
“Ren, gue tau lo punya rencana aneh kan? Jangan macem-macem lo sama Kevin, gue bilangin emaknya tau rasa lo.” Ucap Darren kepada sepupunya.
Silvia yang tidak terima sahabatnya di tuduh yang tidak-tidak itu langsung memukul kepalanya dengan buku tebal miliknya membuat Darren langsung memegang kepala belakangnya.
“Aw, jangan mukul kepala gue dong nanti gue jadi bego terus anak-anak kita ikut bego gimana dong?” ucap Darren.
“Pale lo anak-anak kita! Lo itu bukan selera gue tuan Darren Adibrata...” sahut Silvia dengan ketus.
“Iya gue tau kok, gue ini terlalu ‘waw’ buat lo, sedangkan lo sukanya yang kayak giant hahaha.” Ejek Darren sambil tertawa.
Silvia melotot ke arah Darren, dia kembali memukul kepala Darren dengan bukunya namun Darren berhasil menghindar, namun Silvia memukul lengan Darren dengan kencang sampai Darren kesakitan.
Karren tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabat dan sepupunya itu, tanpa sengaja tatapan matanya bertemu dengan mata Gibran yang masih menatapnya dengan tajam.
“Karren, tolong kumpulkan semua tugas teman-temanmu dan bawa ke ruangan saya." ucap Gibran.
Mendengar ucapan Gibran membuat Karren terkejut, sedangkan Kevin menghela nafas lega karena dia tidak ikut di panggil.
"Huuhhh, selamat menikmati ya beb, untung gue ga ikutan di panggil." ucap Kevin sambil menepuk-nepuk bahu Karren.
"Kurang asem lo! Laki macem apa sih lo bukannya belain malah seneng." ketus Karren.
"Sorry Ren, tapi lo emang tipe bini yang suka cari masalah gue males pasti ujung-ujungnya lo debat sama si doskill." ucap Kevin.
Mendengar ucapan mantannya itu membuat Karren mendengus kesal lalu dia segera berdiri dari tempat duduknya dan melaksanakan perintah dari Gibran.
Sesampainya di ruangan Gibran, Karren segera mengetuk pintu lebih dulu, setelah di persilahkan masuk barulah Karren membuka pintunya.
"Ini tugas teman-teman pak." ucap Karren sambil menaruh setumpuk buku di meja Gibran.
Saat itu Gibran memang tidak ada kerjaan, dia hanya duduk di kursinya sambil memainkan ponselnya.
Setelah Karren masuk, Gibran langsung memberikan tatapan tajam ke arah Karren membuat Karren yang di lihat sampai bingung sendiri.
"K-kenapa bapak lihat saya kayak gitu? Ada yang salah?" tanya Karren.
"Hah! Kamu tanya ada yang salah? Apa saya ga salah denger Karren?" tanya Gibran sambil tersenyum sinis.
"Tapi saya beneran ga tau salah saya apa pak." ucap Karren.
__ADS_1
"Maksud kamu apa berpenampilan seperti itu di kampus?" tanya Gibran yang saat ini sudah beranjak dari kursinya.
"Ga ada maksud apa-apa kok pak." ucap Karren.
"Tidak bermaksud apa-apa? Bukankah kamu berpenampilan seperti itu karena kamu mau menggoda laki-laki di sini?" tanya Gibran sambil tersenyum sinis.
"Hemm, tebakan bapak benar! Aku memang sedang menggoda seorang laki-laki." ucap Karren dengan santainya sambil tersenyum manis.
"Siapa laki-laki itu? Mantan kamu yang tadi kamu sandarin itu?" tanya Gibran yang mulai menahan kesal.
Bukan mantan saya, lebih tepatnya calon suami sih, namanya Gibran Mahardika." jawab Karren.
Gibran terkekeh mendengar jawaban Karren.
"Percaya diri sekali kamu, emang kamu yakin kalo kamu dan dia bisa bersama?" tanya Gibran.
"Engga juga, saya kan bilang kalo dia hanya calon, belum tentu jadi juga kan?" balas Karren.
Senyum sinis di wajah Gibran mendadak hilang saat mendengar ucapan Gibran, lalu Gibran kembali menatap tajam ke arah Karren.
"Jangan berpakaian seperti ini lagi mulai besok! Para mahasiswa dan dosen akan berfikir yang tidak-tidak tentang kamu kalau kamu terus berpenampilan seperti itu!" tegas Gibran.
“Orang tua saya mengajarkan saya untuk bersikap bodo amat kepada orang yang tidak menguntungkan untuk saya, semua orang punya sikap iri, dengki, dan mereka juga bisa membenci apapun yang kita lakukan.” Jelas Karren.
“Kalau saya terus mendengarkan omongan mereka, saya tidak akan bebas melakukan apapun karena takut dengan pendapat mereka, dan semua itu sama sekali tidak akan membuat saya bahagia.”
“Selama saya tidak melakukan hal yang merugikan orang lain tidak masalah bukan? Lagi pula semakin banyak orang yang membicarakan kita bukankah semakin banyak kita mendapat pahala? Hihihi, mereka juga tidak akan mengurangi kekayaan kita bukan?” Ucap Karren sambil terkekeh.
Gibran tidak percaya kalau Karren memiliki pemikiran yang dewasa seperti itu, sedangkan dia terlalu mengkhawatirkan pandangan orang kepada Karren dan juga dirinya.
“Sudah tidak ada lagi kan pak? Kalo gitu saya pergi dulu karena teman-teman saya sudah menunggu saya di kantin.” Ucap Karren.
Gibran hanya mengangguk mengiyakan ucapan Karren, sedangkan Karren tersenyum sambil berpamitan kepada Gibran.
Karren segera keluar dari ruangan Gibran menuju kantin, di kantin teman-temannya sudah menunggu Karren.
“Gimana beb? Lo di apain aja sama si doskill?” tanya Kevin saat Karren baru saja duduk di sebelahnya.
“Ga di apa-apain lah, gue di lawan! Gue ini bisa membuat orang yang mau marah ga jadi marah loh.” Ucap Karren dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
“Dih kepedean lo!” ketus Silvia yang di balas tatapan tajam dari Karren.
“Eh, eh, besok bakal ada mahasiswa baru loh.” Ucap Darren dengan bersemangat.
“Kenapa emang kalo ada mahasiswa baru? Mau tepe tepe lo?” tanya Silvia.
“Tepe, tepe? Apaan tuh? Gue mah sukanya gr3p3 gr3p3 hahaha.” Balas Darren.
“Ngeres pikiran lo jir! Gue bilangin nyokap lo abis lo!” ketus Karren.
“Weehhh ampun bang jago!” sahut Darren yang masih tertawa.
“Tepe tepe tuh tebar pesona! Lo mau nyari mangsa baru bro?” tanya Kevin.
“Ya boleh lah iseng-iseng berhadiah kan? Lo mau ikut ga Vin?” tanya Darren.
“Engga ah, gue kan udah ada bebeb Karren, nanti dia ngamok kasian sama ciwi ciwi dede angkatan kita bisa bisa di amuk sama bebeb gue.” Balas Kevin.
“Gue ga pernah ngelarang lo cari cewe lain loh Vin, yang penting tuh cewek bener terus ga nyebelin.” Sahut Karren.
Darren dan Silvia hanya menggelengkan kepala melihat Kevin dan Karren yang malah memulai perdebatan rumah tangganya.
“Eh, gue di suruh jadi ketua BEM bayangan nih.” Ucap Darren.
“Maksudnya? Apaan sih lo ga ada pantes-pantesnya jadi ketua BEM jir!” ucap Silvia.
“Serius gue, kan ketua BEM fakultas sohib gue jadi dia nyuruh gue buat jadi ketua BEM sementara soalnya dia ada acara selama ospek nanti.” Jelas Darren.
“Kalo lo jadi ketua Bem bisa-bisa semua mahasiswi baru jadi gebetan lo Ren.” Sahut Silvia.
“Lo sewot aja deh, cemburu ya lo?” goda Darren.
“Dih, amit-amit.” Sahut Silvia sambil mengelus-elus perutnya.
“Terus cewek lo yang kemaren gimana?” tanya Karren tiba-tiba membuat semua orang menoleh ke arah Darren karena mereka juga baru ingat kalau Darren baru saja berkencan kemarin.
“Udah putus gue, bosen ah dia mauan banget, gue pegang dikit eh udah nyosor, gue kan ga suka tuh cewek yang kayak begitu.” Jawab Darren.
Karren, Kevin dan Silvia sudah tidak aneh mendengar ucapan Darren, karena memang Darren mudah sekali bosan jika berkencan dengan wanita, itulah kenapa Darren seringkali gonta ganti wanita.
__ADS_1