semua orang hanya saling melihat satu sama lain sambal mengerutkan keningnya.


“Kenapa harus panggil pak Gibran Ren? Bukannya yang lo butuhin sekarang itu dokter ya?” Tanya salah satu laki-laki yang mau membantu Karren.


Mendengar para laki-laki yang ada di sekitarnya terus bertanya membuat Karren kesal dan dia tidak bisa memasang wajah lemas lagi, kali ini wajah Karren sudah kesal karena mereka terlalu mengulur waktu.


“Mereka ga ada niatan pergi gitu? Banyak nanya banget bias-bisa mas Gibran keburu sampe kelas.” Batin Karren di dalam hatinya.


“Pak Gibran itu tetangga gue, jadi biar dia aja yang bawa gue ke klinik.” Ucap Karren.


“Gue bisa kok gendong lo sampe klinik Ren.” Ucap salah satu laki-laki yang ada di sana.


Glek!! Seketika wajah Karren langsung melongo, dia tidak menyangka kalau ada orang yang berpikiran untuk menggendongnya.


“Please, gue cuma mau pak Gibran aja, tolong panggilin ya, gue udah ga kuat banget nih.” Ucap Karren yang memasang wajah memelas agar ada orang yang merasa iba dengannya.


Di dalam hati Karren, dia ingin sekali meminta bayaran yang banyak kepada Darren karena sudah membuatnya harus berakting dengan totalitas seperti itu.


“Tunggu, gue panggilin pak Gibran dulu.” Ucap salah satu laki-laki yang ada di sana.


Mendengar hal itu membuat Karren bernafas lega karena akhirnya ada juga orang yang peka dan mau memanggilkan Gibran untuknya.


Laki-laki itu berlari mengejar Gibran yang tadi baru saja berjalan menuju ruangannya.


“Pak! Pak Gibran!!” teriak laki-laki itu.


Melihat namanya di sebut membuat Gibran yang baru membuka ruangannya langsung menoleh dan mengerutkan keningnya saat melihat mahasiswanya berlari.


“Ada apa? Kenapa kamu sampai berlari seperti itu?” Tanya Gibran.

__ADS_1


“Pak tolong pak…” ucap mahasiswa tersebut sambal terengah-engah karena berlari kencang.


“Tolong apa?! Kamu kenapa?!” ucap Gibran yang ikut khawatir karena melihat mahasiswanya sampai berlari meminta tolong padanya.


“Bukan saya pak, tapi Karren, dia..” belum sempat mahasiswanya berbicara, namun Gibran sudah menutup kembali pintu ruangan yang tadi dia buka dan segera berjalan dengan cepat.


“Di mana Karren?” Tanya Gibran.


Mahasiswa tadi merasa aneh karena dia belum mengatakan apapun malah Gibran sudah berjalan dengan cepat seperti itu, tapi ya sudahlah yang penting Karren segera di bawa ke klinik.


“Di koridor lantai bawah pak.” Ucap mahasiswa itu.


Tanda di duga, Gibran segera memberikan tas kerjanya kepada mahasiswa tadi dan berlari dengan kencang.


“Loh pak, ini tasnya gimana?” Tanya mahasiswa itu.


“Titip dulu, tolong bawa ke kelas 2.4 terimakasih.” Ucap Gibran dengan berteriak.


Mahasiswa itu hanya melongo melihat Gibran yang sudah berlari menjauh.


“Kenapa harus sepanik itu sih? Padahal Karren cuma pusing aja, apa jangan-jangan pak Gibran juga fans nya Karren ya?” gumam mahasiswa itu sambil menggelengkan kepalanya.


Tidak lama kemudian, Gibran tiba di tempat Karren yang sudah di kerumuni banyak orang.


“Permisi, biar saya saja.” Ucap Gibran yang langsung menarik Karren dan meraih kepala Karren dari bahu laki-laki itu.


Dengan perasaan tidak rela akhirnya laki-laki itu berdiri dan membiarkan Gibran menopang tubuh Karren.


“Karren, kamu kenapa?” Tanya Gibran.


“Kalian semua bisa bubar dan masuk ke kelas masing-masing!” tegas Gibran kepada semua orang yang masih mengerumuni Karren.


Akhirnya semua orang bubar sambil berseru karena tidak rela meninggalkan Karren begitu saja.


Sedangkan Gibran tidak ingin tubuh Karren di lihat dan di sentuh laki-laki manapun.


“Karren, kamu sakit?” Tanya Gibran.


“Kepala aku pusing banget mas, padahal tadi pagi baik-baik aja.” Ucap Karren dengan lemas.


“Ayo ke mobil saya, saya punya beberapa obat-obatan di mobil.” Ucap Gibran.

__ADS_1


Karren hanya mengangguk dengan tangan yang masih memegang keningnya.


“Kamu bisa jalan Karren?” Tanya Gibran.


Mendengar pertanyaan itu membuat Karren seketika memiliki pikiran yang licik.


“Mumpung sudah seperti ini, sebaiknya aku pakai buat cari kesempatan juga ah.” Batin Karren dengan senyum tipis yang tidak bisa di lihat Gibran.


“Kayaknya aku ga kuat berdiri deh mas, pusing banget kepala aku.” Ucap Karren.


“Yaudah ayo biar aku gendong.” Ucap Gibran yang langsung menggendong Karren.


Semua perhatian tertuju kepada Gibran dan Karren saat ini, mereka pun saling berbisik saat melihat kedekatan Gibran dan Karren yang seperti itu.


Karren bersembunyi di dada Gibran sambil tersenyum senang, walaupun sudah pernah di gendong Gibran tapi saat itu dia sedang mabuk dan tidak terasa apa-apa, sedangkan saat ini Karren sangat senang merasakan di gendong oleh tubuh Gibran yang kekar.


Gibran membuka pintu mobil dengan kesusahan, lalu dia segera mendudukkan Karren di kursi belakang, sedangkan Gibran segera mengambil air mineral dan juga obat pusing dari bagasi mobilnya.


“Ini minumlah.” Ucap Gibran sambil memberikan obat dan air mineral kepada Karren.


“Terimakasih mas.” Ucap Karren sambil mengambil obat dan air mineral yang di berikan Gibran.


Namun Karren tidak langsung meminum obat itu, sebaliknya dia hanya menatap obat yang ada di tangannya dengan perasaan yang campur aduk.


Dia merasa bersalah karena sudah berbohong tentang sakitnya, dia juga tidak mau meminum obat itu karena dia memang tidak pusing, tapi kalau dia tidak minum obat itu maka Gibran akan curiga dengannya dan aktingnya yang sudah bagus itu akan sia-sia.


“Karren? Kenapa ga di minum obatnya?” Tanya Gibran membuat Karren terkejut.


“Ah iya mas, aku jarang minum obat jadi takut pahit hehe.” Ucap Karren berbohong.


Karren terpaksa harus meminum obat itu agar Gibran tidak mencurigainya, walaupun sebenarnya Karren takut kalau dia akan keracunan karena meminum obat padahal dia tidak sakit.


“Sudah mas.” Ucap Karren sambil tersenyum.


“Kalau kamu masih pusing mending pulang aja.” Ucap Gibran.


“Emang kalo aku pulang, kamu ga akan ngambil nyawa aku?” Tanya Karren.


“Maaf Karren, tapi peraturannya memang harus menggunakan surat dokter baru nyawa kamu ga hilang.” Ucap Gibran.


Mendengar ucapan Gibran membuat Karren berdecak kesal, Gibran memang tidak ada toleransinya sama sekali, padahal Gibran melihat sendiri kalau Karren sedang tidak berdaya saat ini, tapi masih harus surat dokter baru nyawanya tidak hilang.

__ADS_1


“Temani aku di sini dulu sebentar, jangan masuk ke kelas dulu.” Ucap Karren.


__ADS_2