
“Ada apa mas bawa aku ke sini?” tanya Karren.
“Kelas kamu udah selesai?” tanya Gibran melirik Karren sekilas lalu kembali menyusun dokumen-dokumennya.
“Udah lah mas, kalo belum aku ga akan ada di sini dong, rencananya aku mau ke kantin dulu cari makan habis itu langsung pulang.” Balas Karren.
“Kenapa kamu ga jawab pesan saya kalo udah selesai kelas?” tanya Gibran.
“Hp aku kehabisan batrey mas makanya ga bisa buka pesan dari mas Gibran.” Balas Karren.
Gibran menganggukkan kepala lalu dia mengambil charger miliknya dan segera memberikannya kepada Karren.
“Nih charger dulu hp kamu di situ.” Ucap Gibran sambil menunjuk ke arah stop kontak yang ada di sebelah sofa.
Karren mengangguk sambil mengambil charger yang di berikan oleh Gibran, dan segera men charger ponselnya sambil menunggu Gibran menyelesaikan kerjaannya.
“Kamu pulang sama saya aja nanti.” Ucap Gibran yang saat ini sudah memindahkan semua dokumen dan juga laptopnya ke meja di depan Karren dan duduk di sebelahnya.
“Kamu ga masalah kan kalo nunggu saya menyelesaikan kerjaan dulu?” tanya Gibran.
“Hmm ga apa-apa kok lagian ga ada kerjaan juga di rumah.” Balas Karren sambil berusaha untuk menyalakan ponselnya yang mati.
“Mas, ga apa-apa kan kalo aku titip makan sama temen aku? Aku laper banget nih, mas Gibran mau pesen makan juga?” tanya Karren.
“Boleh deh, aku pesan roti sama kopi hitam aja ya.” Jawab Gibran yang di balas anggukan oleh Karren.
Gibran kembali fokus dengan laptop dan dokumen-dokumen yang ada di hadapannya, sedangkan Karren sibuk dengan ponselnya karena dia harus segera mengirim pesan di grup chatnya untuk membelikan makanan dan minuman untuknya dan juga Gibran.
Tidak membutuhkan waktu begitu lama sampai akhirnya ketukan pintu terdengar dari luar ruangan Gibran.
“Biar aku aja yang buka, pasti Silvia yang nganter makanan pesananku.” Ucap Karren yang di balas anggukan oleh Gibran.
Karren segera membuka pintu ruangan Gibran dan benar saja, seseorang mengirimkan pesanan makanannya, namun bukan Silvia yang membawakan makanannya, tapi Darren dengan wajahnya yang masam.
“Kok, lo yang bawain? Bukannya tadi Silvia yang bilang mau anter makanan gue?” tanya Karren heran.
__ADS_1
“Iya emang awalnya begitu, tapi tiba-tiba gebetannya chat udah ada di depan kampus, ya langsung kabur dia ngasih pesenan lo ke gue.” Jelas Darren yang kesal jika mengingat kejadian tadi.
“Hahaha, pantesan aja lo asem banget mukanya kek begini.” Balas Karren yang gemas melihat wajah sepupunya itu.
“Nih makanan lo, lo mau pulang sama siapa ntar?” tanya Darren.
“Gue pulang sama mas Gibran Ren.” Jawab Karren.
“Sih udah baikan nih manggilnya ‘mas’ ‘mas’ lagi? Mas berapa karat bu?” ejek Darren.
Karren langsung menjitak kepada Darren membuat Darren kesakitan dan langsung memegang kepalanya yang tadi di jitak oleh Karren.
“Udah sono lo pergi aja, kejar sono Aninditanya.” Ucap Karren.
Darren segera memanyunkan bibirnya, lalu dia pergi tanpa berpamitan kepada Karren yang bahkan belum sempat berterimakasih.
“Ini roti sama kopinya mas.” Ucap Karren yang sudah menyediakan roti dan kopi yang di pesan oleh Gibran.
“Hmm, makasih ya.” Ucap Gibran yang tadi sempat melirik sekilas ke arah Karren yang sedang menaruh makanannya.
“Belum, makanya aku pesan roti.” Balas Gibran.
“Hah? Kok bisa-bisanya cuma makan roti aja? Ayo makan sama aku ya.” Ucap Karren dengan tegas.
Dia membuka nasi goreng yang dia pesa dan berniat untuk makan berdua dengan Gibran karena porsi nasi goreng di kampusnya sangat banyak, Karren tidak bisa menghabiskan semuanya begitu saja.
“Ayo makan, aaa...” ucap Karren sambil mengulurkan sesendok nasi goreng ke mulut Gibran.
“Saya makan roti aja Karren, lagian itu nasi goreng punya kamu harusnya kamu yang makan dulu.” Ucap Gibran.
“Kalo bisa makan sendiri kenapa dari tadi ga makan terus sekalinya makan cuma makan roti sama kopi lagi, emang kamu mau kena lambung gara-gara minum kopi saat perut kosong? Kamu tau ga sih kalo lambung itu sumber dari berbagai macam penyakit.” Ucap Karren dengan tegas.
Mendengar ocehan dari Karren membuat Gibran tersenyum, terlihat sekali kalau Karren sangat pengertian kepadanya membuat Gibran semakin yakin kalau Karren bisa menjadi istri yang baik untuknya.
“Tapi ini punya kamu, kamu dulu yang makan.” Ucap Gibran.
__ADS_1
“No! Pertama kamu lebih tua dari aku, kedua aku sedang membiasakan diri untuk mendahulukan suami dari pada diri sendiri.” Jelas Karren yang membuat Gibran tersipu malu.
Akhirnya tanpa berdebat lagi Gibran segera membuka mulutnya dengan lebar dan membiarkan Karren menyuapkan makanan ke mulutnya, sedangkan Karren tersenyum senang saat melihat Gibran yang mau di suapi olehnya.
Karren terus menyuapkan makanan kepada Gibran sampai habis, bahkan dia lupa kalau dia tidak makan sama sekali karena Gibran dengan lahapnya menghabiskan nasi goreng yang dari tadi di suapkan oleh Karren tanpa sadar.
“Sudah habis, alhamdulillah...” ucap Karren yang segera merapihkan bekas makanannya.
“Loh habis? Kamu ga makan sama sekali? Yaampun kenapa kamu ga bilang kalo saya udah habis banyak Karren?” ucap Gibran saat mendengar ucapan Karren.
“Hehehe, aku lihat mas makan lahap aja udah seneng banget loh, ga apa-apa aku makan roti ini aja udah cukup kok.” Ucap Karren sambil memamerkan gigi putihnya.
“Engga, ga bisa! Aku pesan lagi ya nasi gorengnya.” Ucap Gibran yang mau beranjak dari tempat duduknya namun dengan sigap Karren menghalanginya.
“No mas, aku ga apa-apa beneran deh, aku cukup makan roti aja soalnya emang biasa sarapan juga aku cuma makan roti, kecuali emang lagi mood makan nasi.” Jelas Karren.
“Tapi...”
“Udah mas, mendingan kamu selesein pekerjaan kamu biar kita cepat pulang.” Ucap Karren.
Gibran hanya menghela nafas panjang mendengar ucapan Karren, lalu dia mengangguk mengalah kepada Karren.
“Baiklah kalau begitu, cepat makan rotinya sebentar lagi aku selesai dan kita akan pulang.” Ucap Gibran yang di balas anggukan oleh Karren.
Karren melihat sekeliling ruangan Gibran yang tertata sangat rapih, Karren juga melihat ada jendela di sisi lain yang membuatnya tertarik untuk melihat ke luar jendela.
Karren melihat pemandangan dari dalam ruangan Gibran, dari sana Karren bisa melihat lapangan kampus dan juga parkiran yang terlihat masih ramai.
Sedangkan tanpa di sadari oleh Karren, ternyata Gibran sejak tadi sedang menatapnya dengan senyum yang mengembang sempurna di wajahnya.
Karren yang merasa puas melihat keluar jendela kembali menoleh ke arah Gibran untuk memastikan apakah Gibran sudah selesai bekerja atau belum, tapi siapa sangka Karren malah melihat Gibran yang sedang menatapnya.
“Kenapa kamu melihatku seperti itu mas?” tanya Karren.
“Kelihatannya kamu sudah siap untuk menjadi nyonya Mahardika.” Ucap Gibran yang membuat jantung Karren berdegup dengan kencang.
__ADS_1