
Hari ini adalah hari senin, di mana seharusnya Karren ada jam mata kuliah Gibran namun Karren sama sekali tidak bersemangat untuk keluar rumah sama sekali.
Lagipula jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, sedangkan kuliah baru di laksanakan pukul 8 pagi.
“Karren, bangun!!!” teriak seseorang yang sangat di kenal oleh Karren.
Namun Karren berusaha untuk tidak menggubris teriakan itu dan masih terlelap di balik selimutnya.
“Karren!!” teriaknya lagi membuat Karren mau tidak mau segera beranjak dari tempat tidurnya.
“Apa sih!?” ucap Karren dengan ketus sambil membuka pintu kamarnya.
“Lo lama amat sih bangunnya Ren, ayo prepare.” Ajak Darren.
Yap, orang yang sejak tadi mengetuk pintu kamar Karren adalah Darren, entah mimpi apa dia menjemput Karren di jam segini, padahal biasanya Karren lah yang selalu menjemput dan memaksa Darren bersiap.
“Lo mimpi apa udah rapih banget jam segini?” tanya Karren setelah melihat jam di dalam kamarnya.
“Ini jam 6 Ren, gue mau ke kampus lah! Yuk.” Ajak Darren.
“Gila lo! Jadwal kuliah pertama kita aja jam 8, lu jam 6 mau ke kampus mau nemenin satpam kampus? Apa mau bantuin nyabut rumput?” ucap Karren kesal.
“Hari ini gue kan ada ospek Ren, gue harus berangkat lebih pagi lah.” Balas Darren.
“Ya lo aja lah! Kan lo yang gantiin ketua BEM bukan gue.”
“Lo temenin gue kek Ren, masa iya gue sendirian ke sana.” Rengek Darren.
“Sumpah lo ganggu waktu tidur gue aja sih Ren..”
“Come on Ren,, lo kan sepupu gue paliiinggg baik..” puji Darren untuk merayu Karren.
“Ck! Tunggu bawah sono, gue mau mandi dulu.” Ucap Karren yang mau tidak mau ikut bersama Darren.
Karren memang hanya mandi bebek dan memakai pakaiannya saja, sedangkan untuk make up, Karren sengaja mau make up di dalam mobil agar Darren tidak terlambat.
__ADS_1
“Santai aja bawa mobilnya, bisa-bisa wajah gue jadi badut kalo sampe kecoret.” Ucap Karren mengingatkan.
“Lo lupa kalo gue ini mantan pembalap? Gue bisa ngebut tanpa membuat orang di dalam mobil lompat-lompat.” Ucap Darren yang terus menginjak pedal gas sampai mereka jalan dengan kecepatan maksimal.
“Sumpah Darren, gue tau lo mantan pembalap tapi posisinya gue lagi make up!” teriak Karren yang saat ini masih berusaha untuk memakai lip cream nya.
Citttt... Tiba-tiba saja Darren mengerem membuat Karren yang sedang memakai lip cream oleng dan mencoret pipinya.
“Oh my God Darren! Gue kan udah bilang ga usah kebanyakan gaya!” ketus Karren sambil menoleh ke arah sepupunya itu dan memberikan tatapan tajamnya.
Namun bukannya takut dan merasa bersalah, Darren malah tertawa dan mengeluarkan ponselnya untuk memotret kondisi Karren saat ini.
“Lo apa-apaan sih Ren, kok malah foto gue!” ucap Karren yang belum sadar kalau wajahnya tercoret lip cream miliknya.
“Noh liat!” ucap Darren sambil menunjukkan foto yang dia ambil tadi.
“Sumpah Darren gila! Yaampun muka gue!” ucap Karren frustasi dan sedang mencoba untuk menghapus lip creamnya.
“Itu bukan salah gue Ren, tuh cewek asal sebrang aja gue kan kaget.” Ucap Darren yang malah menyalahkan orang yang tadi menyebrang dan membuatnya mengerem mendadak.
Darren hanya tertawa memamerkan giginya lalu dia keluar untuk melihat keadaan mobilnya, iya mobilnya bukan orang yang hampir dia tabrak.
Sedangkan Karren tau kalau ini akan jadi masalah, dah akhirnya Karren memutuskan untuk ikut keluar dari mobil setelah membersihkan pipinya.
Baru saja Karren ingin menyuruh wanita itu menyingkir agar tidak kena amukan Darren, tapi siapa sangka kalau wanita itu malah lebih dulu memarahi Darren, dan terlihat kalau Darren juga terkejut karenanya.
“Heh! Kalo bawa mobil liat-liat dong! Untung bisa ngerem, kalo ga bisa terus gue lecet awas aja lo!” ketus wanita itu.
“Wih galak amat mbak, sabar nanti cepet tua loh kalo marah-marah terus.” Ucap Darren dengan santai.
Karren semakin terkejut melihat Darren yang mengatasi masalah ini dengan santai, biasanya Darren akan menggila apa lagi saat dia sedang membawa Karren, walaupun perempuan tapi tetap saja Darren akan memarahinya habis-habisan.
Tapi untuk pertama kalinya Karren melihat Darren yang dengan santai menanggapi semua kata-kata perempuan yang ada di hadapannya.
Perempuan itu memang cantik, manis, tapi baru kali ini Darren terpengaruh padahal nyawa sepupunya bisa saja terancam karenanya.
__ADS_1
“Ini jalan bukan jalan nenek moyang lo, jadi jangan asal! Kalo orang tua yang nyebrang gimana? Mana bisa dia menghindar kayak gue tadi!” ketus perempuan itu.
“Sorry ya mbak, sepupu gue emang kebanyakan gaya dan hampir ngebuat kita dalam bahaya, lo ga apa-apa kan?” tanya Karren.
“Engga, untungnya gue ga apa-apa, bilang sama sepupu lo deh biar hati-hati kalo naik mobil, ini bukan sirkuit balap.” Ucapnya yang mulai melembut saat berhadapan dengan Karren.
Perempuan itu berniat untuk segera pergi setelah membersihkan pakaiannya dan juga jas kampus yang tadi terjatuh dari tangannya.
“Tunggu, nama lo siapa?” tanya Darren yang membuat Karren dan perempuan itu terkejut bahkan sampai melotot ke arah Darren.
“Seriously Darren? Lo bisa-bisanya sempet tanya nama!” ucap Karren sambil menimpuk kepala Darren dengan tas make up yang tidak sengaja Karren bawa ke luar tadi.
“Sorry dia udah gila, lanjutin aja sekali lagi maaf ya hampir bikin lo celaka.” Ucap Karren menyuruh perempuan tersebut untuk melanjutkan langkahnya.
Darren masih melihat punggung perempuan itu yang sudah mulai menjauh sambil memegang kepala belakangnya yang tadi habis di pukul Karren.
Karren yang melihat Darren masih terpaku di tempatnya langsung menarik telinganya dan membukakan pintu mobil untuk Darren.
“Aw gila lo Ren!” teriak Darren sambil mencoba melepaskan tangan Karren dari telinganya.
“Cepet pake sabuk pengaman lo biar gue yang nyetir!” ketus Karren dengan kesal.
Karren segera duduk dikursi kemudi, sedangkan Darren hanya bisa pasrah menuruti apa yang di perintahkan oleh Karren.
Sepanjang jalan, Karren hanya diam dan fokusnya hanya untuk menyetir saja. Karren sudah tidak perduli lagi dengan make upnya yang belum selesai, sedangkan Darren yang tau kalau sepupunya itu sedang kesal hanya bisa diam sambil memegang erat seatbeltnya.
Karena sebenarnya dalam urusan menyetir, Karren adalah orang yang lebih handal di bandingkan dirinya sendiri.
Sesampainya di kampus, Karren segera memarkirkan mobil Darren dengan sangat rapih di parkiran kampus, Karren merapihkan make upnya lebih dulu sebelum akhirnya keluar dari mobil.
Sedangkan Darren yang awalnya ingin keluar dari mobil secara diam-diam langsung berhenti saat Karren memberinya peringatan.
“Berani keluar gue hancurin mobil lo ini!” ketus Karren yang masih fokus melihat cermin sambil merapihkan make upnya.
Entahlah, tapi kadang Darren berfikir kalau sepupunya itu memiliki mata yang tersembunyi di rambut panjangnya, karena apa yang di lakukan Darren di sebelahnya pasti Karren selalu tau walaupun dia sedang fokus melihat ke depan.
__ADS_1