DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA

DOSEN CINTA KARREN ADIBRATA
BAB 92 (NENEK GAYUNG)


__ADS_3

Hari ini Karren sudah berada di ruang makan bersama kedua orang tuanya menikmati sarapan pagi mereka seperti biasanya.


“Ren, hari ini kamu pulang kuliah jam berapa?” tanya Key.


“Kayaknya sore deh mam, kemaren ada jam kosong di ganti hari ini.” Jawab Karren.


“Yah, padahal mami mau minta anterin nyalon.”


“Besok aja mam, besok aku cuma kuliah pagi kok.” Balas Karren.


Key hanya menghela nafas pasrah lalu mengangguk mengiyakan ucapan putrinya.


“Sama aku aja sayang.” Ucap Bernard.


“Ga mau! Yang ada telinga aku sakit dengerin kamu ngomel-ngomel, kamu kan ga pernah mau di suruh nunggu aku nyalon.” Ketus Key.


Karren hanya tersenyum mendengar perdebatan orang tuanya lalu dia segera berpamitan karena dia sudah selesai menghabiskan sarapannya.


***


Kelas baru saja berakhir, Karren melangkah menuju toilet untuk mencuci wajahnya karena matanya sudah tidak bisa terbuka karena mengantuk.


Sejak makan siang tadi dan sampai saat ini sudah sore hari, Karren memang terus menguap dan sekarang adalah puncaknya.


Ingin sekali rasanya Karren pulang dan tidur, tapi sayangnya dia masih harus menunggu Gibran yang masih mengajar.


Berangkat dan pulang bersama Gibran memang tak selamanya indah. Seperti sekarang ini, jam tidur siang Karren harus terpotong bahkan kadang hilang karena Gibran sering pulang hampir maghrib.


Rasanya Karren ingin sekali pulang bersama Darren, tapi Gibran pasti tidak akan mengijinkannya. Entah kenapa pikiran Gibran terlalu suudzon karena dia berpikir kalau Karren akan nongkrong bersama Kevin juga, padahal tujuan utama Karren hanyalah tempat tidur.


Karren masuk ke dalam toilet, di saat seperti ini bayangan nenek gayung dan teman-temannya terngiang-ngiang di otak Karren membuat Karren merinding.


“Permisi nek, mbah, kek..” ucap Karren perlahan sambil melihat sekeliling berharap agar tidak mendapat balasan dari salamnya barusan.

__ADS_1


Karren menghidupkan keran wastafel dan mulai mencuci wajahnya dengan air yang mengalir, dan saat ini wajahnya terasa segar dan rasa kantuknya pun hilang.


Saat membuka kedua matanya, Karren terkejut saat melihat sosok perempuan yang sedang berdiri di belakangnya.


“Astaghfirullah! Nenek gayung!” teriak Karren.


Lalu beberapa detik kemudian dia langsung menutup mulutnya yang kadang memang terlalu jujur. Setelah sosok itu berjalan mendekat, barulah Karren sadar kalau yang dia lihat bukanlah nenek gayung melainkan Sarah dengan rambut panjangnya yang terurai.


 Karren dengan cepat berbalik, dia mengeurtkan keningnya saat melihat Sarah mulai mendekatinya, tatapannya sangat tajam membuat Karren ngeri.


Jangan sampai  kalau hidupnya akan berakhir di toilet. Sangat tidak keren jika Karren ujung-ujungnya menjadi hantu toilet.


Kalau menjadi hantu toilet sangat tidak seru karena toilet sangat bau dan kotor, lebih baik kalau dia menjadi hantu mall, bisa di pastikan kalau dia akan berkeliling melihat edisi terbaru setiap harinya.


“Kamu panggil saya nenek gayung?” tanya Sarah yang terus melangkah mendekati Karren.


“M-maaf bu, saya tadi refleks, saya lagi pikirin hantu jadi pas lihat ibu saya jadi kaget.” Jawab Karren.


Di sini kedudukan Karren hanyalah sebagai mahasiswa, dia tidak mau mendapatkan masalah jika melawan Sarah yang berstatus sebagai dosennya.


Karren mengepalkan kedua tangannya, dia kesal dengan ucapan Sarah yang sangat tidak mencerminkan statusnya sebagai dosen.


“Maksud ibu apa?” tanya Karren yang saat ini berani menatap tajam ke arah Sarah.


“Saya tidak suka berbasa-basi, saya hanya ingin kamu menjauhi Gibran jika ingin keluar dari sini dengan selamat.” Ucap Sarah yang membuat Karren terkejut dan mengerutkan keningnya.


Walaupun terkejut Karren tetap berusaha untuk bersikap santai karena dia tau Sarah hanya menggretaknya saja.


“Seharusnya saya yang bicara seperti itukepada ibu, berhenti mengejar calon suami saya!” tegas Karren.


Amarah Sarah semakin membara mendengar Karren mengatakan hal itu, dia mengepalkan kedua tangannya dan semakin menatap tajam ke arah Karren.


“Berani sekali kamu melawan saya! Asal kamu tau, Gibran sudah dekat dengan saya sejak kami SMA, seharusnya saya yang menjadi pasangan Gibran, tapi karena wanita penggoda seperti kamu, dia sekarang menjauhi saya!” ketus Sarah dengan penuh amarah.

__ADS_1


Karren menyilangkan tangannya di dada, dia yang tadi di kuasai emosi sekarang mulai bisa bersikap lebih santai.


“Kenapa ibu menyalahkan saya? Kalau mas Gibran memang jodoh ibu, sudah dari dulu kalian bersama.” Ucap Karren dengan santainya.


“Sayangnya mas Gibran itu jodoh saya dan dia lebih memilih jomblo sebelum bertemu dengan saya, padahal bisa saja dia jadian dengan ibu dulu kalau dia mau.” Lanjutnya.


“Perasaan itu tidak bisa di paksakan bu, saya harap ibu bisa merelakan mas Gibran bersama dengan saya.” Ucap Karren sebagai penutup.


“Tidak akan pernah! Saya tidak akan pernah rela Gibran menikah dengan kamu! Untuk itusaya akan menghabisi kamu.” Ucap Sarah yang membuat Karren mulai takut dan berencana untuk keluar dari toilet itu.


Namun belum sempat Karren lari, Sarah sudah lebih dulu mencekik lehernya. Wanita yang ada di hadapan Karren saat ini benar-benar sedang kerasukan karena dia tidak memikirkan apa akibat yang akan dia dapatkan dari perbuatannya.


Yang Sarah inginkan hanyalah menghabisi Karren secepatnya, dia sudah tidak memikirkan pekerjaannya sebagai dosen dan nama baiknya lagi.


Mulut Karren terbuka lebar dengan kepala yang mendongak ke atas. Dia ingin berteriak minta tolong tapi tidak bisa karena cekikan Sarah di lehernya.


Karren berusaha sekuat tenaga untuk lepas dari cekikan Sarah, namun Sarah yang sedang di kuasai amarah itu malah mencekik Karren lebih kuat lagi.


Sangking kuatnya cengkraman Sarah di leher Karren, Karren sampai merasa kalau kuku-kuku Sarah menusuk kulit lehernya.


Namun saat merasakan kuku Sarah menusuk lehernya membuat Karren ingat kalau dia juga memiliki kuku yang panjang.


Karren menggunakan kukunya untuk melukai tangan Sarah agar segera lepas dari lehernya.


Karren berhasil melukai lengan Sarah bahkan sampai berdarah. Sarah yang melihat darah di tangannya karena ulah Karren menjadi semakin marah.


Tanpa berpikir panjang dia membenturkan kepala Karren ke dinding dengan sangat keras.


“AAARRGGHH!!!” teriak Karren dengan kencang saat merasakan kepalanya sangat sakit seperti akan pecah.


Karren merasa sesuatu mengalir di kepalanya, dia meraba kepalanya dan darah terlihat dijari-jarinya.


Seketika pandangan Karren mulai mengabur lalu sedetik kemudian semuanya menjadi gelap dan tubuhnya terjatuh di lantai.

__ADS_1


Karren kehilangan kesadarannya, andai saja Karren masih sadar pasti dia tidak mau tergeletak di lantai toilet yang banyak kumannya seperti itu.


Namun saat itu Karren tidak bisa melakukan apa-apa, kesadarannya menghilang saat itu juga dan darah terus mengalir dari kepalanya.


__ADS_2